<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Politik Sejuk</title>
	<atom:link href="https://pers.news/tag/politik-sejuk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Feb 2026 16:06:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.4</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Politik Sejuk</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yassir Ridho: Antara “Tukang Jahit” dan Jockey “Kuda Troya”</title>
		<link>https://pers.news/2026/02/09/10213/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2026 15:27:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Andar Amin Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Dinamika Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Golkar Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Golkar Sumut]]></category>
		<category><![CDATA[Hendri Yanto Sitorus]]></category>
		<category><![CDATA[Islah Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kekaryaan Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[Kuda Troya]]></category>
		<category><![CDATA[Musda XI Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Sejuk]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Tukang Jahit Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Yassir Ridho]]></category>
		<category><![CDATA[Zero Enemy Politics]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=10213</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN&#124;PERS.NEWS-Musda XI Golkar Sumut sudah selesai. Andar Amin Harahap terpilih secara aklamasi. Namun politik—seperti biasa—tak...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MEDAN|PERS.NEWS-</strong>Musda XI Golkar Sumut sudah selesai. Andar Amin Harahap terpilih secara aklamasi.</p>
<p>Namun politik—seperti biasa—tak pernah benar-benar selesai di palu sidang.</p>
<p>Di luar forum resmi, suhu masih hangat. Bahkan cenderung panas.<br />
Pendukung Hendri Yanto Sitorus dan pendukung Andar Amin Harahap masih menyimpan residu emosional. Sebagian belum sepenuhnya legowo. Isu pun bertebaran di ruang publik, dari yang berbisik sampai yang berteriak lantang.</p>
<p>Ada isu Andar Amin tak direstui Ketua Umum.<br />
Ada isu Musda ulang, mengulang luka Musda X tahun 2020.<br />
Narasi-narasi itu bergerak liar, menumpang di media, grup WhatsApp, hingga obrolan warung kopi.</p>
<p>Padahal, politik memang selalu demikian.<br />
Konotatif. Tentatif. Sulit ditebak.<br />
Hari ini tempe, besok kedelai.<br />
Belum berkilat, sudah berkalam.</p>
<p>Namun satu hal kerap dilupakan: politik tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia hidup dari dinamika yang sengaja diciptakan. Dari kepentingan yang saling bertemu—atau saling menabrak. Maka adagium lama kembali terasa relevan:<br />
musuh paling nyata sering kali justru datang dari dalam satu rumah.</p>
<p>Di tengah pusaran itulah nama Yassir Ridho mencuat.<br />
Bukan karena ia berteriak paling keras.<br />
Justru karena ia terlalu tenang.</p>
<p>Sebagian menuduhnya bermain dua kaki.<br />
Sebagian lagi menudingnya sebagai “jockey” bagi Kuda Troya bang Andar Amin Hrp.<br />
Tuduhan yang, jika ditimbang dengan rekam jejaknya, terasa lebih emosional ketimbang rasional.</p>
<p>Yassir Ridho bukan figur politik instan.<br />
Ia bukan kader yang lahir dari popularitas sesaat.<br />
Ia kader Golkar militan yang memahami betul makna karya dan kekaryaan—bukan sekadar jargon, tapi praktik.</p>
<p>Tahun 2020, ia pernah dimakzulkan dari Ketua Golkar Sumut.<br />
Isu miring datang silih berganti.<br />
Namun tak satu pun ia balas dengan dendam politik.</p>
<p>Satu kalimat yang sering ia ulang dalam berbagai podcast seolah merangkum sikap hidupnya:<br />
“Berpolitik seperlunya, berkawan selamanya.”<br />
Sebuah prinsip yang—sadar atau tidak—selaras dengan gagasan zero enemy.</p>
<p>Pada Pilkada Medan 2024, Yassir Ridho maju sebagai calon Wakil Wali Kota mendampingi Hidayatullah. Ia menawarkan gagasan konkret: menaikkan honor kepala lingkungan dan pembangunan yang berpusat di tiap lingkungan. Program yang diapresiasi, dinilai masuk akal, bahkan brilian.</p>
<p>Ia kalah secara elektoral.<br />
Namun tidak kalah secara nilai.</p>
<p>Karena bagi Yassir Ridho, politik bukan alat untuk mempertahankan kekuasaan.<br />
Ia adalah jalan panjang menuju kesejahteraan.</p>
<p>Beberapa bulan lalu, saat namanya ramai disebut bakal maju sebagai Ketua DPD Golkar Sumut, jawabannya justru mengejutkan:</p>
<p>“Tidak. Saya sudah pernah menang.”</p>
<p>Pernyataan itu bukan merendah.<br />
Ia adalah penegasan sikap.</p>
<p>Penunjukannya sebagai Ketua Harian DPD Golkar Sumut pun terasa pas. Lewat tangan dingin dan komunikasi politiknya, ormas-ormas sayap dan irisan partai yang sempat berjarak mulai kembali merapat. Lobi-lobi berjalan tanpa hiruk-pikuk. Musda digelar relatif kondusif.</p>
<p>Namun ironisnya, justru ketenangan itu memancing kecurigaan.</p>
<p>Sikap wait and see dibaca sebagai siasat.<br />
Kehadirannya di deklarasi dukungan 30 DPD Kabupaten/Kota dianggap keberpihakan mutlak.</p>
<p>Padahal politik tak selalu bisa dibaca dari pigura kamera.</p>
<p>Secara personal, Yassir Ridho juga bersahabat erat dengan H. Buyung—ayah Hendri Yanto Sitorus—kader lama Golkar. Relasi itu tak pernah putus oleh kontestasi.</p>
<p>Dan titik baliknya datang kemarin malam.<br />
Pertemuan Yassir Ridho dengan Sekjen Golkar Rolel Harahap dan Erni Ariyanti Sitorus—Ketua DPRD Sumut sekaligus adik Hendri Yanto Sitorus—menjadi penanda penting.</p>
<p>Rivalitas mencair.<br />
Andar Amin dan Hendri Yanto telah berkomunikasi.<br />
Islah mulai terbangun.<br />
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, pun telah menyampaikan ucapan selamat.</p>
<p>Sekali lagi, Yassir Ridho menunjukkan kelasnya.<br />
Bukan dengan manuver.<br />
Bukan dengan intrik.<br />
Melainkan dengan gesture dan komunikasi.</p>
<p>Ia tidak memecah.<br />
Ia merajut.</p>
<p>Karena itu, menyebut Yassir Ridho sebagai “Jockey Kuda Troya” jelas keliru.<br />
Ia lebih tepat disebut “Tukang Jahit”—<br />
yang menjahit ego,<br />
menyatukan luka,<br />
dan merawat Golkar sebagai rumah besar yang inklusif.</p>
<p>Dalam politik yang penuh kebisingan,<br />
figur seperti itu bukan ancaman.<br />
Ia justru kebutuhan.(VB)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
