<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ekonomi Rakyat</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/ekonomi-rakyat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Nov 2025 13:54:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Ekonomi Rakyat</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membangun Indonesia dari Akar Masalah: Saatnya Mengakhiri Serakahnomics dan Menata Ulang Kesejahteraan Bangsa</title>
		<link>https://pers.news/2025/11/26/membangun-indonesia-dari-akar-masalah-saatnya-mengakhiri-serakahnomics-dan-menata-ulang-kesejahteraan-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2025 13:54:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[eksploitasi SDA]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia adil dan sejahtera]]></category>
		<category><![CDATA[kartel pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan publik]]></category>
		<category><![CDATA[kesenjangan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ketimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[LMND]]></category>
		<category><![CDATA[pembangunan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[pemberdayaan rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[pemerataan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[rente ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[serakahnomics]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8765</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : MUH.ISNAIN MUKADAR JAKARTA&#124;PERS.NEWS-Kemiskinan di Indonesia sering kali digambarkan sebagai konsekuensi dari nasib buruk,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : MUH.ISNAIN MUKADAR</p>
<p><strong>JAKARTA|PERS.NEWS-</strong>Kemiskinan di Indonesia sering kali digambarkan sebagai konsekuensi dari nasib buruk, kurangnya pendidikan, atau minimnya kesempatan.</p>
<p>Namun kenyataan yang lebih pahit sering kali tersembunyi di bawah permukaan: kemiskinan bukanlah bawaan dari rakyat yang malas atau tidak berdaya, melainkan hasil dari sebuah sistem ekonomi yang tidak adil.</p>
<p>Sistem yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai Serakahnomics—sebuah tatanan ekonomi yang dibangun di atas keserakahan struktural.</p>
<p>Serakahnomics bukan sekadar perilaku individu yang ingin menguasai lebih banyak kekayaan. Ia adalah sebuah pola, sebuah mesin yang bekerja rapi dan terorganisir dalam struktur ekonomi kita.</p>
<p>Ia hidup di dalam aktivitas rente yang menghambat kompetisi sehat. Ia bersembunyi di balik kartel yang menentukan harga kebutuhan pokok seolah mereka adalah penguasa tunggal perut rakyat.</p>
<p>Ia tumbuh subur ketika eksploitasi sumber daya alam hanya mengalirkan keuntungan pada segelintir orang, sementara masyarakat sekitar tetap miskin dan terpinggirkan di tanahnya sendiri.</p>
<p>Dalam sistem seperti ini, rakyat kecil seakan hanya menjadi penonton dalam panggung ekonomi, bukan aktor utama yang seharusnya mendapatkan manfaat dari kekayaan negeri. Kita dipaksa menerima bahwa ada yang sangat kaya dan ada yang sangat miskin—dan itu dianggap wajar. Padahal, struktur inilah yang terus-menerus memproduksi kemiskinan secara sistematis.</p>
<p>Untuk keluar dari lingkaran ini, kita perlu keberanian melihat akar persoalan, bukan hanya menghitung berapa banyak yang miskin atau berapa banyak bantuan sosial yang dibagikan.</p>
<p>Selama kebijakan ekonomi hanya mengobati gejalanya tanpa memutus sumber penyakitnya, maka kemiskinan akan terus beregenerasi dari waktu ke waktu—seperti pohon yang dipangkas daunnya namun akarnya dibiarkan kuat di tanah.</p>
<p>Mengakhiri Serakahnomics berarti :</p>
<p>• Menghentikan praktik ekonomi yang memonopoli akses pangan dan kebutuhan pokok</p>
<p>• Menindak para penguasa rente yang menghisap keuntungan tanpa memberikan nilai tambah pada perekonomian</p>
<p>• Mengembalikan sumber daya alam sebagai milik dan manfaat bagi rakyat banyak</p>
<p>• Membuat kebijakan anggaran negara yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan publik</p>
<p>• Memberdayakan ekonomi rakyat sebagai fondasi kedaulatan ekonomi nasional</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun membongkar sistem yang telah menggurita selama puluhan tahun bukan perkara mudah. Ia membutuhkan kekuatan politik yang berpihak pada rakyat, keberanian moral untuk menghadapi kelompok-kelompok kepentingan besar, serta kesadaran kolektif bahwa kita layak mendapatkan masa depan yang lebih setara.</p>
<p>Indonesia adalah negeri yang kaya—kaya air, kaya tanah, kaya budaya, kaya tenaga manusia yang berjuang setiap hari. Yang selama ini miskin bukan kemampuan kita, melainkan akses kita terhadap kekayaan itu. Ketimpangan bukan terjadi karena rakyat kurang berusaha, tetapi karena kesempatan tidak dibagi secara adil.</p>
<p>Kini, kesadaran untuk mengubah arah pembangunan ekonomi mulai tumbuh. Semakin banyak pihak yang menuntut agar pembangunan tidak hanya menguntungkan konglomerasi, melainkan mengangkat harkat rakyat di desa dan kota.</p>
<p>Semakin kuat suara yang menyerukan agar pemerintah tidak lagi tunduk pada kepentingan para pelaku ekonomi yang rakus, melainkan benar-benar menjadi pelindung kepentingan bersama.</p>
<p>Mengatasi kemiskinan bukan sekadar menyuntik bantuan, melainkan membebaskan rakyat dari struktur yang mengekang mereka. Bukan sekadar memberi kail atau ikan, tetapi memastikan sungai dan lautnya tidak dikuasai para pemodal.</p>
<p>Indonesia hanya bisa maju jika semua rakyatnya terlibat dalam kemajuan itu. Kita hanya akan sejahtera jika sistem ekonomi yang dibangun mengalirkan kesejahteraan ke semua lapisan, bukan hanya mengumpulkannya di puncak piramida sosial.</p>
<p>Saatnya kita memandang kemiskinan bukan sebagai masalah individu, tetapi sebagai masalah struktur. Saatnya kita membangunkan kesadaran bahwa perubahan sejati lahir dari keberanian menantang ketidakadilan yang sudah dianggap biasa. Dan saatnya kita menata ulang fondasi ekonomi bangsa ini agar berpihak pada mereka yang selama ini hanya menjadi penyangga namun tak pernah ikut menikmati hasilnya.</p>
<p>Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan rakyatnya tertinggal dalam penderitaan. Dengan menumbangkan Serakahnomics dari akar-akarnya, kita dapat membuka jalan menuju Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat—untuk semua, bukan hanya untuk segelintir.(red)</p>
<p>SUMBER : MUH.ISNAIN MUKADAR  KETUA UMUM EN-LMND</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masyarakat Keluhkan Proses Pengajuan Pinjaman di BRI Unit Tanjung Ledong</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/29/masyarakat-keluhkan-proses-pengajuan-pinjaman-di-bri-unit-tanjung-ledong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 13:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[BRI]]></category>
		<category><![CDATA[BRI Tanjung Ledong]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[KUR]]></category>
		<category><![CDATA[Labuhanbatu Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Nasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[Pers.news]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Balai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8228</guid>

					<description><![CDATA[Labuhanbatu Utara&#124;PERS.NEWS- Dengan mengusung slogan “Melayani Setulus Hati”, masyarakat berharap pelayanan di Bank Rakyat Indonesia...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Labuhanbatu Utara|PERS.NEWS-</strong> Dengan mengusung slogan “Melayani Setulus Hati”, masyarakat berharap pelayanan di Bank Rakyat Indonesia (BRI) berjalan cepat dan transparan. Namun, sejumlah warga di Kecamatan Tanjung Ledong, Kabupaten Labuhanbatu Utara, mengaku kecewa karena merasa mengalami kendala dalam proses pengajuan pinjaman di BRI Unit Tanjung Ledong, Cabang Tanjung Balai.(29/10/25)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah seorang warga Kelurahan Tanjung Ledong, berinisial YU, mengungkapkan kepada wartawan bahwa pengajuan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) miliknya belum juga terealisasi hingga kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya sudah mengajukan pinjaman sejak September lalu. Sudah disurvei oleh mantri bernama Samson Samosir, dan katanya nama saya bersih, tidak ada masalah di BI Checking. Tapi sampai sekarang belum ada kabar pencairan,” ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>YU juga mengaku telah berupaya menghubungi pihak BRI untuk menanyakan kelanjutan proses pengajuannya. Namun, menurutnya, komunikasi dengan petugas sulit dilakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya sudah coba hubungi mantri, tapi telepon saya tidak diangkat. Saya juga sudah datang langsung ke kantor unit, tapi belum mendapat penjelasan yang jelas,” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, HM (60), warga Desa Sei Apung. Ia mengatakan telah mengajukan pinjaman melalui anaknya, namun hingga kini belum mendapatkan kepastian pencairan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Orang tua saya sudah disurvei, dan katanya semua data bersih. Tapi pinjaman tidak juga dicairkan. Kami hanya ingin tahu apa alasannya,” ungkap anak HM kepada wartawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurutnya, pihak keluarga juga berharap apabila permohonan pinjaman tidak dapat disetujui, sebaiknya berkas pengajuan dapat dikembalikan agar masyarakat bisa mengajukan kembali di waktu lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga berita ini diterbitkan, Kepala BRI Unit Tanjung Ledong, Agus Salim, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan terkait keluhan masyarakat tersebut. Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp kepada pihak BRI, termasuk kepada mantri bernama Samson Samosir, juga belum mendapatkan jawaban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masyarakat berharap pihak BRI Unit Tanjung Ledong dapat memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kepercayaan nasabah tetap terjaga.(AGB)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
