<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islam &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2026 12:22:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Islam &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>EW Gurky Ajak Generasi Muda Binjai Cintai dan Makmurkan Masjid</title>
		<link>https://pers.news/2026/09/05/ew-gurky-ajak-generasi-muda-binjai-cintai-dan-makmurkan-masjid/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2026 12:22:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[EW Gurky]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Qur'ani]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Binjai]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda Binjai]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13812</guid>

					<description><![CDATA[BINJAI&#124;PERS.NEWS— Tokoh pemuda Kota Binjai, EW Gurky, mengajak generasi muda untuk semakin mencintai masjid dan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BINJAI|PERS.NEWS—</strong> Tokoh pemuda Kota Binjai, EW Gurky, mengajak generasi muda untuk semakin mencintai masjid dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Ajakan tersebut disampaikan EW Gurky saat mengapresiasi hadirnya buku *Candu Masjid* karya H. M. Naviri Syafril, S.Pd.I., M.Pd.I. Menurutnya, buku tersebut sarat dengan nilai-nilai keislaman yang dapat menjadi motivasi bagi umat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p>
<p>EW Gurky menilai, masjid tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat melaksanakan ibadah. Lebih dari itu, masjid memiliki peran strategis sebagai ruang pembinaan, pendidikan, sekaligus tempat tumbuhnya generasi muda yang memiliki iman dan kepedulian sosial.</p>
<p>“Masjid harus menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang beriman, berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujar EW Gurky.</p>
<p>Ia berharap keberadaan masjid di Kota Binjai semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk beraktivitas secara positif sehingga masjid dapat menjadi rumah spiritual sekaligus pusat pembinaan karakter.</p>
<p>EW Gurky mengajak para pemuda agar tidak ragu menjadikan masjid sebagai tempat untuk memperkuat keimanan, memperluas ilmu pengetahuan, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>“Mari kita tumbuhkan rasa cinta kepada masjid. Jadikan langkah kaki kita menuju masjid sebagai langkah mendekat kepada Allah SWT,” katanya.</p>
<p>Ia menegaskan, masjid yang ramai oleh generasi muda merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan umat. Dari lingkungan masjid, kata dia, dapat lahir generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai agama, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>“Masjid harus ramai oleh generasi muda, karena dari masjid kita membangun generasi yang Qur’ani dan berakhlakul karimah,” ujarnya.</p>
<p>Menurut EW Gurky, kecintaan terhadap masjid juga perlu ditanamkan sejak dini. Anak-anak dan remaja perlu diperkenalkan dengan masjid sebagai tempat yang nyaman untuk belajar agama, bersosialisasi, dan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.</p>
<p>Ia juga mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, masjid diharapkan mampu menjadi ruang yang memberikan ketenangan sekaligus membekali anak muda dengan nilai moral dan keagamaan.</p>
<p>Karena itu, kegiatan kepemudaan, kajian, pendidikan Al-Qur’an, hingga kegiatan sosial di lingkungan masjid perlu terus dikembangkan. Masjid diharapkan tidak hanya hidup saat waktu salat, tetapi juga menjadi pusat kegiatan positif yang melibatkan generasi muda.</p>
<p>EW Gurky berharap semangat tersebut tidak berhenti pada ajakan, tetapi diwujudkan melalui gerakan nyata. Ia mendorong pemuda Binjai untuk mengambil peran dalam memakmurkan masjid, membangun kebersamaan, serta menghadirkan berbagai kegiatan positif yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Menurutnya, ketika pemuda dan masjid berjalan bersama, akan terbentuk kekuatan sosial yang mampu melahirkan generasi penerus yang berkarakter, berilmu, dan bertanggung jawab.</p>
<p>“Pemuda cinta masjid, pemuda cinta Al-Qur’an, pemuda dekat dengan Allah SWT,” katanya.</p>
<p>EW Gurky berharap semangat memakmurkan masjid dapat menjadi gerakan bersama di Kota Binjai. Dengan keterlibatan generasi muda, ia meyakini masjid dapat kembali memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan moral generasi penerus.</p>
<p>“Mari makmurkan masjid dan jadikan masjid sebagai tempat lahirnya generasi Islam yang kuat,” pungkasnya.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Garis Tangan: Antara Langkah dan Takdir</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/30/garis-tangan-antara-langkah-dan-takdir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2025 12:36:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Garis Tangan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kepasrahan]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasmaul Hamdani]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8247</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nasmaul Hamdani &#160; &#8220;Antara Keyakinan dan Kepasrahan&#8221; MEDAN&#124;PERS.NEWS-Dalam budaya kita, kepercayaan terhadap “garis tangan”...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Nasmaul Hamdani</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Antara Keyakinan dan Kepasrahan&#8221;</p>
<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Dalam budaya kita, kepercayaan terhadap “garis tangan” telah mengakar begitu lama. Guratan di telapak tangan sering dianggap sebagai cerminan nasib—penentu umur panjang, rezeki, bahkan jodoh. Tak jarang, ketika seseorang gagal dalam usaha atau hidup dalam keterbatasan, kalimat “memang sudah garis tangan saya” terlontar begitu saja.(30/10/25)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ungkapan itu terdengar pasrah, namun di baliknya tersimpan dilema: benarkah garis tangan menentukan jalan hidup, ataukah manusia sendirilah yang mengukir garisnya melalui langkah dan pilihan?</p>
<p>&#8220;Garis yang Sama, Langkah yang Berbeda&#8221;</p>
<p>Kita kerap lupa pada kenyataan sederhana: garis tangan mungkin tetap, tetapi kehidupan bisa berubah. Seorang anak buruh bisa menjadi sarjana, bahkan pemimpin, bila ia berani melangkah keluar dari garis keterbatasan. Sebaliknya, ada yang lahir dalam kemudahan, namun hidupnya stagnan karena tak pernah berjuang.</p>
<p>Contoh-contoh seperti ini nyata di sekitar kita. Mereka yang memilih melangkah dengan tekad membuktikan bahwa takdir bukan belenggu, melainkan ruang bagi manusia untuk berusaha. Garis tangan bisa jadi simbol potensi, namun hasil akhirnya ditulis oleh langkah yang kita ambil.</p>
<p>&#8220;Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti&#8221;</p>
<p>Dalam pandangan Islam, takdir bukan berarti menyerah pada keadaan. Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Beramallah, karena setiap orang dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya.”</p>
<p>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Artinya, meski takdir Allah telah digariskan, manusia tetap diberi ruang untuk berikhtiar. Namun, sebagian orang justru menjadikan takdir sebagai alasan untuk berhenti. Ketika gagal, mereka menyalahkan nasib; ketika malas berusaha, mereka bersembunyi di balik kalimat “sudah ditentukan.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Padahal, sikap seperti itu bukan bentuk tawakal, melainkan keputusasaan yang halus. Tuhan tidak pernah meminta manusia berhenti berjuang—justru di situlah ujian iman dan kesungguhan berada.</p>
<p>&#8220;Membaca Garis Tangan, Menafsirkan Kehidupan&#8221;</p>
<p>Garis tangan, bila dimaknai lebih dalam, bukan sekadar ramalan nasib. Ia adalah simbol perjalanan hidup: penuh liku, tak selalu lurus, namun selalu memberi arah. Setiap belokan dan cabang kecil di telapak tangan bisa diibaratkan sebagai pilihan yang kita hadapi setiap hari—antara menyerah atau melangkah, diam atau bergerak, pasrah atau percaya.</p>
<p>Ketika seseorang memilih untuk terus berjalan, bahkan dalam keadaan paling sulit, ia sedang menulis ulang makna garis tangannya. Hidupnya tidak diatur oleh ramalan, tetapi oleh keputusan-keputusan kecil yang ia buat setiap hari—untuk belajar, bekerja, memaafkan, dan berbuat baik.</p>
<p>&#8220;Langkah yang Mengubah Takdir&#8221;</p>
<p>Takdir memang tak bisa dihapus, tetapi bisa ditafsirkan melalui tindakan. Seorang nelayan tidak dapat mengubah arah ombak, namun ia bisa menyesuaikan layar agar sampai ke tujuan. Begitu pula manusia—tak bisa menolak ketetapan Tuhan, tetapi bisa memilih bagaimana meresponsnya.</p>
<p>Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil: keberanian mencoba lagi setelah gagal, keyakinan untuk tetap jujur di tengah tekanan, atau kesediaan bersyukur di tengah kekurangan. Di sanalah manusia menulis ulang garis hidupnya dengan tinta perjuangan.</p>
<p>&#8220;Menatap Telapak Tangan, Bukan untuk Meramal&#8221;</p>
<p>Kini, saat kita menatap telapak tangan sendiri, jangan lagi mencari ramalan. Lihatlah ia sebagai pengingat bahwa hidup ini sudah penuh garis—tetapi belum tentu penuh makna. Setiap goresan baru yang lahir dari kerja keras, doa, dan keteguhan hati akan memperindah “lukisan” kehidupan kita.</p>
<p>Tuhan tidak menilai garis di tanganmu, melainkan arah langkah yang kau pilih. Sebab sejatinya, garis tangan hanyalah simbol—sedangkan langkahmulah yang menjadi bukti nyata bagaimana manusia menulis takdirnya bersama kehendak Ilahi.(NH)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketua Yayasan Haji Anif, Musa Rajekshah, Resmikan Masjid Al-Musannif ke-58 dan ke-59 di Mandailing Natal</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/25/ketua-yayasan-haji-anif-musa-rajekshah-resmikan-masjid-al-musannif-ke-58-dan-ke-59-di-mandailing-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 07:59:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Sumut]]></category>
		<category><![CDATA[Ijeck]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Madina]]></category>
		<category><![CDATA[Mandailing Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Al Musannif]]></category>
		<category><![CDATA[Musa Rajekshah]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera utara]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Haji Anif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8131</guid>

					<description><![CDATA[“Mari Kita Makmurkan Masjid; Jadikan Sebagai Pusat Ibadah dan Persaudaraan” &#160; Mandailing Natal&#124;PERS.NEWS&#8211; 25 Oktober...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Mari Kita Makmurkan Masjid; Jadikan Sebagai Pusat Ibadah dan Persaudaraan”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mandailing Natal|PERS.NEWS</strong>&#8211; 25 Oktober 2025 Ketua Yayasan Haji Anif, Dr. H. Musa Rajekshah, M.Hum., meresmikan dua masjid baru, masing-masing Masjid Al-Musannif di Desa Singkuang I dan Masjid Al-Musannif di Desa Sikapas, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), pada Kamis (23/10/2025).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua masjid ini menjadi Masjid Al-Musannif ke-58 dan ke-59 dari total 99 Masjid Al-Musannif yang direncanakan berdiri di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sambutannya, Musa Rajekshah — yang akrab disapa Ijeck — menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar kehadiran masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan kebersamaan umat di lingkungan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat kita mempererat ukhuwah; menanamkan nilai keikhlasan; dan membina generasi yang berakhlak,” ujar Ijeck.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menegaskan komitmen Yayasan Haji Anif untuk terus berkontribusi dalam pembangunan rumah ibadah sebagai wujud nyata dari semangat berbagi dan kepedulian sosial keluarga besar Haji Anif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Program 99 Masjid Al-Musannif ini bukan sekadar pembangunan fisik; tetapi juga ikhtiar untuk membangun peradaban Islam yang kuat, makmur, dan penuh kasih sayang,” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Musa Rajekshah juga mengajak masyarakat untuk menjaga dan memakmurkan masjid; tidak hanya dengan shalat berjamaah, tetapi juga dengan kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfaat bagi umat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Mari kita makmurkan masjid; jadikan tempat ini sebagai pusat peradaban Islam di desa, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an, dan tempat masyarakat mempererat tali silaturahmi,” katanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Peresmian kedua masjid tersebut disambut antusias oleh masyarakat Desa Singkuang I dan Sikapas. Warga tampak bersyukur dan berterima kasih atas perhatian Yayasan Haji Anif yang konsisten membangun rumah ibadah hingga ke pelosok daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tokoh masyarakat Desa Singkuang I, H. Nasrul Lubis, menyampaikan rasa haru dan apresiasinya atas bantuan pembangunan masjid tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Musa Rajekshah dan Yayasan Haji Anif. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah; tapi juga simbol kebanggaan dan persatuan bagi kami di desa ini,” ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, tokoh agama setempat, Ustaz Ahmad Tanjung, berharap agar masyarakat dapat menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Masjid ini telah dibangun dengan niat mulia. Tugas kita sekarang adalah menghidupkannya dengan kegiatan ibadah, kajian, dan pendidikan agama. Insya Allah, keberkahan akan turun bagi desa ini,” tuturnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai bagian dari program sosial keagamaan, Yayasan Haji Anif berkomitmen menuntaskan pembangunan 99 Masjid Al-Musannif secara bertahap di berbagai daerah di Sumatera Utara dan provinsi lainnya. Dengan berdirinya dua masjid baru di Mandailing Natal ini, diharapkan semangat umat untuk memakmurkan masjid dan mempererat persaudaraan Islam akan semakin tumbuh di tengah masyarakat.(NH)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
