Penulis: Ndor Ganda Imam Pasaribu
Ketua Umum HMI Komisariat Saintek UINSU 2025–2026
MEDAN|PERS.NEWS- 04 Januari 2026 —Di tengah kemajuan era modern saat ini, kampus sejatinya dikenal sebagai ruang lahirnya ide, gagasan besar, pemikiran kritis, serta keberanian intelektual dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan. Kampus adalah pusat peradaban ilmu, tempat mahasiswa ditempa melalui kekuatan literasi, ketajaman argumen, dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Namun kini, tradisi mulia tersebut menghadapi kenyataan pahit: krisis literasi yang semakin nyata. Aktivitas membaca, berdiskusi, dan beraksi—yang dulu menjadi denyut nadi gerakan mahasiswa—perlahan memudar bahkan hampir menghilang. Budaya instan menggantikan proses belajar mendalam. Informasi singkat dari media sosial lebih digemari dibandingkan kajian serius dari buku-buku bermutu. Akibatnya, minat baca menurun, diskusi kehilangan substansi, dan kemampuan analisis semakin melemah.
Krisis literasi ini tidak hanya tampak dari rendahnya minat membaca, tetapi juga dari pola memahami pengetahuan yang serba dangkal. Banyak mahasiswa membaca hanya sekadar memenuhi tugas akademik, bukan untuk membangun pemahaman, memperluas wawasan, ataupun menumbuhkan kesadaran kritis. Jika keadaan ini dibiarkan, kampus berisiko kehilangan ruh intelektualnya—kehilangan perannya sebagai ruang pencerdasan dan pembebasan.
Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menghidupkan kembali budaya literasi di lingkungan kampus. Tradisi Baca, Diskusi, dan Aksi harus dipahami sebagai kebutuhan intelektual mahasiswa, bukan sekadar kewajiban formal. Hanya dengan memperkuat literasi, kampus dapat kembali menjalankan perannya sebagai ruang pembebasan, pengembangan peradaban, serta tempat lahirnya manusia yang merdeka dalam berpikir.
Sebab sejatinya, mahasiswa adalah insan merdeka.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, salah satu kader yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Saintek UINSU menghadirkan sebuah ikhtiar nyata: menyediakan dan menyalurkan berbagai bahan bacaan melalui sebuah wadah akses literasi. Koleksi bacaan yang tersedia mencakup tema sejarah, keindonesiaan, keislaman, filsafat, keperempuanan, dan berbagai referensi penting lainnya yang dapat diakses melalui tautan berikut:
https://bit.ly/Gandapasaribu_bloggspotbukubacaan
Wadah ini dihadirkan sebagai jembatan untuk mempermudah mahasiswa mengakses bacaan, sekaligus belajar secara lebih efektif, kritis, dan mandiri. Dengan memanfaatkan bahan bacaan tersebut, mahasiswa bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga melatih daya analisis, mempertajam nalar kritis, serta membangun keberanian menyampaikan argumen yang kokoh dan benar dalam melawan ketidakbenaran.
Maka dari itu, mari manfaatkan akses literasi ini sebagai langkah nyata menuju mahasiswa yang cerdas, berwawasan luas, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Jangan biarkan diri terjebak dalam apatisme dan pola pikir sempit.
Kita bisa, karena kita berani memulai.
Mahasiswa adalah agent of change menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa adalah manusia merdeka—dalam berpikir, bertindak, dan menyampaikan gagasan—tanpa tekanan siapa pun. Pengetahuan harus terus diperkuat, karena belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas.
Jadilah mahasiswa yang peduli terhadap realitas sosial. Jangan pernah memilih untuk apatis. Mari kobarkan kembali semangat BACA, DISKUSI, dan AKSI sebagai jalan menuju perubahan yang lebih baik. (NH)













