<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Moderasi Beragama &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/moderasi-beragama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Jun 2026 17:57:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Moderasi Beragama &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BICARA #11 LP2M UINSU Dorong Penguatan Peran Tokoh Adat dalam Pengembangan Pariwisata Halal di Danau Toba</title>
		<link>https://pers.news/2026/06/13/bicara-11-lp2m-uinsu-dorong-penguatan-peran-tokoh-adat-dalam-pengembangan-pariwisata-halal-di-danau-toba/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 17:56:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[BICARA #11]]></category>
		<category><![CDATA[Bincang Capaian Akademik dan Riset Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Danau Toba]]></category>
		<category><![CDATA[LP2M UINSU]]></category>
		<category><![CDATA[Moderasi Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Halal]]></category>
		<category><![CDATA[UIN Sumatera Utara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=12189</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN &#124; PERS.NEWS — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU)...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MEDAN | PERS.NEWS —</strong> Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menggelar forum akademik BICARA #11 (Bincang Capaian Akademik dan Riset Ilmiah), Kamis (11/6/2026), di Hall Kopi Pahit KKPRI UINSU. Forum tersebut mengangkat tema &#8220;Penguatan Pemahaman Tokoh Adat dalam Pengembangan Pariwisata Halal Berbasis Moderasi Beragama di Kawasan Kaldera Danau Toba&#8221;.</p>
<p>Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk membahas sinergi antara nilai-nilai kearifan lokal, moderasi beragama, dan pengembangan pariwisata halal sebagai salah satu instrumen pembangunan berkelanjutan di kawasan Danau Toba. Forum tersebut sekaligus mempertegas komitmen UINSU dalam menghadirkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.</p>
<p>Dalam arahannya, Ketua LP2M UINSU, Prof. Dr. Nisful Khoiri, M.Ag., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata halal tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat lokal, khususnya tokoh adat, sebagai penjaga nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.</p>
<p>&#8220;Pariwisata halal dan moderasi beragama bukanlah dua hal yang saling bertentangan dengan kearifan lokal. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ruang sosial yang harmonis, inklusif, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,&#8221; ujar Prof. Nisful Khoiri.</p>
<p>Sebagai narasumber utama, Dr. Maraimbang Daulay, M.A., memaparkan hasil penelitian mengenai pentingnya peningkatan pemahaman tokoh adat dalam mendukung pengembangan pariwisata halal di kawasan Kaldera Danau Toba. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor pariwisata tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga oleh kesiapan sosial dan budaya masyarakat.</p>
<p>&#8220;Tokoh adat memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial. Keterlibatan mereka dalam memahami konsep moderasi beragama dan pariwisata halal akan memperkuat penerimaan masyarakat, sekaligus menjaga harmoni budaya yang menjadi daya tarik utama Danau Toba,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Sementara itu, Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D., selaku pembahas, memberikan perspektif akademik mengenai pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengembangan destinasi wisata yang inklusif dan berkelanjutan.</p>
<p>&#8220;Pengembangan pariwisata masa depan memerlukan integrasi antara hasil riset, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat. Dalam konteks Danau Toba, penguatan kapasitas tokoh adat menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan pariwisata berjalan secara berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas budaya lokal,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan berbagai pandangan konstruktif terkait peluang dan tantangan pengembangan pariwisata halal berbasis moderasi beragama di kawasan Danau Toba. Para peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi turut memberikan tanggapan yang memperkaya jalannya forum.</p>
<p>Melalui penyelenggaraan BICARA #11, LP2M UINSU kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang produktif dan berdampak. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi ilmiah yang mendukung penguatan peran tokoh adat, pengembangan pariwisata halal, serta pengarusutamaan moderasi beragama sebagai fondasi pembangunan sosial yang harmonis dan berkelanjutan di kawasan Danau Toba.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>LP2M UINSU Gelar BICARA #10, Dorong Kampus Inklusif dan Moderat bagi Semua Mahasiswa</title>
		<link>https://pers.news/2026/06/04/lp2m-uinsu-gelar-bicara-10-dorong-kampus-inklusif-dan-moderat-bagi-semua-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 13:32:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[BICARA #10]]></category>
		<category><![CDATA[inklusivitas kampus]]></category>
		<category><![CDATA[LP2M UINSU]]></category>
		<category><![CDATA[Moderasi Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan tinggi keagamaan]]></category>
		<category><![CDATA[UINSU Medan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=11937</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN&#124;PERS.NEWS– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menggelar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>MEDAN|PERS.NEWS</b>– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menggelar forum akademik <strong>BICARA #10 (Dialog Intelektual, Solusi Aktual)</strong> pada Kamis, 4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kopi Pahit UINSU ini mengangkat tema <em>“Inklusivitas dan Moderasi Beragama terhadap Mahasiswa Minoritas di Perguruan Tinggi Keagamaan: Pendidikan Setara untuk Semua (Kampus Nyaman dan Sehat)”</em>.</p>
<figure id="attachment_11938" aria-describedby="caption-attachment-11938" style="width: 900px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-11938" src="https://pers.news/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260604-WA0011.jpg" alt="" width="900" height="750" srcset="https://pers.news/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260604-WA0011.jpg 900w, https://pers.news/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260604-WA0011-768x640.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><figcaption id="caption-attachment-11938" class="wp-caption-text">Keterangan: Peserta dan narasumber berfoto bersama usai kegiatan BICARA #10 LP2M UINSU yang membahas inklusivitas dan moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan, Kamis (4/6/2026).</figcaption></figure>
<p>Forum tersebut menjadi ruang dialog ilmiah yang menegaskan pentingnya penguatan nilai inklusivitas, moderasi beragama, serta terciptanya ekosistem kampus yang aman, nyaman, sehat, dan setara bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakangnya.</p>
<p>Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nisful Khoiri, M.Ag menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan harus menjadi pelopor dalam menghadirkan ruang akademik yang adil dan inklusif.</p>
<p>“Kampus harus menjadi ruang tumbuh yang menjamin kesetaraan, menghadirkan rasa aman akademik, serta memastikan tidak ada mahasiswa yang terpinggirkan oleh latar belakang apa pun. Inklusivitas adalah bagian dari tanggung jawab moral dan ilmiah perguruan tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Sebagai narasumber BOPTN, Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A., menekankan bahwa moderasi beragama perlu diinternalisasikan dalam budaya akademik kampus.</p>
<p>“Moderasi beragama tidak boleh berhenti pada konsep, tetapi harus hadir dalam praktik keseharian kampus, dalam relasi sosial, dan dalam kebijakan akademik yang berpihak pada harmoni,” tegasnya.</p>
<p>Sementara itu, Dr. Muhammad Jailani, M.A. selaku pembahas menyoroti pentingnya desain pendidikan yang mampu menjamin kesetaraan akses dan pengalaman belajar bagi seluruh mahasiswa.</p>
<p>“Perguruan tinggi keagamaan harus memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa kecuali, mendapatkan ruang belajar yang setara, adil, dan bebas dari diskriminasi dalam bentuk apa pun,” jelasnya.</p>
<p>Kegiatan ini juga menghadirkan Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D yang memberikan pandangan akademik terkait pentingnya penguatan ekosistem riset dan kolaborasi ilmiah dalam isu pendidikan serta moderasi beragama.</p>
<p>“Penguatan kajian akademik tentang inklusivitas harus terus didorong melalui riset kolaboratif lintas disiplin agar kampus tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga pusat produksi gagasan yang relevan dengan realitas sosial,” ungkapnya.</p>
<p>Diskusi berlangsung dinamis dan produktif di bawah arahan moderator Yummy Jumiati Marsa, M.Pd. Dengan kepiawaiannya memandu forum, setiap gagasan dan pandangan yang muncul dapat tersampaikan secara utuh dalam suasana akademik yang konstruktif.</p>
<p>Melalui pelaksanaan BICARA #10 ini, LP2M UINSU kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan riset, dialog akademik, dan pengabdian kepada masyarakat yang konsisten menghadirkan gagasan-gagasan transformatif demi terwujudnya kampus yang inklusif, moderat, dan berdaya saing global(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NAHDLATUL ULAMA DI PERSIMPANGAN ABAD KEDUA:Konflik Struktural PBNU dan Bayang-Bayang Khittah 1926</title>
		<link>https://pers.news/2025/12/17/nahdlatul-ulama-di-persimpangan-abad-keduakonflik-struktural-pbnu-dan-bayang-bayang-khittah-1926/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 22:55:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Aswaja]]></category>
		<category><![CDATA[Islah NU]]></category>
		<category><![CDATA[Khittah 1926]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik Internal NU]]></category>
		<category><![CDATA[Moderasi Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU Abad Kedua]]></category>
		<category><![CDATA[PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Syuriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanfidziyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=9308</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Akhmad Khambali, SE, MM MEDAN&#124;PERS.NEWS-Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad keduanya dengan satu pertanyaan besar:...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto [content-visibility:auto] supports-[content-visibility:auto]:[contain-intrinsic-size:auto_100lvh] scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" tabindex="-1" data-turn-id="17ffa723-427f-4321-89e4-923a20846018" data-testid="conversation-turn-2" data-scroll-anchor="true" data-turn="assistant">
<div class="text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @w-sm/main:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @w-lg/main:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)">
<div class="[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" tabindex="-1">
<div class="flex max-w-full flex-col grow">
<div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="094c0071-8131-47e9-89ea-4e5c2b632144" data-message-model-slug="gpt-5-2">
<div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]">
<div class="markdown prose dark:prose-invert w-full break-words light markdown-new-styling">
<p style="padding-left: 40px;" data-start="313" data-end="374"><strong data-start="313" data-end="346">Oleh: Akhmad Khambali, SE, MM</strong></p>
<p data-start="376" data-end="718"><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad keduanya dengan satu pertanyaan besar: bagaimana organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menjaga jati dirinya di tengah tarikan politik yang semakin kuat? Sejak berdiri pada 1926, NU dirancang sebagai <em data-start="619" data-end="652">jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah</em>—organisasi sosial-keagamaan yang berkhidmat bagi umat dan bangsa.</p>
<p data-start="720" data-end="976">Namun sejarah menunjukkan bahwa politik selalu hadir sebagai godaan. Dari sinilah lahir Khittah 1926, bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral dan etika yang senantiasa dihidupkan kembali setiap kali NU dinilai menjauh dari rel pengabdiannya.</p>
<p data-start="978" data-end="1181">Khittah berfungsi sebagai pagar etis. Ia mengingatkan bahwa NU harus memprioritaskan dakwah, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan pembangunan umat—bukan larut dalam pusaran kekuasaan politik praktis.</p>
<p data-start="1183" data-end="1483">Bukan berarti NU anti-politik. Akan tetapi, NU dituntut menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan otonomi moral dan sikap independennya. Sepanjang sejarah—dari Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi—Khittah kerap menjadi “rem darurat” ketika NU dinilai terlalu jauh memasuki wilayah politik praktis.</p>
</div>
<figure id="attachment_9309" aria-describedby="caption-attachment-9309" style="width: 1920px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-full wp-image-9309" src="https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/c65c15d3bc974a9883af4639e180707e1-scaled.jpg" alt="" width="1920" height="2560" srcset="https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/c65c15d3bc974a9883af4639e180707e1-scaled.jpg 1920w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/c65c15d3bc974a9883af4639e180707e1-768x1024.jpg 768w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/c65c15d3bc974a9883af4639e180707e1-1152x1536.jpg 1152w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/c65c15d3bc974a9883af4639e180707e1-1536x2048.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-9309" class="wp-caption-text">PENULIS: Akhmad Khambali, SE, M.M ( Ketua Forum Kyai Tahlil)</figcaption></figure>
<p><strong data-start="1489" data-end="1535">Akar Ideologi: Aswaja sebagai Kompas Utama</strong></p>
<div class="markdown prose dark:prose-invert w-full break-words light markdown-new-styling">
<p data-start="1537" data-end="1793">NU berdiri di atas fondasi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang melahirkan karakter khas warga NU: moderat, seimbang, toleran, serta konsisten menjalankan <em data-start="1692" data-end="1717">amar ma’ruf nahi munkar</em>. Nilai-nilai inilah yang membuat NU tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.</p>
<p data-start="1795" data-end="2135">KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa otoritas ulama harus berada di pucuk pimpinan sebagai penjaga moral organisasi. Namun seiring membesarnya NU, dinamika internal tak terelakkan. Ketegangan antara Syuriyah (otoritas keulamaan) dan Tanfidziyah (pelaksana organisasi) kerap muncul, terutama ketika NU berada dalam pusaran kepentingan politik.</p>
<p data-start="2137" data-end="2306">Di era demokrasi terbuka, peluang politik kian lebar. NU pun seringkali terseret ke dalamnya, meskipun Khittah telah berulang kali mengingatkan pentingnya kehati-hatian.</p>
<h3 data-start="2308" data-end="2350"><strong data-start="2312" data-end="2350">Situbondo 1984: Koreksi Sejarah NU</strong></h3>
<p data-start="2352" data-end="2653">Muktamar Situbondo 1984 menjadi tonggak koreksi besar dalam sejarah NU. KH Ahmad Siddiq bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara tegas mengembalikan NU ke Khittah 1926. NU menarik diri dari politik praktis dan kembali meneguhkan peran utamanya dalam pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan sosial.</p>
<p data-start="2655" data-end="2782">Keputusan ini bukan bentuk sikap apolitis, melainkan ikhtiar menjaga marwah ulama agar tidak tergerus oleh perebutan kekuasaan.</p>
<p data-start="2784" data-end="3172">Reformasi 1998 menghadirkan babak baru dengan lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai kanal politik warga NU. Secara teoritis, PKB menjadi wadah politik, sementara PBNU tetap berperan sebagai otoritas moral. Namun praktik di lapangan tidak berjalan ideal. Relasi ini kerap tumpang tindih dan memunculkan pertanyaan: siapa representasi politik warga NU sesungguhnya—PKB atau PBNU?</p>
<h3 data-start="3174" data-end="3208"><strong data-start="3178" data-end="3208">Politisasi Struktural PBNU</strong></h3>
<p data-start="3210" data-end="3454">Di era kontemporer, NU menghadapi tantangan baru: politisasi struktural. PBNU tidak hanya bersentuhan dengan politik elektoral, tetapi juga masuk ke ranah kemitraan ekonomi negara, akses proyek, dan konsesi tertentu atas nama pemberdayaan umat.</p>
<p data-start="3456" data-end="3747">Situasi ini menempatkan PBNU pada posisi rentan sebagai <em data-start="3512" data-end="3535">political beneficiary</em>—penerima manfaat dari kekuasaan politik. Kekhawatiran pun menguat di kalangan Nahdliyyin: apakah NU masih berdiri sebagai organisasi sosial-keagamaan, atau telah bertransformasi menjadi aktor politik struktural?</p>
<p data-start="3749" data-end="3964">Banyak pihak mendesak agar PBNU kembali berpegang teguh pada Pasal 9 AD/ART dan meminimalkan praktik yang beraroma politik praktis. NU diharapkan kembali pada nilai khidmah dan pengabdian, bukan kompetisi kekuasaan.</p>
<h3 data-start="3966" data-end="4024"><strong data-start="3970" data-end="4024">Krisis 2025: Otoritas Moral vs Otoritas Prosedural</strong></h3>
<p data-start="4026" data-end="4281">Konflik antara Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf pada 2025 menjadi puncak dari ketegangan struktural yang telah lama mengendap. Rapat Harian Syuriyah mendesak Ketua Umum untuk mundur dengan alasan moral dan ideologis.</p>
<p data-start="4283" data-end="4477">Surat Edaran Syuriyah yang mengklaim pemberhentian Ketua Umum ditolak oleh pihak Tanfidziyah karena dinilai tidak sesuai dengan prosedur AD/ART. Di sinilah tampak jelas pertarungan dua otoritas:</p>
<ul data-start="4479" data-end="4677">
<li data-start="4479" data-end="4575">
<p data-start="4481" data-end="4575"><strong data-start="4481" data-end="4510">Otoritas Moral (Syuriyah)</strong> yang merasa berkewajiban menjaga Khittah dan marwah keulamaan.</p>
</li>
<li data-start="4576" data-end="4677">
<p data-start="4578" data-end="4677"><strong data-start="4578" data-end="4615">Otoritas Prosedural (Tanfidziyah)</strong> yang berpegang pada aturan organisasi dan tata kelola formal.</p>
</li>
</ul>
<p data-start="4679" data-end="4795">Konflik ini mencerminkan lemahnya mekanisme resolusi konflik internal serta rapuhnya harmoni tata kelola organisasi.</p>
<h3 data-start="4797" data-end="4841"><strong data-start="4801" data-end="4841">Warisan Muassis sebagai Jalan Tengah</strong></h3>
<p data-start="4843" data-end="5110">KH Hasyim Asy’ari mengingatkan agar NU menjaga jarak dari pragmatisme kekuasaan. Gus Dur mewariskan nilai-nilai utama NU: pluralisme, humanisme, dan kemanusiaan. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi rujukan utama dalam menghadapi konflik internal maupun godaan politik.</p>
<p data-start="5112" data-end="5371">NU abad kedua juga mengusung agenda besar moderasi beragama dan kemandirian ekonomi. Namun kemandirian ekonomi harus dijaga agar tidak berubah menjadi pintu masuk patronase politik baru. Upaya mandiri tidak boleh melahirkan ketergantungan baru pada kekuasaan.</p>
<h3 data-start="5373" data-end="5426"><strong data-start="5377" data-end="5426">Meneguhkan Khittah, Bukan Sekadar Mengutipnya</strong></h3>
<p data-start="5428" data-end="5506">Agar NU tetap jernih dalam melangkah, setidaknya tiga langkah perlu dilakukan:</p>
<ol data-start="5508" data-end="5793">
<li data-start="5508" data-end="5637">
<p data-start="5511" data-end="5637">Menafsirkan ulang Khittah secara tegas, termasuk pembatasan praktik konsesi politik yang berpotensi merusak independensi NU.</p>
</li>
<li data-start="5638" data-end="5715">
<p data-start="5641" data-end="5715">Membangun mekanisme resolusi konflik internal yang kuat dan bermartabat.</p>
</li>
<li data-start="5716" data-end="5793">
<p data-start="5719" data-end="5793">Mengembalikan orientasi NU pada dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.</p>
</li>
</ol>
<p data-start="5795" data-end="5890">Tanpa itu, NU berisiko kehilangan wajah kulturalnya dan tereduksi menjadi aktor politik semata.</p>
<h3 data-start="5892" data-end="5932"><strong data-start="5896" data-end="5932">Islah sebagai Jalan Satu-Satunya</strong></h3>
<p data-start="5934" data-end="6147">Dalam situasi ini, jalan terbaik adalah <em data-start="5974" data-end="5981">islah</em>. Bukan sekadar rekonsiliasi simbolik, tetapi upaya tulus menurunkan ego, menyatukan kembali Syuriyah dan Tanfidziyah, serta memulihkan kepercayaan publik Nahdliyyin.</p>
<p data-start="6149" data-end="6268">Islah berarti kembali ke rumah besar para muassis—rumah yang dibangun di atas keikhlasan, khidmah, dan spiritualitas.</p>
<p data-start="6270" data-end="6511">NU harus kembali pada jati dirinya: pelayan umat, penjaga akhlak publik, dan penuntun peradaban. Bila ini diteguhkan, NU akan tetap menjadi <em data-start="6410" data-end="6443">jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah</em> yang kokoh dan digdaya, sebagaimana dicita-citakan para pendirinya.(Red)</p>
</div>
</div>
<p data-start="6270" data-end="6511">
</div>
</div>
</div>
</div>
</article>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
