<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muktamar NU ke-35 &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/muktamar-nu-ke-35/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 18:04:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Muktamar NU ke-35 &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Soal Mekanisme AHWA, Kubu Gus Yahya: Keputusan Ada di Muktamirin</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/29/soal-mekanisme-ahwa-kubu-gus-yahya-keputusan-ada-di-muktamirin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 18:03:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Halli wal Aqdi]]></category>
		<category><![CDATA[AHWA]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Kikin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Rozin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Salam]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar NU]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar NU ke-35]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamirin]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[Zulfa Mustofa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13585</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA&#124;PERS.NEWS— Kubu bakal calon Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya membantah pernyataan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA|PERS.NEWS—</strong> Kubu bakal calon Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya membantah pernyataan KH Zulfa Mustofa yang menyebut lima kandidat Ketua Umum PBNU telah sepakat menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), bukan pemilihan langsung.</p>
<p>Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni menilai pernyataan Zulfa tersebut merupakan klaim sepihak. Ia bahkan menyebut salah satu nama yang disebut Zulfa, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, tidak mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut.</p>
<p>&#8220;Ya Gus Rozin misalnya, Gus Rozin itu dikonfirmasi, dia enggak ngaku. Artinya, Pak Zulfa bicara seperti itu tidak konfirmasi dulu ke Gus Rozin,&#8221; kata Amin Said saat dihubungi wartawan melalui telepon, Jumat (29/8/2026).</p>
<p>Ketika ditanya mengenai klaim bahwa lima kandidat telah sepakat menggunakan mekanisme AHWA, Amin menjawab singkat.</p>
<p>&#8220;Klaim aja itu,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Menurut Amin, mekanisme pemilihan langsung memiliki pijakan dalam sejarah NU. Ia mengatakan pemilihan secara langsung telah digunakan sejak organisasi tersebut berdiri.</p>
<p>Ia merujuk pada Qanun Asasi NU yang memuat istilah kasariyatul aswat, yang dimaknai sebagai mekanisme berdasarkan suara terbanyak.</p>
<p>&#8220;Dan di dalam konstruksi demokrasi di NU, kedaulatan itu ada di tangan muktamirin,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Karena itu, kubu Gus Yahya berpandangan bahwa mekanisme pemilihan langsung perlu dipertahankan untuk menentukan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.</p>
<p>Menurut Amin, keputusan mengenai kepemimpinan organisasi merupakan kewenangan peserta Muktamar sebagai pemilik suara.</p>
<p>Zulfa Sebut Lima Kandidat Sepakat AHWA</p>
<p>Sebelumnya, dalam Sidang Pleno III Muktamar ke-35 NU, KH Zulfa Mustofa menyatakan lima bakal calon Ketua Umum PBNU telah sepakat menggunakan mekanisme AHWA.</p>
<p>Kelima nama yang disebut Zulfa adalah dirinya sendiri, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, serta KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.</p>
<p>&#8220;Saya Zulfa Mustofa, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yusuf, Gus Salam, sepakat, pemilihan ketua umum dilakukan lewat mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi,&#8221; kata Zulfa di hadapan peserta Muktamar.</p>
<p>Ia kemudian meminta kandidat lain mengikuti kesepakatan tersebut.</p>
<p>&#8220;Saya memohon kepada caketum yang lain agar bisa juga bersepakat seperti kami berlima,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Zulfa juga menjelaskan alasan dirinya mendukung mekanisme AHWA. Menurut dia, pemilihan Ketua Umum PBNU secara tidak langsung pernah diterapkan dalam sejarah NU.</p>
<p>Ia menilai penerapan kembali AHWA dapat mengembalikan kewenangan dewan tersebut dalam menentukan sekaligus memberhentikan Ketua Umum PBNU.</p>
<p>Perbedaan pandangan antara kubu Gus Yahya dan Zulfa tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU belum selesai.</p>
<p>Di satu sisi, terdapat dorongan agar kewenangan memilih ketua tetap berada di tangan muktamirin melalui sistem pemungutan suara langsung. Di sisi lain, sejumlah kandidat mendorong mekanisme AHWA dengan alasan penguatan peran ulama dan tradisi kepemimpinan NU.</p>
<p>Keputusan mengenai mekanisme pemilihan tersebut selanjutnya berada di tangan forum Muktamar ke-35 NU.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH Zulfa Mustofa Ungkap Skema Pemilihan Ketum PBNU, Lima Nama Menuju AHWA</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/29/kh-zulfa-mustofa-ungkap-skema-pemilihan-ketum-pbnu-lima-nama-menuju-ahwa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 15:45:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Halli wal Aqdi]]></category>
		<category><![CDATA[AHWA]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Kikin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Rozin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Salam]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[KH Zulfa Mustofa]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar NU]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar NU ke-35]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[Syuriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanfidziyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13579</guid>

					<description><![CDATA[JOMBANG&#124;PERS.NEWS— Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, membahas skema berjenjang dalam pemilihan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG|PERS.NEWS—</strong> Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, membahas skema berjenjang dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).</p>
<p>Skema tersebut menempatkan musyawarah mufakat sebagai pilihan pertama. Apabila kesepakatan tidak tercapai, peserta muktamar akan melakukan penjaringan melalui pemungutan suara dengan memilih sebanyak-banyaknya lima calon yang memenuhi syarat.</p>
<p>Lima nama dengan suara terbanyak kemudian diranking dan diserahkan kepada Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk dipilih salah satunya sebagai Ketua Umum PBNU.</p>
<p>Pimpinan Sidang Komisi Organisasi Muktamar ke-35 NU, Prof Asrorun Niam, menjelaskan bahwa mekanisme tersebut merupakan bagian dari rumusan yang dibawa ke Sidang Pleno III Muktamar NU pada Sabtu (29/8/2026).</p>
<p>Menurut Asrorun, pola tersebut memiliki perbedaan dengan mekanisme sebelumnya. Jika sebelumnya peserta melakukan penjaringan dengan memilih satu nama, dalam skema yang dibahas kali ini peserta dapat memilih hingga lima calon yang dinilai memenuhi persyaratan.</p>
<p>&#8220;Lima besar diranking untuk menjadi calon ketua umum dan diserahkan kepada Ahlul Halli wal Aqdi,&#8221; kata Asrorun kepada wartawan usai Sidang Pleno III.</p>
<p>Setelah lima nama masuk ke tahap AHWA, calon tersebut harus terlebih dahulu menyatakan kesediaannya, baik secara lisan maupun tertulis. Selain itu, calon juga harus memperoleh persetujuan tertulis dari Rais Aam terpilih.</p>
<p>Asrorun menegaskan, pembahasan dalam forum tersebut masih berkaitan dengan sistem atau mekanisme pemilihan dan belum masuk pada pembahasan nama-nama calon Ketua Umum PBNU.</p>
<p>&#8220;Ini nanti belum berbincang soal nama-nama tetapi baru sampai bagaimana sistem pemilihannya, apakah one man one vote atau melalui Ahlul Halli wal Aqdi. Jadi belum berbincang soal nama,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Lima Caketum Sepakati Opsi AHWA</p>
<p>Sementara itu, calon Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa mengungkapkan bahwa lima dari enam nama yang beredar sebagai calon Ketua Umum PBNU telah menyepakati penggunaan mekanisme AHWA apabila musyawarah mufakat tidak tercapai.</p>
<p>Lima nama tersebut yakni KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, serta KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.</p>
<p>&#8220;Hanya ada enam ya kita tahu, lima sudah bersepakat pemilihan lewat AHWA,&#8221; kata Zulfa.</p>
<p>Menurut Zulfa, salah satu alasan yang melatarbelakangi kesepakatan tersebut adalah keinginan agar pemilihan kepemimpinan NU, khususnya di jajaran Tanfidziyah, tidak hanya mengandalkan mekanisme pemilihan, tetapi juga mempertimbangkan proses seleksi.</p>
<p>&#8220;Kita ingin kepemimpinan NU ke depan terutama di Tanfidziyah gabungan antara election dan selection. Tidak election murni, tidak sistem pemilihan murni tapi tidak ada seleksi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia mengatakan, gagasan tersebut bermula dari dirinya bersama Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir. Dalam konsep tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) tetap memiliki peran dalam tahap pengusulan nama, sebelum proses seleksi dilakukan melalui Rais Aam dan AHWA.</p>
<p>Zulfa menilai mekanisme tersebut juga berkaitan dengan hubungan antara Tanfidziyah dan Syuriyah. Menurut dia, Tanfidziyah merupakan pelaksana kebijakan yang dirumuskan oleh Syuriyah sehingga diperlukan keselarasan dalam kepemimpinan organisasi.</p>
<p>&#8220;Tanfidziyah itu pada hakikatnya adalah pelaksana dari segala kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh Syuriyah. Dia tidak boleh kemudian tidak searah, tidak seiring dengan Syuriyah,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Zulfa, penggunaan AHWA dapat memperkuat posisi Syuriyah dalam menentukan kepemimpinan Tanfidziyah.</p>
<p>Ingin Muktamar Lebih Teduh</p>
<p>Pertimbangan lain yang disampaikan Zulfa berkaitan dengan dinamika pemilihan secara langsung. Ia menyebut terdapat sejumlah informasi yang menurutnya kurang mengenakkan terkait praktik yang berpotensi muncul dalam proses perebutan dukungan.</p>
<p>Zulfa berharap Muktamar NU ke depan dapat berlangsung lebih teduh dan terhindar dari praktik-praktik yang dapat mengganggu suasana organisasi.</p>
<p>&#8220;Kami berharap ke depan Muktamar tidak perlu lagi ada yang disebut karantina atau penculikan sana-sini, sehingga ke depan NU ketika bermuktamar betul-betul teduh,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia juga menyinggung adanya kekhawatiran mengenai intervensi pihak eksternal maupun faktor lain yang dapat memengaruhi proses pemilihan.</p>
<p>&#8220;Orang menyebut mungkin ada intervensi pihak lain eksternal atau apa pun, termasuk ada guyonan karena isi tasnya. Tetapi kemudian itu tidak diinginkan oleh masyayikh, ulama-ulama yang ada dalam Syuriyah dan AHWA,&#8221; katanya.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan Zulfa sebagai salah satu alasan mengapa sebagian caketum melihat perlunya mekanisme yang memadukan penjaringan dan seleksi.</p>
<p>Musyawarah Tetap Diutamakan</p>
<p>Zulfa menegaskan bahwa penggunaan AHWA bukan berarti musyawarah mufakat dikesampingkan. Menurutnya, musyawarah tetap menjadi pilihan utama.</p>
<p>Apabila musyawarah mufakat tidak menghasilkan kesepakatan, barulah mekanisme AHWA digunakan dengan terlebih dahulu menjaring lima nama dari peserta muktamar.</p>
<p>&#8220;Kalau opsi yang kami sepakati, jika tidak bisa dipilih secara musyawarah mufakat, maka sistemnya adalah lewat AHWA. Artinya tetap mengirim lima nama,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Zulfa juga menilai mekanisme AHWA tidak serta-merta menghilangkan esensi Muktamar. Ia mengatakan, dalam tradisi politik Islam, mekanisme pemilihan tidak selalu harus menggunakan sistem satu orang satu suara atau one man one vote.</p>
<p>Ia kemudian mencontohkan perubahan mekanisme pemilihan Rais Aam NU yang sebelumnya menggunakan pemungutan suara langsung, kemudian menggunakan AHWA sejak Muktamar NU di Jombang sekitar 11 tahun lalu.</p>
<p>&#8220;Memilih itu kan tidak selalu dalam Islam dengan one man one vote,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Zulfa, pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk menerapkan pola serupa dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.</p>
<p>Konsolidasi Lima Caketum</p>
<p>Terkait kesepakatan lima caketum, Zulfa menyebut komunikasi telah dilakukan secara intensif. Komunikasi tersebut dilakukan melalui grup maupun pertemuan secara langsung.</p>
<p>&#8220;Kami komunikasi sangat intens, kami punya grup-grup dan kemudian secara langsung karena saya melakukan komunikasi langsung,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Di sisi lain, Asrorun menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara voting untuk menentukan sistem pemilihan dengan voting untuk menentukan nama calon.</p>
<p>Menurutnya, pembahasan mengenai sistem pemilihan dilakukan secara terbuka. Sementara pemungutan suara yang berkaitan dengan individu atau nama calon dilakukan secara tertutup sesuai tata tertib Muktamar.</p>
<p>&#8220;Pertama bedanya kalau voting sistem ini tidak tertutup, jadi bisa terbuka langsung kotak A, B, siapa yang memilih A, siapa yang memilih B, begitu. Beda halnya kalau nanti terkait dengan orang, sebagaimana tata tertib kita, kalau terkait dengan orang itu voting-nya tertutup,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Dengan mekanisme tersebut, Muktamar ke-35 NU kini tidak hanya membahas figur yang akan memimpin PBNU, tetapi juga menentukan pola pemilihan yang akan digunakan dalam menetapkan Ketua Umum periode mendatang. (Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelombang Haru di Tambakberas, PIN Kawal Khidmat Muktamar NU, Said Aqil Siroj Bakar Semangat Kader</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/29/gelombang-haru-di-tambakberas-pin-kawal-khidmat-muktamar-nu-said-aqil-siroj-bakar-semangat-kader/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 13:25:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahrul Ulum]]></category>
		<category><![CDATA[Berikut tag dengan pemisah koma: **Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Said Aqil Siroj]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar NU ke-35]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Pejuang Islam Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[PIN]]></category>
		<category><![CDATA[Said Aqil Siroj]]></category>
		<category><![CDATA[Tambakberas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13576</guid>

					<description><![CDATA[JOMBANG&#124;PERS.NEWS— Suasana penuh haru dan kekhusyukan menyelimuti Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong style="font-size: 16px;">JOMBANG|PERS.NEWS</strong><span style="font-size: 16px;">— Suasana penuh haru dan kekhusyukan menyelimuti Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.</span></h3>
<p>Di tengah momentum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, jajaran pengurus dan anggota Pejuang Islam Nusantara (PIN) hadir dengan semangat pengabdian, sekaligus mengawal pesan dan nasihat para ulama demi menjaga keutuhan bangsa.</p>
<p>Kehadiran Pembina sekaligus Penasihat PIN, <strong>Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A.</strong>, menjadi salah satu momen yang penuh emosional bagi para kader. Mantan Ketua Umum PBNU tersebut hadir memberikan penguatan spiritual serta wejangan kepada para kader di tengah rangkaian perhelatan Muktamar NU ke-35.</p>
<p>Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Para kader PIN tampak antusias mengikuti silaturahmi dan menyimak setiap pesan yang disampaikan Kiai Said. Bagi mereka, kesempatan bertemu langsung dengan sosok ulama sekaligus tokoh NU tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat perjuangan dan pengabdian.</p>
<p>Tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, kehadiran Kiai Said juga dinilai memberikan energi positif bagi para kader PIN yang datang dari berbagai daerah. Pesan-pesan yang disampaikan menjadi pengingat agar semangat berorganisasi dan berdakwah senantiasa dibarengi dengan sikap santun, kebersamaan, serta komitmen menjaga persatuan bangsa.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said berpesan agar para kader senantiasa memperkokoh barisan, merawat tradisi keislaman yang ramah, serta menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai ancaman disintegrasi.</p>
<blockquote><p>“Dakwah kita adalah dakwah yang santun dan moderat—merangkul, bukan memukul. Perjuangan ini harus kita bawa nyata dari dunia maya hingga ke kehidupan sehari-hari,” tutur Kiai Said.</p></blockquote>
<p>Pertemuan tersebut juga menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguat semangat bagi jajaran PIN yang hadir. Kehadiran bersama para ulama dinilai menjadi penyemangat bagi para kader untuk terus menjalankan pengabdian dan khidmat.</p>
<p>Perwakilan PIN, <strong>Ust. Abdul Kholik</strong>, mengungkapkan rasa haru dan bangga atas kesempatan dapat bersilaturahmi bersama Kiai Said Aqil Siroj.</p>
<blockquote><p>“Alhamdulillah, keberadaan kami di Tambakberas, Jombang, bersama Ayahanda Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj semakin meneguhkan niat dan langkah. Rasanya begitu haru dan membanggakan bisa berada di dekat beliau. Semoga ini menjadi suntikan semangat baru bagi kita semua untuk terus ikhlas berkhidmat kepada ulama, NU, dan NKRI,” ujar Abdul Kholik.</p></blockquote>
<p>Melalui momentum Muktamar NU ke-35 ini, Pejuang Islam Nusantara menegaskan kembali komitmennya untuk mengawal pesan para ulama, merawat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta turut menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa dengan semangat cinta dan keikhlasan.<strong>(Red)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
