<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendidikan Inklusif</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/pendidikan-inklusif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Feb 2026 09:46:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Pendidikan Inklusif</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jejak Prof. Fadhil Lubis dalam Visi Multikultural YPSIM</title>
		<link>https://pers.news/2026/02/09/jejak-prof-fadhil-lubis-dalam-visi-multikultural-ypsim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2026 09:14:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Rahmatan Lil Alamin]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mikraj]]></category>
		<category><![CDATA[Multikulturalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Humanis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Prof Fadhil Lubis]]></category>
		<category><![CDATA[Sofyan Tan]]></category>
		<category><![CDATA[Toleransi Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[YPSIM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=10128</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Prof .DR. Azhar Akmal Tarigan,MA.g MEDAN&#124;PERS.NEWS-Suasana Aula Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM),...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;" aria-hidden="true" data-edge="true">Oleh : Prof .DR. Azhar Akmal Tarigan,MA.g</div>
<div aria-hidden="true" data-edge="true"></div>
<div aria-hidden="true" data-edge="true"></div>
<div aria-hidden="true" data-edge="true"></div>
<div aria-hidden="true" data-edge="true"></div>
<div class="pointer-events-none h-px w-px absolute top-0" aria-hidden="true" data-edge="true"><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Suasana Aula Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Medan, Minggu sore, 25 Januari 2026, terasa hangat dan khidmat. Pagelaran seni anak-anak dari TK hingga SMA mengisi peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Lantunan shalawat, musikalisasi puisi, dan ekspresi seni religius mengalir syahdu—sekilas lebih menyerupai pesantren daripada sekolah umum yang dikenal dengan semangat multikulturalnya.</div>
<div aria-hidden="true" data-edge="true"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-10129" src="https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242.jpg 1600w, https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242-400x225.jpg 400w, https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242-768x432.jpg 768w, https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242-1536x864.jpg 1536w, https://pers.news/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260209-WA0242-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></div>
<div class="flex flex-col text-sm keyboard-open:pb-[calc(var(--composer-height,100px)+var(--screen-keyboard-height,0))] pb-25">
<article class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" tabindex="-1" data-turn-id="request-WEB:6574c642-63ec-4718-ac78-19a68b20415e-2" data-testid="conversation-turn-4" data-scroll-anchor="true" data-turn="assistant">
<div class="text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @w-sm/main:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @w-lg/main:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)">
<div class="[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" tabindex="-1">
<div class="flex max-w-full flex-col grow">
<div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="56074fa7-ad84-4b3c-b6a8-7e1bafca1b49" data-message-model-slug="gpt-5-2">
<div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]">
<div class="markdown prose dark:prose-invert w-full wrap-break-word light markdown-new-styling">
<p data-start="666" data-end="716">Di sela acara itulah, percakapan bermakna terjadi.</p>
<p data-start="718" data-end="863">“Siapa profesor yang sangat concern pada multikulturalisme dan toleransi itu, Pak? Beliau sudah wafat beberapa tahun lalu,” tanya Pak Sofyan Tan.</p>
<p data-start="865" data-end="911">“Prof. Fadhil Lubis, Pak,” jawab saya spontan.</p>
<p data-start="913" data-end="1012">“Ha… iya! Prof. Fadhil Lubis,” serunya, seolah menemukan kembali kepingan penting dalam ingatannya.</p>
<p data-start="1014" data-end="1204">Saya menambahkan bahwa istri almarhum, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag, kini menjabat Rektor UIN Sumatera Utara. Pak Tan tampak terkejut. “Saya belum pernah berjumpa dengan beliau,” katanya pelan.</p>
<p data-start="1206" data-end="1395">Perhatian kami lalu kembali ke panggung. Anak-anak YPSIM dengan fasih melantunkan shalawat—sebuah penegasan bahwa religiusitas dan multikulturalisme bukanlah dua hal yang saling meniadakan.</p>
<p data-start="1397" data-end="1632">Pak Tan kemudian berkisah. Saat YPSIM berdiri, sekolah ini masih sangat sederhana, hanya sekitar tujuh ruang kelas. Di masa itulah ia mengenal Prof. Fadhil Lubis—intelektual Muslim lulusan UCLA, alumni madrasah dan IAIN Sumatera Utara.</p>
<p data-start="1634" data-end="1925">Keistimewaan Prof. Fadhil, menurut Pak Tan, bukan semata latar akademiknya, melainkan cara berpikirnya yang melampaui kelaziman sarjana agama pada masanya. Gagasan tentang multikulturalisme, pluralitas, toleransi, kerukunan antarumat beragama, hingga isu gender menjadikannya sosok visioner.</p>
<p data-start="1927" data-end="2234">Ketika YPSIM merekrut guru agama Islam, Pak Tan secara khusus meminta Prof. Fadhil terlibat dalam seleksi. Visinya jelas: guru agama harus inklusif, berpikiran terbuka, menghargai perbedaan, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Fondasi inilah yang kemudian mengakar kuat dalam sistem pendidikan YPSIM.</p>
<p data-start="2236" data-end="2523">Sejak awal, Pak Sofyan Tan—kini Anggota DPR RI—menanamkan visi keberagaman, toleransi, dan kemajuan bersama. Hal itu tercermin dalam komitmen YPSIM sebagai institusi pendidikan yang menjunjung inklusivitas dan pendidikan multikultural, termasuk melalui program anak asuh silang berantai.</p>
<p data-start="2525" data-end="2761">Saat saya dipanggil menyampaikan ceramah, dari atas panggung saya menyebut diri sebagai murid Prof. Fadhil Lubis—bukan hanya murid akademik, tetapi murid dalam keberpihakan pada pluralitas, isu gender, dan pembelaan terhadap kaum lemah.</p>
<p data-start="2763" data-end="3105">Dalam kesempatan yang sama, Pak Tan berbagi kisah tentang 7.000 anak asuh lintas agama yang ia bina. Ia menunjuk seorang siswi berjilbab yang melantunkan shalawat. “Istri saya ingin melihat anak asuh kami tampil,” ujarnya. Ia juga kerap melakukan sidak, memastikan tak ada anak yang berpakaian lusuh—semuanya harus belajar dengan bermartabat.</p>
<p data-start="3107" data-end="3274">Di YPSIM, anak-anak dari berbagai agama belajar bersama, rumah ibadah berdiri berdampingan, dan setiap potensi—termasuk seni budaya Islam—dikembangkan secara maksimal.</p>
<p data-start="3276" data-end="3465">Menjelang akhir acara, Pak Tan menyerahkan tiga buku kisah sukses anak asuh. Salah satunya kini menjabat Plt Camat di Medan. “Pak Sofyan Tan sudah seperti orang tua saya sendiri,” tulisnya.</p>
<p data-start="3467" data-end="3553">Sebelum berpisah, Pak Tan menatap saya dan berkata, “Bapak memang murid Prof. Fadhil.”</p>
<p data-start="3555" data-end="3669">Saya terdiam, terharu, dan berdoa semoga semua ini menjadi <em data-start="3614" data-end="3635">ilmun yuntafa’u bih</em> bagi almarhum Prof. Fadhil Lubis.</p>
<p data-start="3671" data-end="3691"><strong data-start="3671" data-end="3691">Lahu al-Fatihah.</strong></p>
<p data-start="3693" data-end="3927">Dalam hati, saya merasa kisah ini sejalan dengan tema Isra Mikraj hari itu: <em data-start="3769" data-end="3801">Dalam Perbedaan Kita Bertumbuh</em>. Sebab shalat, pada muaranya, adalah menebar salam—damai, rukun, kasih sayang—yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan:</p>
<p data-start="3929" data-end="3976"><em data-start="3929" data-end="3976">Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.</em></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</article>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Menuju Indonesia Emas 2045: Sekolah Rakyat sebagai Landasan Pendidikan Berkualitas&#8221;</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/19/menuju-indonesia-emas-2045-sekolah-rakyat-sebagai-landasan-pendidikan-berkualitas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2025 18:18:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Artinus Hulu]]></category>
		<category><![CDATA[Artinus Hulu Sekretaris umum Gmki masa bakti 2022-2024]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Emas 2045]]></category>
		<category><![CDATA[KSP (Kantor Staf Presiden)]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitas Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=7957</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Artinus Hulu &#160; JAKARTA&#124;PERS.NEWS-Sekolah rakyat adalah sekolah berkualitas untuk semua ala Presiden Prabowo...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 80px;">Oleh : Artinus Hulu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JAKARTA|PERS.NEWS-</strong>Sekolah rakyat adalah sekolah berkualitas untuk semua ala Presiden Prabowo Subianto dan peranan strategis Kantor Staf Presiden (KSP) dalam mengawal transformasi pendidikan nasional membangun sumberdaya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.</p>
<p>Visi pendidikan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bertumpu pada gagasan sekolah rakyat yaitu “Sekolah Berkualitas untuk Semua” sebuah aspirasi yang ingin memastikan bahwa setiap anak-anak Indonesia, tak peduli dari mana latar belakang sosial, ekonomi atau geografisnya, memperoleh akses pendidikan yang bermutu, inklusif, memadai dan merata.</p>
<p>Tujuan hadirnya sekolah rakyat ini yaitu untuk memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu, anak jalanan, anak yang mengalami permasalahan sosial, serta kelompok rentan lainnya, agar memperoleh hak dasarnya terhadap pendidikan. Sasarannya adalah kategori desil 1 dan 2 yang terdata di Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi paling ekstrim. Hal ini tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 tahun 2025, tahun ajaran 2025/2026.</p>
<p>Dalam kerangka ini, KSP muncul sebagai motor strategis yang mengawal pelaksanaan kebijakan agar tepat sasaran dan berkelajutan.</p>
<p>&#8221; Peran KSP dalam Transformasi Pendidikan &#8221;</p>
<p>Kantor Staf Presiden (KSP) berfungsi bukan hanya sebagai unit koordinasi tetapi sebagai &#8220;Delivery Unit&#8221; kebijakan prioritas Presiden memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan. Dengan demikian, peran KSP dalam pengawasan pendidikan menjadi sangat penting untuk menjembatani visi nasional dan realitas lapangan.</p>
<p>&#8221; Sekolah Rakyat Ala Presiden Prabowo &#8221;</p>
<p>Sekolah rakyat yang digagas dalam visi ini memiliki ciri khas antara lain: (a) berbasis komunitas lokal, (b) biaya terjangkau atau gratis bagi kelompok rentan, (c) kualitas pengajaran dan fasilitas yang layak, serta (d) terintegrasi dengan pengembangan karakter dan keterampilan.</p>
<p>Sekolah rakyat ini berbeda dari sekolah reguler dalam orientasi dan kebijakan aksesnya bukan sekadar mengikuti skema umum, tetapi diarahkan khusus untuk mengangkat mereka yang selama ini termarjinalkan dan hidup dalam kemiskinan ekstrim.</p>
<p>Jika kita perhatikan bersama, secara umum di Indonesia terdapat sekolah menengah yaitu: SMA (Sekolah Menengah Atas) yang bersifat akademik, SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang bersifat vokasi dan STM (Sekolah Teknik Menengah), yang historisnya teknis‑vokasi.</p>
<p>Sekolah rakyat yang digagas Presiden Prabowo di kawal oleh KSP, dapat bertransformasi sebagai sekolah alternatif yang memadukan aspek akademik dan vokasi, menjawab kebutuhan lokal dan menyediakan jalur pendidikan yang inklusif dan tidak eksklusif serta sasarannya bagi anak-anak yang putus sekolah<br />
untuk memotong garis kemiskinan keluarga.</p>
<p>Persamaannya adalah, bahwa semua jenis sekolah ini berfungsi sebagai penyedia pendidikan menengah dan pembentukan calon tenaga kerja/SDM unggul. Perbedaannya terletak pada akses dan orientasi: sekolah rakyat menekankan keterjangkauan, keberpihakan pada kelompok berpenghasilan rendah dan fleksibilitas kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan komunitas.</p>
<p>SMA/SMK/STM lebih terstruktur dan standar nasional, tetapi seringkali kurang menjangkau daerah pelosok dan wilayah tertinggal 3T serta keluarga miskin ekstrim.</p>
<p>&#8221; Apa Strategi Pemerintah Membangun Kualitas Pendidikan di Daerah 3T? &#8221;</p>
<p>Pemerintah melalui KSP dan kementerian terkait menetapkan strategi khusus untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yaitu: (1) pembangunan fisik sekolah dan fasilitas secara prioritas, (2) penerapan guru pamong atau guru kontrak lokal dengan insentif, (3) modul pembelajaran adaptif dan daring agar hambatan geografis terpecahkan, (4) skema beasiswa dan dukungan sosial bagi siswa miskin, dan (5) kemitraan dengan swasta dan LSM untuk mendukung inovasi pendidikan. Adapun metode strategi yang digunakan yakni dengan memanfaatkan teknologi terkini, seperti Learning Management System (LMS), Smartboard, dan laptop. Kurikulumnya menggabungkan standar akademik nasional dengan penguatan karakter untuk menjangkau anak-anak yang berada di daerah pelosok atau 3T.</p>
<p>Menurut data BPS, Partisipasi Pendidikan Tinggi (APK) di Indonesia tahun 2024 baru mencapai 32% untuk usia 19‑23 tahun. Hanya 10,2% dari penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikan di tahap perguruan tinggi.</p>
<p>Selain itu, laporan Jurnal Oxford menyebutkan bahwa sekitar 58,15 % penduduk Indonesia hanya menyelesaikan pendidikan hingga sekolah dasar atau bahkan tidak lanjut sekolah. Perbedaan antar provinsi sangat mencolok, DIY sebagai tertinggi di 73,9 % APK, sementara Papua berada di sekitar 12 %.</p>
<p>&#8221; Perbandingan Kualitas Pendidikan di ASEAN &amp; Dunia &#8221;</p>
<p>Dalam laporan UNESCO GEM Report 2023, teknologi dan akses menjadi pembeda utama kualitas pendidikan di Asia Tenggara. Indonesia masih tertinggal dibanding Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam metrik literasi dan numerasi.<br />
Jepang dan Finlandia menjadi acuan global, namun Indonesia harus memulainya dari akses inklusif dan kualitas pengajaran agar tak tertinggal dan merata.<br />
Menurut studi Alfaruqi dan Nurwahidah (2024), kualitas guru menjadi salah satu hambatan utama. Banyak guru madrasah masih terbatas kompetensinya dalam literasi dan numerasi. Infrastruktur sekolah di daerah 3T juga masih rendah akses listrik, koneksi internet, dan fasilitas dasar sekolah belum merata.</p>
<p>&#8221; Apa Peran KSP dalam Monitoring dan Evaluasi? &#8221;</p>
<p>Kantor Staf Presiden (KSP) dibawah kepemimpinan Muhammad Qodari, dalam kapasitasnya mengimplemen­tasikan sistem &#8220;Dashboard Pendidikan Nasional&#8221;, memantau progres sekolah rakyat, menyerap aspirasi masyarakat melalui kanal pengaduan dan memberikan rekomendasi kebijakan cepat dan tepat kepada Presiden. Dengan demikian, KSP menjadi “mata dan telinga” bagi Presiden dalam memastikan sekolah rakyat berjalan dengan baik.</p>
<p>Sekolah rakyat juga dapat menerapkan kurikulum adaptif yang mengombinasikan akademik dengan vokasi. Misalnya; pertanian modern di desa agraris, perikanan di wilayah pesisir, dan teknologi digital di kota kecil. Strategi ini bertujuan menjembatani dunia pendidikan dan kebutuhan industri lokal, sekaligus mengurangi kesenjangan antara sekolah umum dan sekolah vokasi.</p>
<p>Sebagai bagian dari misi Asta Cita pemerintahan, target pendidikan nasional adalah meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Data BPS menunjukkan peningkatan IPM Indonesia menjadi 74,15 tahun (usia harapan hidup) dan lama sekolah rata‑rata menjadi 13,21 tahun pada 2024. Sekolah rakyat yang berkualitas harus memberikan kontribusi signifikan terhadap indikator tersebut.</p>
<p>&#8221; Aksi Nyata dan Peranan KSP&#8221;</p>
<p>Pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas atau ujian nasional, melainkan instrumen keadilan sosial dan kemajuan sebuah bangsa. Dengan dukungan penuh Presiden Prabowo, pengawalan oleh KSP dan komitmen komunitas serta guru, “Sekolah Rakyat Yang Berkualitas untuk Semua” dapat menjadi landasan transformasi wajah pendidikan kita menuju Indonesia Emas 2045, bukan sekadar proyek nasional melainkan langkah menuju masyarakat yang lebih inklusif, berdaya saing, bermartabat dan keluar dari garis kemiskinan.</p>
<p>Sekolah rakyat harus menjadi impian nyata, bukan sekadar konsep saatnya seluruh pemangku kepentingan bersatu padu agar visi pendidikan yang inklusif dan merata bukan hanya impian, tetapi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang termarjinalkan.(Red)</p>
<p>Sumber : Artinus Hulu Sekretaris umum Gmki masa bakti 2022-2024</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
