<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Nov 2025 05:12:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Opini</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Disability of Opportunity: Saat Kesetaraan Masih Sekadar Janji</title>
		<link>https://pers.news/2025/11/11/disability-of-opportunity-saat-kesetaraan-masih-sekadar-janji/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2025 05:08:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Aksesibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Disability Of Opportunity]]></category>
		<category><![CDATA[Empati]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Setara]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusi Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Kesempatan Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasmaul Hamdani]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Penyandang Disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pers.news]]></category>
		<category><![CDATA[Stigma Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UU 8 2016]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8516</guid>

					<description><![CDATA[              Oleh: Nasmaul Hamdani &#160; MEDAN&#124; PERS.NEWS —Indonesia sering...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>              Oleh: Nasmaul Hamdani</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN| PERS.NEWS —</strong>Indonesia sering membanggakan diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kesetaraan. Slogan itu bergema di podium politik, tercantum di undang-undang, dan diulang dalam pidato kenegaraan. Namun di balik kalimat-kalimat megah itu, ada kenyataan yang jauh dari ideal: penyandang disabilitas masih berjalan di lorong panjang yang penuh pintu terkunci.(11/10/25)</p>
<p>Mereka tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan fisik, tetapi juga dengan sistem yang cacat — bukan secara tubuh, melainkan secara moral dalam memberikan kesempatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita terlalu sering memandang disabilitas lewat kacamata belas kasihan, bukan keadilan. Mereka digambarkan sebagai sosok lemah yang harus dibantu, bukan sebagai individu dengan hak yang sama untuk tumbuh dan berdaya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang masih harus menunduk menghadapi trotoar tanpa ramp, sekolah tanpa sistem inklusif, dan tempat kerja yang menutup pintu hanya karena mereka “berbeda”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Padahal, perbedaan bukanlah penghalang — ia adalah potensi.</p>
<p>Sayangnya, potensi itu sering terkubur di bawah tumpukan stigma dan kebijakan setengah hati. Berapa banyak anak disabilitas yang berhenti sekolah karena dianggap “tidak produktif”? Berapa banyak lulusan disabilitas yang ditolak kerja bahkan sebelum diwawancarai? Jawabannya terlalu sering sama: terlalu banyak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Argumentasi Sosial: Sistem yang Menyisakan</p>
<p>Ketimpangan ini bukan sekadar akibat niat buruk individu, tetapi hasil dari struktur sosial yang tidak inklusif.</p>
<p>Ketika sekolah tak punya guru pendamping, transportasi umum tak bisa diakses kursi roda, dan perusahaan memandang disabilitas sebagai “beban produksi” — di situlah disability of opportunity menjadi nyata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Data menunjukkan, tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih di bawah 60%. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi karena pintu kesempatan dikunci dari dalam. Bahkan, program-program pemerintah yang dimaksudkan untuk membantu sering kali berakhir sebagai formalitas: sekadar angka dalam laporan, bukan perubahan dalam kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada ironi pahit di sini: mereka yang disebut “cacat” justru sering menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Mereka belajar lebih keras, berjuang lebih lama, dan bertahan lebih kuat daripada banyak dari kita yang mengaku “normal”.</p>
<p>Sementara itu, sebagian dari kita justru pincang dalam empati, tuli terhadap jeritan sesama, dan buta terhadap kenyataan yang menyakitkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Belas Kasihan ke Pengakuan Hak</p>
<p>Dalam diam, banyak penyandang disabilitas menatap dunia yang menolak menatap balik. Mereka menulis mimpi di dinding kebijakan yang dingin, berharap ada tangan yang mengetuk dari sisi lain.</p>
<p>Kesetaraan bukanlah hadiah belas kasihan — ia adalah hak asasi manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Negara sebenarnya sudah memiliki payung hukum: Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.</p>
<p>Namun pelaksanaannya masih jauh dari kata adil. Fasilitas publik belum ramah disabilitas, dunia kerja masih diskriminatif, dan kesadaran sosial berjalan di tempat. Kita masih sibuk memotret simpati di depan kamera, tetapi lupa menanam empati dalam kebijakan nyata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Refleksi Akhir</p>
<p>Jika negara ingin maju, ia tidak boleh membiarkan sebagian warganya tertinggal hanya karena perbedaan kemampuan.</p>
<p>Keadilan sosial tidak akan lahir dari belas kasihan — ia tumbuh dari pengakuan hak dan akses yang setara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada akhirnya, perjuangan menciptakan kesetaraan bukan hanya untuk mereka yang disabilitas, tetapi juga untuk kita semua yang ingin tetap manusia.</p>
<p>Sebab nilai sejati sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa tinggi gedung yang dibangunnya, melainkan dari seberapa rendah ia mau menunduk untuk merangkul yang tertinggal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaannya kini:</p>
<p>Apakah kita akan menjadi bagian dari perubahan — atau diam, menjadi bagian dari disability of opportunity itu sendiri?(NA)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa dan Judi Online: Intelektualitas yang Dipertaruhkan di Meja Maya</title>
		<link>https://pers.news/2025/11/02/mahasiswa-dan-judi-online-intelektualitas-yang-dipertaruhkan-di-meja-maya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 20:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Digital Addiction]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[Judi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis Moral]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Moralitas]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pergerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Stop Judi Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8303</guid>

					<description><![CDATA[              Oleh: Nasmaul Hamdani &#160; &#8220;Ketika Nalar Intelektual dirusak...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>              Oleh: Nasmaul Hamdani</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>&#8220;Ketika Nalar Intelektual dirusak oleh Ilusi Digital&#8221;</strong></p>
<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Judi online kini menjelma menjadi wabah sunyi yang merayap di ruang-ruang kampus. Ia hadir tanpa suara, tanpa dentuman, namun perlahan menghancurkan sendi moral dan mental generasi terdidik. Mahasiswa — yang seharusnya menjadi wajah rasionalitas dan pencerahan bangsa — justru banyak terjerat dalam lingkaran candu digital ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Tekanan ekonomi, gaya hidup konsumtif, serta dorongan eksistensi di dunia maya menjadi pintu masuk yang nyata. Banyak mahasiswa yang awalnya sekadar mencoba “iseng” akhirnya kehilangan uang kuliah, fokus belajar, bahkan kepercayaan diri. Judi online bukan lagi permainan, melainkan jebakan psikologis yang menguras nalar dan martabat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam dunia digital, algoritma bekerja seperti candu: semakin sering seseorang bermain, semakin dalam ia diseret ke dalam ilusi kemenangan palsu. Di situlah tragedi intelektual dimulai — ketika akal sehat tunduk pada hasrat instan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampak yang Lebih Dalam dari Sekadar Kehilangan Uang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampak judi online pada mahasiswa jauh melampaui sekadar kerugian finansial. Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga krisis karakter dan pergeseran nilai. Ketika kemenangan ditentukan oleh keberuntungan, bukan oleh kerja keras, maka semangat belajar pun kehilangan makna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa yang dulu dikenal sebagai agen perubahan kini terjebak menjadi korban sistem digital yang kejam. Mereka kehilangan fokus akademik, prestasi menurun, dan relasi sosial memburuk. Tak jarang, rasa malu dan depresi datang menghantui, menimbulkan isolasi sosial yang berbahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih dari itu, judi online menciptakan generasi apatis — generasi yang tak lagi percaya pada proses panjang karena terbiasa mengejar hasil instan. Ini bukan sekadar dekadensi moral, melainkan kemunduran cara berpikir. Bila mahasiswa mulai percaya bahwa keberuntungan lebih penting dari pengetahuan, maka masa depan bangsa sedang digadaikan di meja virtual.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kampus Harus Menjadi Tembok Pertahanan Moral</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kampus tidak boleh tinggal diam. Judi online bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi ancaman bagi ekosistem pendidikan. Institusi akademik harus aktif melakukan pencegahan melalui literasi digital, konseling psikologis, dan sistem pengawasan perilaku daring mahasiswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dosen, organisasi mahasiswa, serta lembaga kemahasiswaan perlu menjadi barisan depan dalam gerakan “Stop Judi Online di Kampus”  bukan dengan hukuman semata, melainkan dengan pendekatan edukatif dan empatik. Mahasiswa yang terjerat perlu diselamatkan, bukan dihakimi. Mereka adalah korban dari sistem yang gagal menanamkan kecerdasan emosional dan pengendalian diri di era digital.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seruan Moral: Saatnya Menghentikan Ilusi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah saatnya mahasiswa membuka mata: tidak ada kemenangan di balik layar judi online. Yang ada hanyalah kehilangan waktu, tenaga, harga diri, dan masa depan. Setiap klik taruhan adalah langkah menjauh dari cita-cita; setiap kemenangan palsu adalah hutang moral pada diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bangsa ini membutuhkan mahasiswa yang kuat akalnya, jernih pikirannya, dan tangguh moralnya — bukan generasi yang ditipu oleh algoritma dan keserakahan digital.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka, hentikan sekarang juga.</p>
<p>Cabut diri dari jaringan ilusi itu.</p>
<p>Kembalilah ke ruang nyata — ruang kelas, ruang baca, dan ruang sosial — tempat perjuangan sejati tumbuh. Karena masa depan tidak akan dibentuk oleh tangan yang menekan tombol taruhan, melainkan oleh pikiran yang berani menolak kejatuhan.(NH)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda: Menyalakan Kembali Api Persatuan di Tengah Krisis Identitas Mahasiswa</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/30/sumpah-pemuda-menyalakan-kembali-api-persatuan-di-tengah-krisis-identitas-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2025 15:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Maju]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8254</guid>

					<description><![CDATA[                 Oleh:Alfi Armansyah &#160; MEDAN&#124;PERS.NEWS-Setiap tanggal 28 Oktober,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>                 Oleh:Alfi Armansyah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa ini kembali mengenang momen bersejarah: Sumpah Pemuda 1928, saat para pemuda dari berbagai daerah menyatakan diri satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—Indonesia. Namun, di tengah gegap gempita peringatan dan upacara seremonial, muncul satu pertanyaan yang perlu direnungkan oleh kita, para mahasiswa: apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup di dada generasi kampus hari ini?</p>
<p>Sebagai mahasiswa—yang sering disebut sebagai agent of change—kita sejatinya merupakan pewaris langsung semangat para pemuda 1928. Mereka berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan gagasan dan tekad untuk menyatukan bangsa yang tercerai oleh perbedaan suku, bahasa, dan kepentingan kolonial. Kini, perjuangan itu berubah bentuk. Lawan kita bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan mental—dari arus globalisasi, disinformasi, dan krisis kepedulian sosial.(30/10/25)</p>
<p>Ironisnya, banyak mahasiswa hari ini justru terjebak dalam individualisme dan pragmatisme akademik. Kampus seolah hanya menjadi tempat mengejar ijazah, bukan ruang membangun kesadaran kebangsaan. Padahal, semangat Sumpah Pemuda adalah tentang kesatuan visi dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan perubahan.</p>
<p>Mahasiswa masa kini harus berani menghidupkan kembali idealisme itu—dengan cara yang relevan untuk zaman ini. Bukan sekadar turun ke jalan tanpa arah, tetapi dengan memperkuat literasi, menegakkan integritas, dan mengawal kebijakan publik lewat kritik ilmiah dan inovasi sosial. Di era digital, “sumpah” kita bisa dimaknai sebagai komitmen untuk melawan hoaks, intoleransi, dan apatisme terhadap persoalan bangsa.</p>
<p>Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Mahasiswa masa kini harus menyalakan kembali api itu—menjadikannya energi untuk merajut solidaritas lintas kampus, lintas daerah, dan lintas ideologi demi Indonesia yang lebih adil, cerdas, dan berdaya.</p>
<p>Pada akhirnya, memperingati Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan janji di masa kini: bahwa di tangan pemuda—terutama mahasiswa—harapan Indonesia tidak akan pernah padam.(AA)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber :Alfi Armansyah Mahasiswa Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hadiah Berkedok Lowongan: Tamparan untuk Politik yang Lupa Malu</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/28/hadiah-berkedok-lowongan-tamparan-untuk-politik-yang-lupa-malu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 06:06:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Eriza Hudori]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera utara]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8179</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN&#124;PERS.NEWS-Di tengah gegap gempita peringatan Sumpah Pemuda, saat anak-anak muda bicara tentang cita-cita dan masa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Di tengah gegap gempita peringatan Sumpah Pemuda, saat anak-anak muda bicara tentang cita-cita dan masa depan bangsa, Sumatera Utara justru diguncang kabar yang membuat banyak orang mengernyit: Gubernur disebut-sebut memberikan lowongan kerja kepada Serikat Islam sebagai bentuk “hadiah.”</p>
<p>Sebuah langkah yang di atas kertas tampak manis, namun di hati rakyat terasa getir. Pertanyaannya sederhana: sejak kapan pekerjaan berubah menjadi bingkisan politik?</p>
<p>Di antara riuh perayaan dan jargon kebangsaan, muncul sosok Eriza Hudori, Ketua DPW PETANESIA (Pecinta Tanah Air Indonesia) Sumatera Utara. Ia tidak berbicara dari podium kekuasaan, tetapi dari ruang refleksi — tempat di mana idealisme masih berani menatap kekuasaan tanpa rasa takut.</p>
<p>“Pekerjaan bukan hadiah. Itu hak rakyat. Kalau ingin memberi, berilah sistem yang adil — bukan posisi yang diselipkan rasa terima kasih,”<br />
ujar Eriza dalam pernyataan reflektifnya di momentum Sumpah Pemuda.</p>
<p>Kata-kata itu terdengar keras, tapi sesungguhnya jernih. Di negeri yang sering menukar kedekatan dengan kesempatan, kejujuran memang kerap terdengar brutal.</p>
<p>Eriza menegaskan, kebaikan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak ia memberi jabatan, tetapi dari seberapa tulus ia menegakkan keadilan.</p>
<p>“Kalau hadiah itu terbuka untuk semua, itu kebijakan. Tapi kalau hanya untuk yang dekat, itu penistaan terhadap keadilan,” katanya tegas.</p>
<p>Ia mengingatkan, bangsa ini akan terus melemah jika rakyat terus diajari untuk berterima kasih atas sesuatu yang seharusnya menjadi hak.</p>
<p>“Bangsa yang terlalu sering diberi, lambat laun lupa cara berdiri,” ucapnya menohok.</p>
<p>Bagi Eriza, refleksi Sumpah Pemuda bukan sekadar mengulang sejarah, melainkan menantang generasi hari ini untuk berani jujur.</p>
<p>“Cinta tanah air tidak lahir dari jabatan, tapi dari keberanian berkata benar,” lanjutnya.</p>
<p>Pernyataannya menyalakan api di kalangan muda. Banyak yang menilai, suara seperti Eriza adalah oase di tengah gurun politik yang kian pragmatis. Ia bukan sekadar tokoh organisasi, tetapi simbol bahwa idealisme belum mati — hanya butuh keberanian untuk bangkit.</p>
<p>Dan di tengah pesta seremonial yang sering meninabobokan, kalimat Eriza menggema seperti peringatan keras:</p>
<p>“Hadiah terbaik bagi rakyat bukan pekerjaan yang diberikan, tapi kesempatan yang diciptakan.”</p>
<p>Kata-katanya menjadi tamparan lembut bagi para pemimpin yang lupa malu — mereka yang masih menganggap kekuasaan sebagai alat berbagi hadiah, bukan menegakkan keadilan.</p>
<p>Sumpah Pemuda tahun ini mengajarkan satu hal:<br />
Bangsa yang besar tidak dibangun dari pemberian, tetapi dari keberanian generasinya untuk menolak menjadi pengemis politik.</p>
<p>Dan di tengah suara yang gemetar oleh kepentingan, Eriza Hudori memilih tetap lantang.</p>
<p>Sebab keadilan — meski terdengar brutal — tetap lebih mulia daripada basa-basi kekuasaan.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
