<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Unila &#8211; Pers News</title>
	<atom:link href="https://pers.news/topic/unila/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pers.news</link>
	<description>pers.news - Informasi Terkini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2026 09:51:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://pers.news/wp-content/uploads/2025/10/cropped-1001363792-removebg-preview-100x100.png</url>
	<title>Unila &#8211; Pers News</title>
	<link>https://pers.news</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Unila Ingatkan Generasi Emas Ditentukan Sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan</title>
		<link>https://pers.news/2026/07/28/unila-ingatkan-generasi-emas-ditentukan-sejak-1-000-hari-pertama-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 09:43:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Perguruan Tinggi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=12758</guid>

					<description><![CDATA[PERS.NEWS &#8211; Universitas Lampung (Unila) mengingatkan bahwa cita-cita melahirkan Generasi Indonesia Emas 2045 tidak dapat...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><span style="font-size: 16px;">PERS.NEWS &#8211; Universitas Lampung (<a href="https://www.unila.ac.id/">Unila</a>) mengingatkan bahwa cita-cita melahirkan Generasi Indonesia Emas 2045 tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan kualitas pendidikan. Fondasi utamanya justru dibangun sejak anak berada dalam kandungan hingga memasuki usia dua tahun atau dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).</span></p>
<p>Pesan itu menjadi benang merah dalam Seminar Hari Anak Nasional bertajuk <em>Wujudkan Generasi Emas</em> yang digelar di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat Unila, Selasa, 28 Juli 2026.</p>
<p>Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan investasi terhadap anak harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, hingga pembentukan karakter. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan edukasi dan kajian ilmiah yang mampu menjawab tantangan pembangunan manusia.</p>
<p>&#8220;Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Karena itu, tumbuh kembang mereka harus dipersiapkan secara utuh, baik fisik, mental, emosional maupun sosial,&#8221; kata Lusmeilia.</p>
<p>Ia menilai keberhasilan mencetak sumber daya manusia unggul tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter anak.</p>
<p>Dalam seminar tersebut, narasumber dr. Zaraz Obella N.A., M.K.K., M.K.M., CBCFF., menekankan pentingnya pemenuhan gizi pada masa 1.000 HPK. Menurutnya, periode tersebut merupakan fase paling krusial yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.</p>
<p>Ia menjelaskan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang menjadi langkah sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.</p>
<p>Sementara itu, dr. Gusti Agung Putu Yogy Veda Ananta, M.Kes., mengingatkan bahwa pertumbuhan anak tidak boleh hanya dilihat dari aspek fisik. Orang tua juga harus memperhatikan perkembangan kemampuan berpikir, pengendalian emosi, komunikasi, hingga interaksi sosial anak.</p>
<p>Seminar yang turut menghadirkan Imam Masud, S.E., itu menjadi ruang berbagi gagasan antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat mengenai pentingnya membangun ekosistem yang ramah anak. Unila berharap hasil diskusi tersebut dapat mendorong lahirnya langkah-langkah nyata dalam memperkuat perlindungan anak serta meningkatkan kualitas pengasuhan di lingkungan keluarga.</p>
<p>Kegiatan itu juga dihadiri Kepala BPKHM Unila Dr. Budi Sutomo, M.Si., Kepala BUK Unila Indrayati Putri Idrus, S.H., M.H., serta pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unila. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran Kewirausahaan Harus Berubah, Riset Doktor Unila Hadirkan Model Pentahelix</title>
		<link>https://pers.news/2026/06/26/pembelajaran-kewirausahaan-harus-berubah-riset-doktor-unila-hadirkan-model-pentahelix/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2026 11:16:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Perguruan Tinggi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pers.news/?p=12388</guid>

					<description><![CDATA[PERS.NEWS &#8211; Pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi dinilai perlu bertransformasi agar mampu mencetak lulusan yang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p>PERS.NEWS &#8211; Pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi dinilai perlu bertransformasi agar mampu mencetak lulusan yang siap membangun usaha, bukan hanya memahami teori bisnis. Gagasan tersebut menjadi fokus penelitian doktoral di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (<a href="https://www.unila.ac.id/">Unila</a>).</p>
<p>Melalui ujian terbuka promosi doktor yang digelar di Aula K FKIP Unila, Jumat, 26 Juni 2026, Widya Hestiningtyas memperkenalkan Model Pentahelix Edupreneurship, sebuah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan kampus dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media dalam proses pembentukan jiwa kewirausahaan mahasiswa.</p>
<p>Penelitian itu dilatarbelakangi masih dominannya pembelajaran kewirausahaan yang berorientasi pada teori, sementara dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu berinovasi, membangun jejaring, dan menyelesaikan persoalan nyata.</p>
<p>&#8220;Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman belajar yang autentik. Mereka harus terlibat langsung dalam praktik kewirausahaan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga keterampilan yang dimiliki benar-benar terbentuk,&#8221; ujar Widya saat mempresentasikan disertasinya.</p>
<p>Penelitian menggunakan metode <em>Research and Development</em> (R&amp;D) dengan mengadopsi model Dick and Carey serta Borg and Gall. Implementasi dilakukan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Unila dan Program Studi Biologi UIN Raden Intan Lampung.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan model Pentahelix Edupreneurship efektif meningkatkan kemampuan berwirausaha mahasiswa. Selain memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan metode konvensional, mahasiswa juga menunjukkan peningkatan kemampuan bekerja sama, berpikir kreatif, dan menyelesaikan persoalan bisnis secara aplikatif.</p>
<p>Model tersebut dinyatakan layak diterapkan karena telah memenuhi aspek konseptual, struktural, dan operasional berdasarkan hasil penilaian para ahli.</p>
<p>Tidak hanya menghasilkan model pembelajaran baru, penelitian ini juga memperkaya pengembangan ilmu pendidikan dengan mengintegrasikan teori <em>social constructivism</em>, <em>connectivism</em>, dan <em>experiential learning</em> ke dalam pembelajaran kewirausahaan.</p>
<p>Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof. Dr. Sunyono, M.Si., yang memimpin sidang promosi doktor, memberikan apresiasi terhadap hasil penelitian tersebut. Menurutnya, inovasi pembelajaran seperti ini dibutuhkan perguruan tinggi untuk menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja dan industri.</p>
<p>Ia berharap hasil riset tersebut dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan pembelajaran kewirausahaan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi mahasiswa.</p>
<p>Dengan lahirnya model Pentahelix Edupreneurship, FKIP Unila berharap proses pembelajaran kewirausahaan semakin mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi melalui penciptaan usaha baru. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
