<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Persatuan &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/persatuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 03:45:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Persatuan &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>GPPMI DKI Jakarta Serukan Deklarasi Damai, Jaga Persatuan dan Kondusivitas Jakarta</title>
		<link>https://pers.news/2026/08/26/gppmi-dki-jakarta-serukan-deklarasi-damai-jaga-persatuan-dan-kondusivitas-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 03:45:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Deklarasi Damai]]></category>
		<category><![CDATA[GPPMI]]></category>
		<category><![CDATA[GPPMI DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jaga Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jaga Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=13469</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA&#124;PERS.NEWS — Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Indonesia (GPPMI) DKI Jakarta menyerukan komitmen bersama untuk menjaga...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA|PERS.NEWS —</strong> Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Indonesia (GPPMI) DKI Jakarta menyerukan komitmen bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban, persatuan, dan kedamaian di wilayah Jakarta melalui Deklarasi Damai “Jaga Jakarta”, Senin (25/8/2026).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Deklarasi tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Perbedaan, Bergerak dalam Kedamaian” sebagai pesan kepada seluruh elemen pemuda dan masyarakat Jakarta agar senantiasa mengedepankan persatuan serta menjaga situasi kota tetap aman dan kondusif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Koordinator Daerah GPPMI DKI Jakarta, Anggiat Andreas Purwanto, menegaskan bahwa pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga Jakarta dari berbagai tindakan yang dapat memecah persatuan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jakarta adalah rumah kita bersama. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut menjadi alasan untuk melakukan provokasi, kekerasan, maupun tindakan anarkis. Aspirasi harus disampaikan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam deklarasi tersebut, GPPMI DKI Jakarta menyatakan sejumlah komitmen, yakni:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Menjaga perdamaian dan ketertiban Jakarta.</p>
<p>2. Menolak segala bentuk provokasi, kekerasan, dan tindakan anarkis.</p>
<p>3. Menghormati perbedaan pendapat serta menjaga persatuan.</p>
<p>4. Mengutamakan dialog, musyawarah, dan penyampaian aspirasi secara damai.</p>
<p>5. Menjaga fasilitas umum serta keamanan dan kenyamanan masyarakat.</p>
<p>6. Tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya.</p>
<p>7. Bersama-sama menjaga Jakarta agar tetap aman, damai, kondusif, dan harmonis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anggiat juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, khususnya di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Jangan sampai informasi yang tidak benar menjadi pemicu konflik di tengah masyarakat. Mari kita jaga Jakarta dengan sikap dewasa, saling menghormati, dan mengedepankan dialog.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut GPPMI DKI Jakarta, menjaga keamanan Jakarta bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Pemuda diharapkan menjadi bagian dari solusi dengan mengedepankan semangat persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>GPPMI DKI Jakarta juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga fasilitas umum, menghormati hak masyarakat lainnya, serta memastikan setiap penyampaian aspirasi berlangsung secara damai dan tidak mengganggu keamanan maupun kenyamanan warga.(Red)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“JAGA JAKARTA, JAGA PERSATUAN. DAMAI AKSI KITA, AMAN KOTA KITA.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>GPPMI DKI JAKARTA</p>
<p>Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anggiat Andreas Purwanto</p>
<p>Koordinator Daerah DKI Jakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda: Menyalakan Kembali Api Persatuan di Tengah Krisis Identitas Mahasiswa</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/30/sumpah-pemuda-menyalakan-kembali-api-persatuan-di-tengah-krisis-identitas-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2025 15:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Maju]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8254</guid>

					<description><![CDATA[                 Oleh:Alfi Armansyah &#160; MEDAN&#124;PERS.NEWS-Setiap tanggal 28 Oktober,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>                 Oleh:Alfi Armansyah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa ini kembali mengenang momen bersejarah: Sumpah Pemuda 1928, saat para pemuda dari berbagai daerah menyatakan diri satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—Indonesia. Namun, di tengah gegap gempita peringatan dan upacara seremonial, muncul satu pertanyaan yang perlu direnungkan oleh kita, para mahasiswa: apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup di dada generasi kampus hari ini?</p>
<p>Sebagai mahasiswa—yang sering disebut sebagai agent of change—kita sejatinya merupakan pewaris langsung semangat para pemuda 1928. Mereka berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan gagasan dan tekad untuk menyatukan bangsa yang tercerai oleh perbedaan suku, bahasa, dan kepentingan kolonial. Kini, perjuangan itu berubah bentuk. Lawan kita bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan mental—dari arus globalisasi, disinformasi, dan krisis kepedulian sosial.(30/10/25)</p>
<p>Ironisnya, banyak mahasiswa hari ini justru terjebak dalam individualisme dan pragmatisme akademik. Kampus seolah hanya menjadi tempat mengejar ijazah, bukan ruang membangun kesadaran kebangsaan. Padahal, semangat Sumpah Pemuda adalah tentang kesatuan visi dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan perubahan.</p>
<p>Mahasiswa masa kini harus berani menghidupkan kembali idealisme itu—dengan cara yang relevan untuk zaman ini. Bukan sekadar turun ke jalan tanpa arah, tetapi dengan memperkuat literasi, menegakkan integritas, dan mengawal kebijakan publik lewat kritik ilmiah dan inovasi sosial. Di era digital, “sumpah” kita bisa dimaknai sebagai komitmen untuk melawan hoaks, intoleransi, dan apatisme terhadap persoalan bangsa.</p>
<p>Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Mahasiswa masa kini harus menyalakan kembali api itu—menjadikannya energi untuk merajut solidaritas lintas kampus, lintas daerah, dan lintas ideologi demi Indonesia yang lebih adil, cerdas, dan berdaya.</p>
<p>Pada akhirnya, memperingati Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan janji di masa kini: bahwa di tangan pemuda—terutama mahasiswa—harapan Indonesia tidak akan pernah padam.(AA)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber :Alfi Armansyah Mahasiswa Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Jurnalis:Menjaga Kesadaran Bangsa</title>
		<link>https://pers.news/2025/10/28/sumpah-pemuda-dan-tanggung-jawab-jurnalismenjaga-kesadaran-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 07:04:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ILHAM HAZFI BATUBARA]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=8183</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ilham hazfi batubara  &#160; MEDAN &#124;PERS.NEWS- Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang tiga kalimat...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ilham hazfi batubara </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEDAN |PERS.NEWS-</strong> Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang tiga kalimat yang menyatukan Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.</p>
<p>Sumpah Pemuda tahun 1928 bukan sekadar seremonial sejarah. Ia adalah tanda bahwa anak muda saat itu sadar, kekuatan bangsa lahir dari persatuan dan kesadaran bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, hampir seabad kemudian, semangat itu harus kita hidupkan kembali — terutama oleh para jurnalis. Jika dulu pemuda menyatukan bangsa lewat semangat perjuangan, maka jurnalis hari ini menyatukan bangsa lewat berita dan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Media dan Semangat Persatuan di Era Digital</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya satu bahasa, satu suara untuk kemajuan bangsa. Dalam dunia media, itu berarti menjaga ruang publik dari hoaks, ujaran kebencian, dan berita yang memecah belah.</p>
<p>Di tengah derasnya arus informasi, tugas jurnalis kini bukan hanya cepat menulis, tapi bijak memilah dan menjernihkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebebasan pers adalah warisan perjuangan panjang. Namun di era media sosial, siapa pun bisa menyebarkan “berita” tanpa tanggung jawab. Maka, jurnalis sejati dituntut tetap berpegang pada etika, integritas, dan akurasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jurnalis, Penjaga Akal Sehat Publik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemuda 1928 menyatukan bangsa dengan semangat berpikir dan berani bersuara. Kini jurnalis memikul tanggung jawab serupa — menjaga nalar publik lewat informasi yang jujur dan mencerahkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi jurnalis bukan berarti berpihak pada pemerintah atau oposisi, tetapi berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat.</p>
<p>Jurnalis yang berani mengkritik demi kebaikan bersama adalah bentuk nyata dari semangat Sumpah Pemuda di masa kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa yang Menyatukan, Bukan Memecah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di zaman sekarang, berita bisa menjadi alat persatuan atau justru sumber perpecahan. Banyak media terjebak dalam polarisasi — ada yang condong ke politik, ada yang terperangkap kepentingan bisnis.</p>
<p>Padahal, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan: satu bahasa untuk persatuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam dunia jurnalisme, “satu bahasa” itu berarti bahasa yang menyejukkan, cerdas, dan membangun, bukan yang menyalakan api kebencian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penutup: Pena yang Menyatukan Bangsa</p>
<p>Sumpah Pemuda adalah semangat yang tak boleh padam. Ia hidup di setiap berita yang jujur, di setiap kalimat yang menyuarakan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi jurnalis berarti memegang pena yang bisa menyatukan atau memecah bangsa.</p>
<p>Maka, di tengah derasnya arus informasi, jurnalis harus menjadi kompas moral — memastikan Indonesia tetap berjalan di jalur persatuan dan kebenaran.(IHB)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
