
Di sela acara itulah, percakapan bermakna terjadi.
“Siapa profesor yang sangat concern pada multikulturalisme dan toleransi itu, Pak? Beliau sudah wafat beberapa tahun lalu,” tanya Pak Sofyan Tan.
“Prof. Fadhil Lubis, Pak,” jawab saya spontan.
“Ha… iya! Prof. Fadhil Lubis,” serunya, seolah menemukan kembali kepingan penting dalam ingatannya.
Saya menambahkan bahwa istri almarhum, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag, kini menjabat Rektor UIN Sumatera Utara. Pak Tan tampak terkejut. “Saya belum pernah berjumpa dengan beliau,” katanya pelan.
Perhatian kami lalu kembali ke panggung. Anak-anak YPSIM dengan fasih melantunkan shalawat—sebuah penegasan bahwa religiusitas dan multikulturalisme bukanlah dua hal yang saling meniadakan.
Pak Tan kemudian berkisah. Saat YPSIM berdiri, sekolah ini masih sangat sederhana, hanya sekitar tujuh ruang kelas. Di masa itulah ia mengenal Prof. Fadhil Lubis—intelektual Muslim lulusan UCLA, alumni madrasah dan IAIN Sumatera Utara.
Keistimewaan Prof. Fadhil, menurut Pak Tan, bukan semata latar akademiknya, melainkan cara berpikirnya yang melampaui kelaziman sarjana agama pada masanya. Gagasan tentang multikulturalisme, pluralitas, toleransi, kerukunan antarumat beragama, hingga isu gender menjadikannya sosok visioner.
Ketika YPSIM merekrut guru agama Islam, Pak Tan secara khusus meminta Prof. Fadhil terlibat dalam seleksi. Visinya jelas: guru agama harus inklusif, berpikiran terbuka, menghargai perbedaan, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Fondasi inilah yang kemudian mengakar kuat dalam sistem pendidikan YPSIM.
Sejak awal, Pak Sofyan Tan—kini Anggota DPR RI—menanamkan visi keberagaman, toleransi, dan kemajuan bersama. Hal itu tercermin dalam komitmen YPSIM sebagai institusi pendidikan yang menjunjung inklusivitas dan pendidikan multikultural, termasuk melalui program anak asuh silang berantai.
Saat saya dipanggil menyampaikan ceramah, dari atas panggung saya menyebut diri sebagai murid Prof. Fadhil Lubis—bukan hanya murid akademik, tetapi murid dalam keberpihakan pada pluralitas, isu gender, dan pembelaan terhadap kaum lemah.
Dalam kesempatan yang sama, Pak Tan berbagi kisah tentang 7.000 anak asuh lintas agama yang ia bina. Ia menunjuk seorang siswi berjilbab yang melantunkan shalawat. “Istri saya ingin melihat anak asuh kami tampil,” ujarnya. Ia juga kerap melakukan sidak, memastikan tak ada anak yang berpakaian lusuh—semuanya harus belajar dengan bermartabat.
Di YPSIM, anak-anak dari berbagai agama belajar bersama, rumah ibadah berdiri berdampingan, dan setiap potensi—termasuk seni budaya Islam—dikembangkan secara maksimal.
Menjelang akhir acara, Pak Tan menyerahkan tiga buku kisah sukses anak asuh. Salah satunya kini menjabat Plt Camat di Medan. “Pak Sofyan Tan sudah seperti orang tua saya sendiri,” tulisnya.
Sebelum berpisah, Pak Tan menatap saya dan berkata, “Bapak memang murid Prof. Fadhil.”
Saya terdiam, terharu, dan berdoa semoga semua ini menjadi ilmun yuntafa’u bih bagi almarhum Prof. Fadhil Lubis.
Lahu al-Fatihah.
Dalam hati, saya merasa kisah ini sejalan dengan tema Isra Mikraj hari itu: Dalam Perbedaan Kita Bertumbuh. Sebab shalat, pada muaranya, adalah menebar salam—damai, rukun, kasih sayang—yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.













