<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lebah Begantong &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/lebah-begantong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Sep 2026 09:14:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.6</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Lebah Begantong &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Secangkir Kopi Humanisme dan Sepiring Pantun Jenaka di Meja Edward Said</title>
		<link>https://pers.news/2026/09/25/secangkir-kopi-humanisme-dan-sepiring-pantun-jenaka-di-meja-edward-said/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2026 08:58:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Edward Said]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lebah Begantong]]></category>
		<category><![CDATA[opini kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[pantun]]></category>
		<category><![CDATA[sastra lisan]]></category>
		<category><![CDATA[seni budaya]]></category>
		<category><![CDATA[seni pertunjukan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=14246</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Victor Brahmana. Esais. Alumni UPI Bandung &#160; MEDAN&#124;PERS.NEWS—Menarik saat membaca tulisan Dr. H. M...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Penulis: Victor Brahmana. Esais.</strong></em></p>
<p><em><strong>Alumni UPI Bandung</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS—</strong>Menarik saat membaca tulisan Dr. H. M Asroi Saputra di Media Antara yang berjudul &#8220;Pujian yang Menjerat: Sisi Lain Pantun Pejabat Lebah Begantong dan Ujian Humanisme&#8221;. Sebuah telaah kritis tentang fenomena Pujian dan Pantun yang akhir akhir ini sering terjadi di ruang publik&#8211;terlebih relasinya terhadap kekuasaan.(24/9/26)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada alinea awal tulisannya, beliau langsung menyoroti Acara Milad PAN ke 28 di JCC, 18 September lalu yang di hadiri Group Orkes Melayu asal Medan; Lebah Begantong. Tampil ciamik di atas panggung megah, semua personil Lebah Begantong saling bergantian memberikan Pantun penuh gelimang pujian kepada Presiden, Petinggi Partai dan Pejabat yang hadir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tengah hiruknya situasi politik, ekonomi dan kepastian hukum yang sedang tak menentu, beberapa kalangan menganggap hal itu sangat tidak relevan. Hari ini, Pimpinan dan Pejabat negara lebih layak dikritik dari pada dipuji.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari perhelatan yang viral tersebut, muncul dua pertanyaan kritis. Pertama, apakah telah terjadi pergesaran fungsi dari Pantun sebagai media Komunikasi dan pengingat moral menjadi &#8216;pelicin jalan&#8217; menuju lingkaran kekuasaan?</p>
<p>Yang kedua, apakah pantun pujian, murni bentuk pengingat (self reminder) atau sekedar strategi budaya untuk mendekati penguasa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun sebagai Sub Teks dan Representasi</p>
<p>Sebelum menjawab substansi tulisan tersebut, ada dua sudut pandang paling mendasar. Yakni, tentang Pantun sebagai sub teks dan pembacaan Pantun sebagai Seni Pertunjukan adalah konteks.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara Morfologis Pantun berasal dari kata Panuntun yang artinya, penunjuk, pemandu, pembimbing. Lalu, seiring berjalannya waktu berangsur angsur kata Panuntun itu terjangkit Sinkop (sebuah gejala bahasa) yang menyebabkan hilangnya suku kata atau dua huruf &#8220;N&#8221; DAN &#8220;U&#8221; dari lema aslinya. &#8220;Panuntun&#8221; menjadi &#8220;Pantun&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun masuk dalam kategori Puisi Lama. Sebuah produk Karya Sastra lisan milik asli Indonesia (Sumatera Barat) selain, syair, madah dan soneta. Ciri utama Pantun adalah selalu terikat karakter sampiran dan isi dalam satu rima dan irama. Lantas, Pantun diklasifikasi berdasarkan jenisnya. Ada Pantun Nasehat, Pantun Berkasih Sayang, Pantun teka teki, Pantun Agama dan Pantun Jenaka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai Sub Teks, Pantun kerap digunakan masyarakat pratulisan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan maksud dan tujuan secara implisit dengan menggunakan bahasa tamsil. Misalnya, &#8220;Pinggan Tak Retak, Nasi Tak Dingin. Tuan Tak Hendak Saya pun tak Ingin&#8221;. &#8220;Jika tidak karena Bulan manalah bintang meninggi hari. Jika tidak Karena Tuan. Manalah saya datang kemari&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hampir semua daerah di Nusantara memiliki tradisi berpantun walaupun berbeda beda penyebutan dan etimologinya. Ada Parikan di Jawa, Paparikan di Tatar Sunda, Umpasa pada adat Batak, Batombe di Minang, Sibali Warekkada di Makassar, Tatabuang di Ambon, Malengkan di Aceh dan masih banyak lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun dilantunkan di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dari mulai yang sifatnya ritual sampai seremonial. Misalnya, saat menyadap nira (senandong), saat melamar (merisik dan meminang), saat pernikahan (hempang batang dan hempang pintu) memelihara ayam sampai menidurkan anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi aksioma bahwa, tradisi lisan masyarakat yang lahir dan hidup di tiap belahan Nusantara memiliki satu selera sastrawi yang sama, unggah ungguh yang sama, petatah petitih yang sama, tersusun dalam satu bingkai kearifan lokal yang disebut Pantun. Pantun menjadi representasi kolektif karakter orang orang Indonesia yang dinamis dan puitis&#8211;baik saat senang, susah maupun marah. Baik saat memuji, menyindir maupun mengumpat. Oleh sebab itu, Pantun tidak pernah dilegitimasi oleh satu orang pengarang, tidak pernah dikapitalisasi oleh satu market. Pantun digubah secara spontan. Diksi dan isinya adalah hal hal yang akrab dan dekat dengan keseharian. Pantun tetap anonim yang akan ditimang timang dan dirawat bersama sama hingga tidak pernah di daftarkan oleh siapapun sebagai kekakyaan Intelektualnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu agaknya menjadi sedikit tergesa gesa jika &#8220;Pantun Pejabat&#8221; dijadikan Click Bait sebuah judul Essay atau Opini. Sebab, dari hulu sampai ke hilirnya tidak ditemukan&#8211;bahwa Pantun secara khusus atau defenisi oprasional dialamatkan kepada seorang Raja, Presiden ataupun Pejabat tertentu. Tidak ada hegemoni, tidak ada monopoli. Siapapun berhak berpantun dan dibuatkan pantun. Terminologi Pantun Pujian juga tidak ditemukan dalam khazanah Pantun. Begitupun Sastra Lisan yang lain seperti gurindam, Karmina maupun quatrain. Pada Jenis Pantun Jenaka dan Jenis Pantun Kasih Sayang terdapat kalimat Pujian boleh boleh saja. Jenaka dan Pujian, keduanya adalah entitas kalimat yang jauh berbeda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun dalam Konteks Seni Pertunjukan</p>
<p>Ghalibnya, pemilihan kata yang disusun dalam sebuah pantun selain memperhatikan bunyi juga teliti mempertimbangkan isi. Antara sampiran dan maksud saling berkelindan. Berjalin rapi sampai beberapa kerat (seloka). Nilai artistik tersebut yang membuat Pantun mudah dikombinasikan dengan cabang cabang seni yang lain. Semisal, jika digabungkan dengan unsur musik menjadi Orkes, jika digabungkan dengan Musik dan Tari menjadi Ronggeng, Jika digabungkan dengan semua unsur sendratasik (seni tari drama dan musik) menjadi Sandiwara Bangsawan dan Mak young.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun dalam Relasi Seni, Industri dan Kekuasaan</p>
<p>Dalam panggung Pertunjukan, Pantun maujud menjadi sebuah pagelaran seni yang konkret. Membutuhkan set up, properti, pencahayaan, kostum, make up, naskah sampai technikal meeting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal inilah yang membuat<br />
Pantun bertransformasi dari sekedar tradisi Sastra lisan menjadi sebuah pementasan seni komersil yang digandrungi Industri. Para pemegang Status Quo memandang popularitas Pantun sedang naik daun. Peluang untuk membangun persona lebih cepat dan akurat, Tarif bisa dikatrol sesuai penawaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam hal ini, benar adanya apa yang disampaikan oleh Dr. H. M. Asroi Saputra, S. Sos. Pantun, sebagai Karya Sastra harusnya berfungsi sebagai sosial kontrol pemerintahan. Bukan malah bergenit ria mendekat pada kekuasaan dengan pujian hingga menutup realitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul &#8220;Orientalism&#8221; Tahun 1978 Edward Said pernah menyinggung hal ini. Bahwa, wacana dan citra memang diciptakan untuk melayani kepentingan dominasi politik dan kekuasaan. Lalu, seniman, sastrawan, sejarawan menciptakan stereotip tersebut agar kebijakan terus berlanjut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Indonesia pernah ada di masa itu. Tepatnya tahun 1917 saat pemerintah kolonial mendirikan Lembaga Bacaan Rakyat yang bernama Balai Pustaka. Sedianya, lembaga itu didirikan agar rakyat Indonesia terliterasi, sehingga nantinya bisa dijadikan Amtenaar Pemerintahan Belanda dengan bayaran yang murah. Bahan<br />
bahan bacaan serta karya sastra yang masuk dan diterima lembaga itu benar benar diseleksi. Produk produk Karya Sastra seperti Roman, Puisi dan pantun yang bisa meningkatkan rasa nasionalisme jangan sampai muncul. Sebaliknya, bacaan dan Karya Sastra yang isinya memuji Pemerintah Belanda harus lebih banyak diproduksi. Pada<br />
praktiknya, ternyata pihak kolonial gagal. Pengarang pengarang Indonesia seperti Merarri Siregar, Mara Rusli, Rustam Efendi dkk<br />
berhasil mengelabui pemerintah kolonial. Karya Karya seperti Azab Sengsara, Siti Nurbaya, Madah Kelana yang tampak Sendu mendayu dengan tema &#8216;Kasih tak Sampai&#8217; ternyata berhasil menyelipkan spirit rakyat Indonesia untuk memunculkan kesadaran nasionalis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada akhirnya, seniman tetaplah seorang pekerja seni. Baik itu Sastrawan, Pemantun, Penari, Pelukis dsb. Seniman bukan seorang Rabi yang berdiri di atas bukit Golgota lalu berkhutbah untuk menyelamatkan dunia. Menyelamatkan manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkhusus untuk Group Orkes Lebah Begantong. Mereka adalah sekelompok anak muda berbakat yang mempunyai niat baik mengenalkan seni tradisi di kancah nasional. Lazimnya, pekerja seni, mereka akhirnya masuk ke dalam industri. Diundang dari panggung ke panggung. Dari gedung ke kampung. Direpotkan oleh aturan dan selera pasar. Disibukan oleh gladi resik tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan jangan, Pantun Tundang Tundang pujian yang mereka nyanyikan tempo hari, sudah ratusan bahkan ribuan kali mereka tampilkan. Hanya saja, menjadi seksi dan menuai pro dan kontra saat mereka tampil di hadapan Presiden dan para Pejabat Tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka bukan Jallaluddin Rumi atau Ronnggo Warsito yang sengaja memisahkan diri dari kekuasaan, hidup bohemian lalu memilih jalan sunyi untuk bersyair dan bermadah mengkritisi pemerintah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kembali kepada pertanyaan di atas. Apakah Pantun Pujian dari Lebah Begantong bentuk pengingat amanah atau strategi budaya untuk medekati penguasa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perlu pengkajian lebih medalam agar tidak menjadi sikap skeptis yang serampangan. Sebab, antara seniman dan karyanya adalah dua spectrum yang berbeda. Pengkajian karya lewat unsur Intrinsik, sedangkan pengkajian penciptanya lewat unsur ekstrinsik. Paling tidak, harus jelas dulu subjek yang dituju. Terutama data data yang bisa menguatkan sebuah profesi. Apakah dia Seniman atau partisan.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
