<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ILHAM HAZFI BATUBARA &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/ilham-hazfi-batubara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Oct 2025 07:04:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>ILHAM HAZFI BATUBARA &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Jurnalis:Menjaga Kesadaran Bangsa</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/28/sumpah-pemuda-dan-tanggung-jawab-jurnalismenjaga-kesadaran-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 07:04:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ILHAM HAZFI BATUBARA]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8183</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ilham hazfi batubara  &#160; MEDAN &#124;PERS.NEWS- Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang tiga kalimat...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ilham hazfi batubara </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN |PERS.NEWS-</strong> Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang tiga kalimat yang menyatukan Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.</p>
<p>Sumpah Pemuda tahun 1928 bukan sekadar seremonial sejarah. Ia adalah tanda bahwa anak muda saat itu sadar, kekuatan bangsa lahir dari persatuan dan kesadaran bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, hampir seabad kemudian, semangat itu harus kita hidupkan kembali — terutama oleh para jurnalis. Jika dulu pemuda menyatukan bangsa lewat semangat perjuangan, maka jurnalis hari ini menyatukan bangsa lewat berita dan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Media dan Semangat Persatuan di Era Digital</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya satu bahasa, satu suara untuk kemajuan bangsa. Dalam dunia media, itu berarti menjaga ruang publik dari hoaks, ujaran kebencian, dan berita yang memecah belah.</p>
<p>Di tengah derasnya arus informasi, tugas jurnalis kini bukan hanya cepat menulis, tapi bijak memilah dan menjernihkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebebasan pers adalah warisan perjuangan panjang. Namun di era media sosial, siapa pun bisa menyebarkan “berita” tanpa tanggung jawab. Maka, jurnalis sejati dituntut tetap berpegang pada etika, integritas, dan akurasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jurnalis, Penjaga Akal Sehat Publik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemuda 1928 menyatukan bangsa dengan semangat berpikir dan berani bersuara. Kini jurnalis memikul tanggung jawab serupa — menjaga nalar publik lewat informasi yang jujur dan mencerahkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi jurnalis bukan berarti berpihak pada pemerintah atau oposisi, tetapi berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat.</p>
<p>Jurnalis yang berani mengkritik demi kebaikan bersama adalah bentuk nyata dari semangat Sumpah Pemuda di masa kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa yang Menyatukan, Bukan Memecah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di zaman sekarang, berita bisa menjadi alat persatuan atau justru sumber perpecahan. Banyak media terjebak dalam polarisasi — ada yang condong ke politik, ada yang terperangkap kepentingan bisnis.</p>
<p>Padahal, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan: satu bahasa untuk persatuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam dunia jurnalisme, “satu bahasa” itu berarti bahasa yang menyejukkan, cerdas, dan membangun, bukan yang menyalakan api kebencian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penutup: Pena yang Menyatukan Bangsa</p>
<p>Sumpah Pemuda adalah semangat yang tak boleh padam. Ia hidup di setiap berita yang jujur, di setiap kalimat yang menyuarakan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi jurnalis berarti memegang pena yang bisa menyatukan atau memecah bangsa.</p>
<p>Maka, di tengah derasnya arus informasi, jurnalis harus menjadi kompas moral — memastikan Indonesia tetap berjalan di jalur persatuan dan kebenaran.(IHB)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan yang Berfokus pada Keberanian dan Bukan Angka</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/14/pendidikan-yang-berfokus-pada-keberanian-bukan-angka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 08:27:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[ILHAM HAZFI BATUBARA]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[mengubah paradigma pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi mental]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=7818</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ilham Hazfi Batubara MEDAN&#124;PERS.NEWS &#8211; Sistem pendidikan kita saat ini lebih fokus pada pencapaian...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh:</p>
<p style="text-align: center;">Ilham Hazfi Batubara</p>
<hr />
<p>MEDAN|PERS.NEWS &#8211; Sistem pendidikan kita saat ini lebih fokus pada pencapaian akademis daripada pengembangan keterampilan hidup yang nyata. Anak-anak diajarkan untuk mendapatkan nilai tinggi dan menghafal rumus.</p>
<p>Akan tetapi tetapi jarang diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan dan mengembangkan mental yang tangguh. Namun, sangat jarang mereka diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan, padahal hidup nyata justru penuh dengan jatuh bangun.</p>
<p>Inilah salah satu ironi pendidikan: kita dibentuk untuk takut salah, bukan untuk belajar dari kesalahan. Akibatnya, banyak anak tumbuh kembangnya dalam keadaan mental yang rapuh; mereka kerap sekali merasa gagal dan menyalahkan diri sendiri. Pada dasarnya, kegagalan adalah bagian wajar dari proses menuju sukses; di balik itu juga terbentuk kesabaran, ketekunan, dan kreativitas.</p>
<p>Sekolah boleh jadi berhasil mencetak anak-anak pintar secara akademis, tetapi gagal membentuk pribadi tangguh yang siap menghadapi kerasnya dunia yang setiap hari penuh dengan tanda tanya.</p>
<p>Sekolah harus memberikan ruang bagi anak untuk gagal dan mengajarkan cara bangkit kembali. Pelajaran di sekolah harus lebih fokus pada pengembangan keterampilan hidup, bukan hanya penguasaan materi akademis.</p>
<p>Kita perlu mengubah paradigma pendidikan kita. Belajar bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal keberanian untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Dengan demikian, kita dapat membentuk generasi yang tangguh, mandiri, dan siap mengubah dunia. (IHB)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
