<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Penanggulangan Bencana &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/penanggulangan-bencana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Aug 2026 16:30:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Penanggulangan Bencana &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bencana Berulang, Respons Negara Dipertanyakan</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/27/bencana-berulang-respons-negara-dipertanyakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2026 16:30:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[nusa tenggara timur]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggulangan Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[respons negara]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera utara]]></category>
		<category><![CDATA[Transparansi Anggaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13512</guid>

					<description><![CDATA[ Oleh: Yoel Roilen Bignover Siahaan Mahasiswa Fakultas Hukum          Universitas HKBP Nommensen...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"> Oleh: Yoel Roilen Bignover Siahaan</p>
<p dir="ltr"><b>Mahasiswa Fakultas Hukum          Universitas HKBP Nommensen Medan</b></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Bencana kembali datang. Ketika sebagian masyarakat di Aceh dan Sumatera Utara masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana besar pada akhir 2025, Nusa Tenggara Timur kembali menghadapi gempa, sementara kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah Kalimantan.</p>
<p dir="ltr">Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: sampai kapan masyarakat harus menanggung dampak bencana dan menghadapi tantangan pemulihan yang panjang?</p>
<p dir="ltr">Bencana di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 bukan peristiwa kecil. Banjir dan longsor menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, kehilangan tempat tinggal, serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Hingga 2026, pemerintah masih menjalankan agenda rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pemulihan wilayah terdampak Aceh dan Sumatera mencapai sekitar Rp100,2 triliun untuk periode 2026–2028.</p>
<p dir="ltr">Angka tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat berhenti pada pemberian bantuan darurat. Negara juga harus memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif serta membangun sistem yang mampu mengurangi risiko bencana di masa mendatang.</p>
<p dir="ltr">Di tengah persoalan tersebut, pemerintah memilih untuk tidak menetapkan bencana Sumatera sebagai bencana nasional. Pemerintah beralasan penanganan masih dapat dilakukan melalui mekanisme yang ada dengan dukungan pemerintah pusat.</p>
<p dir="ltr">Secara hukum, penetapan status bencana nasional bukan semata-mata keputusan politis. Terdapat sejumlah ukuran dan pertimbangan yang harus diperhatikan. Karena itu, kritik terhadap pemerintah seharusnya tidak hanya berhenti pada pertanyaan mengapa status bencana nasional tidak ditetapkan.</p>
<p dir="ltr">Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah tanpa status bencana nasional pemerintah tetap mampu memberikan penanganan dan pemulihan yang cepat, menyeluruh, transparan, dan berkeadilan.</p>
<p dir="ltr">Bagi masyarakat terdampak, status administratif bukan satu-satunya persoalan. Yang lebih penting adalah kepastian mendapatkan tempat tinggal, akses pendidikan dan kesehatan, pemulihan ekonomi, serta kembalinya infrastruktur dan fasilitas umum yang rusak.</p>
<p dir="ltr">Jika pemerintah menyatakan penetapan status bencana nasional belum diperlukan karena negara masih mampu menangani dampaknya, kemampuan tersebut perlu dibuktikan melalui hasil nyata yang dirasakan masyarakat. Keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari kunjungan pejabat atau penyaluran bantuan, tetapi juga dari sejauh mana kehidupan masyarakat dapat dipulihkan.</p>
<p dir="ltr">Transparansi Anggaran</p>
<p dir="ltr">Di sinilah persoalan anggaran menjadi penting.</p>
<p dir="ltr">Publik berhak mengetahui bagaimana anggaran penanggulangan bencana direncanakan dan digunakan. Pertanyaan mengenai anggaran bukan berarti menuduh adanya penyimpangan, melainkan merupakan bagian dari kontrol masyarakat terhadap pengelolaan keuangan negara.</p>
<p dir="ltr">Masyarakat perlu mengetahui berapa anggaran yang disiapkan untuk mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Publik juga berhak mengetahui dana yang telah dicairkan, mekanisme penyalurannya, pengawasannya, serta hasil yang telah dicapai.</p>
<p dir="ltr">Apalagi kebutuhan pemulihan pascabencana Sumatera diperkirakan mencapai Rp100,2 triliun untuk periode tiga tahun. Nilai tersebut membutuhkan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar anggaran benar-benar digunakan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.</p>
<p dir="ltr">Persoalan anggaran kembali menjadi perhatian ketika pada Agustus 2026 pemerintah menghadapi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan. BNPB menyatakan karhutla menjadi salah satu prioritas penanganan.</p>
<p dir="ltr">Pada 26 Agustus 2026, Menteri Keuangan menyatakan BNPB memiliki sekitar Rp5 triliun yang dapat digunakan untuk penanganan karhutla dan pemerintah siap menambah anggaran apabila diperlukan. Pada saat yang sama, Menteri Keuangan mengingatkan agar anggaran penanganan tidak dimark-up.</p>
<p dir="ltr">Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya akuntabilitas dalam penggunaan anggaran bencana. Ketika negara mengalokasikan dana dalam jumlah besar, pengawasan harus berjalan semakin ketat.</p>
<p dir="ltr">Pertanyaannya bukan hanya apakah anggaran tersedia, tetapi apakah anggaran tersebut cukup, tepat sasaran, transparan, dan mampu mengurangi risiko bencana.</p>
<p dir="ltr">Jangan Hanya Bertindak Setelah Bencana</p>
<p dir="ltr">Penanggulangan bencana tidak seharusnya hanya berfokus pada kondisi setelah bencana terjadi.</p>
<p dir="ltr">Kalimantan menjadi salah satu contoh bahwa pencegahan dan mitigasi harus dilakukan sebelum kebakaran meluas. Karhutla bukan persoalan baru. Ketika kejadian serupa terus berulang, pemerintah perlu mengevaluasi berbagai faktor yang berkaitan dengan pencegahan, mulai dari tata kelola lahan, perlindungan kawasan gambut, pengawasan pembukaan lahan, kesiapan pemerintah daerah, hingga penegakan hukum.</p>
<p dir="ltr">BNPB melaporkan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, sementara pemerintah memperkuat upaya pemadaman dan penanganan, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca.</p>
<p dir="ltr">Jika negara baru bergerak setelah titik api meluas, maka pola penanganan yang sama akan terus berulang: menangani dampak tanpa cukup kuat mencegah penyebab.</p>
<p dir="ltr">Hal serupa terlihat di Nusa Tenggara Timur. Pada Agustus 2026, BNPB masih melakukan penanganan dampak gempa bumi Flores. Sebagian penyintas masih berada dalam proses pemulihan dan pemulangan ke tempat tinggal masing-masing.</p>
<p dir="ltr">Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan sistem penanggulangan bencana yang tidak hanya mampu merespons keadaan darurat, tetapi juga memiliki pembelajaran dan kesiapsiagaan berdasarkan pengalaman bencana sebelumnya.</p>
<p dir="ltr">Indonesia telah memiliki BNPB, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, akademisi, serta berbagai lembaga lain yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Indonesia juga memiliki regulasi yang mengatur penanggulangan bencana.</p>
<p dir="ltr">Karena itu, salah satu hal yang perlu terus dievaluasi adalah kualitas pelaksanaannya.</p>
<p dir="ltr">Mitigasi harus dipandang sebagai investasi, bukan sekadar program pelengkap. Pemetaan wilayah rawan bencana harus menjadi dasar kebijakan tata ruang. Sistem peringatan dini harus berfungsi hingga tingkat masyarakat. Infrastruktur perlu dibangun dengan mempertimbangkan risiko bencana. Pendidikan kebencanaan juga harus diperkuat, sementara pemerintah daerah perlu memiliki kapasitas yang memadai sebelum bencana terjadi.</p>
<p dir="ltr">Sebab, jika negara hanya hadir setelah bencana terjadi, negara akan selalu berada satu langkah di belakang bencana.</p>
<p dir="ltr">Korban Bukan Sekadar Penerima Bantuan</p>
<p dir="ltr">Cara pandang terhadap korban bencana juga perlu diubah. Mereka bukan sekadar penerima bantuan, tetapi warga negara yang memiliki hak atas perlindungan dan pemulihan.</p>
<p dir="ltr">Bantuan kebutuhan pokok memang penting dalam keadaan darurat. Namun, bantuan tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan penanggulangan bencana.</p>
<p dir="ltr">Keberhasilan seharusnya diukur dari kemampuan pemerintah memulihkan kehidupan masyarakat: korban mendapatkan tempat tinggal yang layak, anak-anak dapat kembali bersekolah, masyarakat kembali bekerja, fasilitas umum berfungsi, lingkungan dipulihkan, dan risiko bencana berikutnya dapat ditekan.</p>
<p dir="ltr">Negara juga perlu menghindari kesan bahwa bencana hanya menjadi momentum seremonial. Kehadiran pejabat dan penyaluran bantuan memang penting, tetapi perhatian terhadap korban harus terus berlanjut setelah sorotan publik mereda.</p>
<p dir="ltr">Jika masyarakat masih tinggal di tempat pengungsian, menunggu rumah, kehilangan pekerjaan, atau belum memperoleh kepastian pemulihan ketika pemberitaan mulai berkurang, maka pekerjaan pemerintah belum selesai.</p>
<p dir="ltr">Karena itu, pemerintah perlu membuka informasi secara transparan mengenai perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera, penggunaan anggaran, target pembangunan rumah dan infrastruktur, serta langkah pencegahan karhutla di Kalimantan.</p>
<p dir="ltr">Publik juga perlu mengetahui sejauh mana kesiapan pemerintah menghadapi potensi bencana berikutnya.</p>
<p dir="ltr">Bencana memang tidak selalu dapat dicegah. Gempa bumi tidak dapat dihentikan dan cuaca ekstrem tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Namun, kerentanan masyarakat dapat dikurangi, dampak dapat diminimalkan, kesiapsiagaan dapat ditingkatkan, dan proses pemulihan dapat dipercepat.</p>
<p dir="ltr">Karena itu, ketika bencana terus berulang, pertanyaan tidak boleh hanya diarahkan kepada alam. Negara juga perlu mengevaluasi kesiapan dan efektivitas kebijakannya.</p>
<p dir="ltr">Apakah kita benar-benar sudah siap?</p>
<p dir="ltr">Apakah anggaran sudah cukup dan tepat sasaran?</p>
<p dir="ltr">Apakah mitigasi sudah berjalan sebelum bencana terjadi?</p>
<p dir="ltr">Apakah pemulihan korban benar-benar menjadi prioritas?</p>
<p dir="ltr">Dan yang paling penting, apakah negara telah membangun sistem yang membuat masyarakat lebih aman dan lebih siap menghadapi bencana berikutnya?</p>
<p dir="ltr">Aceh belum sepenuhnya selesai dengan proses pemulihan pascabencana. Nusa Tenggara Timur kembali menghadapi ancaman gempa, sementara Kalimantan berhadapan dengan karhutla. Situasi tersebut seharusnya menjadi alarm bahwa Indonesia membutuhkan kebijakan kebencanaan yang semakin serius, terukur, dan berkelanjutan.</p>
<p dir="ltr">Bencana boleh berulang karena Indonesia memang berada di wilayah rawan bencana. Namun, kegagalan belajar dari bencana tidak boleh terus berulang.</p>
<p dir="ltr">Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan negara yang datang membawa bantuan setelah mereka menjadi korban.</p>
<p dir="ltr">Masyarakat membutuhkan negara yang bekerja sebelum mereka menjadi korban.(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketua PMI Sumut Dr. H. Rahmat Shah Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Daerah Bencana</title>
		<link>https://pers.news/2025/12/07/9042/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2025 15:58:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir dan Tanah Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Bantuan Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Distribusi Bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[Langkat]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggulangan Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[PMI Sumut]]></category>
		<category><![CDATA[Posko 24 Jam]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sibolga]]></category>
		<category><![CDATA[Tapanuli Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[TAPANULI TENGAH]]></category>
		<category><![CDATA[Truk Tangki Air]]></category>
		<category><![CDATA[Tun Dr. H. Rahmat Shah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=9042</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN&#124;PERS.NEWS-Untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Ketua PMI Sumatera...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="166" data-end="645"><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Ketua PMI Sumatera Utara Tun Dr. H. Rahmat Shah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke sejumlah wilayah, yaitu Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, Langkat, Medan, serta daerah lainnya. Pemberangkatan bantuan dilaksanakan pada Jumat, 5 Desember 2025, dari Markas PMI Sumut, Jl. Perintis Kemerdekaan, Medan.</p>
<p data-start="647" data-end="1153">Seperti diberitakan sebelumnya, Sumatera Utara dilanda bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor sejak akhir November 2025.</p>
<p data-start="647" data-end="1153">
<p data-start="647" data-end="1153">Bencana ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi, serta kerusakan infrastruktur yang meluas. Untuk membantu para korban, PMI Sumut mengirim berbagai jenis bantuan ke daerah-daerah yang berada dalam status tanggap darurat, termasuk Tapteng, Sibolga, Tapsel, Mandailing Natal, Langkat, Medan, Deliserdang, dan wilayah lainnya.</p>
<p data-start="1155" data-end="1784">Upacara pemberangkatan bantuan dilepas langsung oleh Tun Dr. H. Rahmat Shah pada Jumat malam (5/12/2025). Beliau didampingi oleh Wakil Ketua PMI Sumut Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP, Sekretaris PMI Sumut Eddy Siswanto, Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Novan Effendi Siregar, SE., MM., Bendahara PMI Sumut Amin Syahputra Pelis, SH., MH., serta sejumlah pengurus lainnya.</p>
<p data-start="1155" data-end="1784">Bantuan untuk Tapteng, Sibolga, dan Langkat diberangkatkan hari itu, setelah sehari sebelumnya bantuan untuk Tapanuli Selatan sudah dikirimkan. Sementara untuk wilayah Kota Medan, PMI Sumut bersama PMI Kota Medan telah menyalurkan bantuan sejak awal bencana.</p>
<p data-start="1786" data-end="2370">Bantuan yang dikirim berupa kebutuhan sehari-hari seperti beras, makanan siap saji, pakaian anak-anak, mi instan, obat-obatan, kain sarung, selimut, sabun, perlengkapan kebersihan, serta dua truk tangki air untuk wilayah Tapteng dan Sibolga. Dalam pelepasan bantuan tersebut, Rahmat Shah menegaskan pentingnya ketepatan sasaran dan ketepatan waktu dalam penyaluran. “Beri bantuan jangan tanggung-tanggung.</p>
<p data-start="1786" data-end="2370">Lakukan kebaikan sekecil apa pun, kepada siapa pun dan di mana pun berada,” ujarnya. Ia juga mengingatkan seluruh petugas dan relawan PMI untuk menjaga kesehatan selama bertugas.</p>
<p data-start="2372" data-end="2781"><strong data-start="2372" data-end="2405">Bantuan Mengalir ke PMI Sumut</strong><br data-start="2405" data-end="2408" />Sejak bencana terjadi, PMI Sumut membuka Posko 24 jam untuk melaksanakan evakuasi korban, mendirikan dapur umum, memberikan layanan Pemulihan Hubungan Keluarga (Restoring Family Links), serta melakukan asesmen lapangan. Dengan beroperasinya posko 24 jam, berbagai bantuan dari berbagai pihak terus mengalir ke PMI Sumut untuk kemudian disalurkan ke daerah-daerah terdampak.</p>
<p data-start="2372" data-end="2781"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-9044" src="https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251206-WA0094.jpg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251206-WA0094.jpg 1280w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251206-WA0094-400x225.jpg 400w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251206-WA0094-768x432.jpg 768w, https://pers.news/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251206-WA0094-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p data-start="2783" data-end="3318">Hingga berita ini ditulis, bantuan kemanusiaan diperoleh dari Tun Dr. Rahmat Shah sendiri berupa dukungan finansial untuk operasional penanggulangan bencana. Bantuan juga datang dari berbagai lembaga dan perusahaan seperti RSU Royal Prima, Sushi Mentai, Mandiri Jaya, Yayasan Welas Asih, PMI Kota Tanjungbalai, PT Mutualplus Global Resource, Unilever, Jamkrindo, Andy Opa Gaul/Yayasan Peduli Cinta Indonesia (YPCI), serta PT ASW Food Medan. PMI Pusat juga mengirimkan 20 unit truk tangki air lengkap dengan sopir serta bantuan lainnya.</p>
<p data-start="3320" data-end="3864"><strong data-start="3320" data-end="3350">Posko PMI Sumut di Sibolga</strong><br data-start="3350" data-end="3353" />Untuk membantu penanganan bencana di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, PMI Sumut mendirikan Posko di Kota Sibolga yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Bahdin Nur Tanjung, MM., sebagai Ketua Posko TDB Longsor dan Banjir Sibolga–Tapteng, dibantu oleh Kepala Markas PMI Sumut Ade Juliansyah, MM. Posko ini telah bekerja bersama para relawan dengan mengerahkan mobil tangki, satu unit mobil pickup, dan 15 personel untuk mendistribusikan lebih dari 5.000 liter air bersih ke berbagai wilayah di Tapteng dan Kota Sibolga.(IHB/NRD)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PB ISMI Peduli Bencana Salurkan Bantuan Obat-obatan, Air Mineral, dan Nasi Bungkus untuk Warga Korban Banjir di Kampung Dalam Tanjung Pura</title>
		<link>https://pers.news/2025/12/01/pb-ismi-peduli-bencana-salurkan-bantuan-obat-obatan-air-mineral-dan-nasi-bungkus-untuk-warga-korban-banjir-di-kampung-dalam-tanjung-pura/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2025 14:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Tanjung Pura]]></category>
		<category><![CDATA[Bantuan Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[DMDI]]></category>
		<category><![CDATA[IDI Langkat]]></category>
		<category><![CDATA[ISMI Peduli]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Langkat]]></category>
		<category><![CDATA[PB ISMI]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggulangan Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8896</guid>

					<description><![CDATA[TANJUNG PURA&#124;PERS.NEWS – Tim Relawan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) yang dipimpin...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="288" data-end="801"><strong data-start="288" data-end="304">TANJUNG PURA|PERS.NEWS</strong> – Tim Relawan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) yang dipimpin Sekjen Yanhar Jamaluddin, bekerjasama dengan Tim Relawan Mahasiswa STIM Sukma, STIKES Mitra Husada, Universitas Panca Budi (UNPAB), Institut Kesehatan Helvetia, IDI Langkat, Ade Darmawan Foundation, dan Walking Bananas Group, menyalurkan bantuan berupa obat-obatan, air mineral, nasi bungkus, serta kebutuhan lainnya untuk warga terdampak banjir di kawasan Perpus Kampung Dalam, Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.(1/12/25)</p>
<p data-start="803" data-end="1237">Hingga saat ini kawasan tersebut masih tergenang air setinggi sepaha hingga sepinggang orang dewasa. Kondisi tersebut mengakibatkan aktivitas warga lumpuh total, terlebih dengan padamnya aliran listrik dan terganggunya jaringan komunikasi berbagai operator selular.</p>
<p data-start="803" data-end="1237">Para warga pun terpaksa dievakuasi ke daerah yang lebih tinggi dan ditempatkan di posko-posko yang didirikan pemerintah maupun para relawan dan lembaga pemberi bantuan.</p>
<p data-start="1239" data-end="1383">Sekjen PB ISMI, Yanhar Jamaluddin, menyampaikan bahwa bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban dan kesedihan warga yang terdampak banjir.</p>
<blockquote data-start="1385" data-end="1633">
<p data-start="1387" data-end="1633">“Bagi keluarga besar PB ISMI, kegiatan ini menjadi motivasi untuk terus berbuat lebih baik dan bermanfaat. Namun yang lebih penting adalah tindakan pasca banjir ini: apa yang bisa kita lakukan berikutnya setelah musibah ini berlalu,” ujar Yanhar.</p>
</blockquote>
<p data-start="1635" data-end="1903">Di kawasan Perpus Kampung Dalam Tanjung Pura, PB ISMI memberikan obat-obatan, air mineral, serta nasi bungkus. Dalam pelaksanaannya, PB ISMI bekerjasama dengan PD ISMI Langkat yang juga diketuai Ketua IDI Langkat, dr. Agus Salim, serta Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).</p>
<blockquote data-start="1905" data-end="2309">
<p data-start="1907" data-end="2309">“Kami berharap bantuan obat-obatan ini dapat membantu mengatasi penyakit yang dialami warga selama banjir. Kebanyakan warga mengalami gatal-gatal dan demam masuk angin. Semoga bantuan ini bermanfaat dan warga tetap sehat. Ini bukan kepedulian pertama maupun terakhir.</p>
<p data-start="1907" data-end="2309">Kegiatan seperti ini akan terus kami lakukan demi membantu masyarakat yang membutuhkan,” jelas Yanhar bersama Tim ISMI Peduli Bencana.(Red)</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
