<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kritik Kebijakan &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/kritik-kebijakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Aug 2026 11:43:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Kritik Kebijakan &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peran dan fungsi mahasiswa dalam melakukan social control terhadap kebijakan negara</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/03/peran-dan-fungsi-mahasiswa-dalam-melakukan-social-control-terhadap-kebijakan-negara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2026 11:42:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perguruan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[advokasi]]></category>
		<category><![CDATA[civil society]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Kontrol Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Sipil]]></category>
		<category><![CDATA[partisipasi publik]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Publik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan politik]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[peran mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[social control]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=12888</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Mahara Yulian Nissah Universitas Malikussaleh &#160; ACEH&#124;PERS.NEWS-Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta didik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Mahara Yulian Nissah</p>
<p>Universitas Malikussaleh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ACEH|PERS.NEWS-</strong>Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta didik yang menempuh pendidikan tinggi dan mengejar prestasi akademik. Sebagai kelompok intelektual sekaligus bagian dari masyarakat sipil (civil society), mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk mengawal kehidupan demokrasi, memperhatikan persoalan masyarakat, serta mengawasi arah kebijakan negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sistem demokrasi, setiap kebijakan pemerintah perlu mendapatkan pengawasan agar tetap berorientasi pada kepentingan publik, keadilan, transparansi, dan kesejahteraan masyarakat. Pengawasan tersebut bukan bertujuan menghambat jalannya pemerintahan, melainkan menjadi bagian dari mekanisme demokrasi untuk memastikan bahwa kekuasaan dijalankan secara akuntabel dan setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sinilah mahasiswa menjalankan fungsi *social control* atau kontrol sosial. Dengan bekal pengetahuan dan kemampuan akademik, mahasiswa mampu mengidentifikasi persoalan, melakukan penelitian, menganalisis kebijakan, serta menyampaikan kritik berdasarkan data, fakta, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan tersebut menjadikan mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu mengidentifikasi kelemahan suatu kebijakan sekaligus mendorong lahirnya solusi yang lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, fungsi social control tidak hanya diwujudkan melalui aksi demonstrasi. Demonstrasi memang merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang dijamin dalam sistem demokrasi, tetapi ruang pengawasan mahasiswa jauh lebih luas. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kajian kebijakan, penelitian lapangan, diskusi publik, advokasi, pemantauan pelayanan publik, pendidikan masyarakat, hingga penyusunan rekomendasi yang konstruktif kepada pemerintah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam menjalankan perannya, kritik mahasiswa harus dibangun secara ilmiah dan konstruktif. Kritik tidak cukup hanya berupa penolakan terhadap suatu kebijakan, tetapi harus mampu menjelaskan persoalan yang terjadi, menyajikan bukti yang relevan, menguraikan dampak yang ditimbulkan, serta menawarkan alternatif penyelesaian. Kritik yang berbasis data memiliki kekuatan argumentasi yang lebih kuat dan berpotensi menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan kebijakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa juga perlu membedakan antara kritik terhadap kebijakan dan serangan terhadap individu. Kritik harus diarahkan pada substansi kebijakan, proses pengambilan keputusan, pelaksanaan program, serta dampaknya terhadap masyarakat. Ketegasan dalam menyampaikan aspirasi tetap diperlukan, namun harus disertai etika, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap nilai-nilai demokrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain berperan sebagai pengawas, mahasiswa juga berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat dan negara. Tidak semua lapisan masyarakat memiliki akses, informasi, maupun kesempatan yang sama untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Melalui dialog, survei, kunjungan lapangan, dan forum diskusi bersama masyarakat, mahasiswa dapat menghimpun berbagai persoalan yang kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis kebutuhan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di era digital, peran mahasiswa semakin penting sebagai penyebar informasi publik yang edukatif. Banyak kebijakan pemerintah disusun dalam bahasa hukum dan istilah teknis yang sulit dipahami masyarakat. Mahasiswa dapat membantu menjelaskan substansi kebijakan melalui artikel, diskusi, infografis, media sosial, maupun kegiatan edukasi lainnya. Namun demikian, setiap informasi yang disampaikan harus terlebih dahulu diverifikasi agar tidak memperkuat penyebaran hoaks maupun disinformasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pelaksanaan fungsi *social control* juga menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya budaya literasi dan kajian, maraknya penyebaran informasi yang tidak akurat, politisasi gerakan mahasiswa, hingga munculnya gerakan yang hanya bersifat sesaat atau berorientasi pada momentum tertentu. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memperkuat budaya membaca, meningkatkan kemampuan riset, mengembangkan literasi digital, menjaga independensi, serta membangun gerakan yang berkelanjutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti ketika suatu isu telah menjadi perhatian publik. Pengawasan harus dilakukan secara konsisten, mulai dari mengidentifikasi persoalan, mengumpulkan data, menyampaikan aspirasi, membangun dialog, hingga mengawal implementasi rekomendasi yang telah disampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada akhirnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai peneliti, pengawas, pendidik, penghubung antara masyarakat dan pemerintah, penggerak perubahan, sekaligus pemberi solusi. Seluruh peran tersebut harus dijalankan dengan integritas, independensi, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa yang kritis bukanlah mahasiswa yang selalu menolak setiap kebijakan pemerintah. Mahasiswa yang kritis adalah mereka yang mampu memahami persoalan secara objektif, menguji informasi secara ilmiah, menilai kebijakan berdasarkan fakta, menyampaikan kritik yang bertanggung jawab, serta menawarkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebab, kritik harus memiliki dasar. Aspirasi harus memiliki arah. Gerakan harus memiliki program. Dan pengawasan harus dilakukan secara berkelanjutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan menjalankan fungsi tersebut secara konsisten, mahasiswa dapat menjadi kekuatan moral dan intelektual yang turut menjaga kualitas demokrasi serta mendorong lahirnya kebijakan negara yang lebih adil, transparan, responsif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>EW Gurky: “Jangan Bungkus Ketidakadilan dengan Kata ‘Dialog’”</title>
		<link>https://pers.news/2026/04/14/ew-gurky-jangan-bungkus-ketidakadilan-dengan-kata-dialog/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 19:49:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[EW Gurky]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidakadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Penataan PKL]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=11176</guid>

					<description><![CDATA[BINJAI&#124;PERS.NEWS-Ketua EK LMND BINJAI, EW Gurky, melontarkan kritik tajam terhadap langkah Pemko Binjai dalam penataan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BINJAI|PERS.NEWS-K</strong>etua EK LMND BINJAI, EW Gurky, melontarkan kritik tajam terhadap langkah Pemko Binjai dalam penataan pedagang kaki lima (PKL).</p>
<p>Menurutnya, narasi yang dibangun pemerintah terkesan menutup mata terhadap realitas di lapangan yang masih sarat ketimpangan.</p>
<p>“Jangan bungkus ketidakadilan dengan kata ‘dialog’. Faktanya, penertiban di lapangan masih cenderung menyasar rakyat kecil, sementara pelanggaran lain yang lebih besar justru kerap dibiarkan,” tegasnya.</p>
<p>Ia juga menyoroti bahwa yang turun menemui pedagang bukanlah pimpinan tertinggi daerah.</p>
<p>“Seharusnya Wali Kota Binjai, Amir Hamzah, yang turun langsung menemui pedagang. Jangan hanya diwakilkan. Ini menyangkut hajat hidup rakyat kecil,” ujarnya.</p>
<p>EW Gurky menilai kehadiran Hasanul Jihadi tidak cukup jika tidak diikuti keputusan konkret dan keberpihakan yang jelas.</p>
<p>“Turun ke lapangan itu bukan sekadar formalitas. Kalau hanya diwakilkan tanpa solusi nyata, ini menunjukkan kurangnya keseriusan,” lanjutnya.</p>
<p>Ia kemudian menyoroti adanya dugaan pembiaran terhadap sejumlah tempat usaha yang dinilai melanggar aturan.</p>
<p>“Tempat seperti Tuak Tabo, Mahkota Ponsel yang menggunakan trotoar, hingga Neo Cafe yang diduga berdiri di daerah aliran sungai (DAS), apakah sudah ditertibkan dengan tegas? Atau justru dibiarkan?” ujarnya.</p>
<p>Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan ketimpangan dalam penegakan aturan.</p>
<p>“Kalau PKL cepat ditindak, tapi pelanggaran lain dibiarkan, ini tebang pilih. Hukum tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas,” tegasnya.</p>
<p>Ia menegaskan, pemerintah harus mendahulukan solusi sebelum penertiban.</p>
<p>“Relokasi dan solusi harus ada sebelum penertiban, bukan setelah rakyat kecil menangis karena digusur,” ujarnya.</p>
<p>Di akhir pernyataannya, ia menegaskan pembangunan harus berpihak pada rakyat kecil.</p>
<p>“Rakyat tidak butuh pencitraan. Rakyat butuh keadilan yang nyata,” tutupnya.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
