Aksi ini menjadi bentuk protes terbuka terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai tak kunjung diperbaiki. Jalan-jalan berlubang yang tergenang air dimanfaatkan warga untuk memancing dan menanam jagung—sebuah sindiran nyata terhadap janji yang dianggap tidak terealisasi.
Salah satu warga, Andi Silalahi, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan yang sudah memuncak.
“Ini bentuk kritik keras. Jalan rusak hampir merata, tapi belum ada penanganan serius. Sudah banyak korban jatuh, kendaraan rusak, namun respons pemerintah minim,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Menurut warga, kondisi jalan yang rusak telah berlangsung lama dan berulang kali menyebabkan kecelakaan. Meski demikian, perbaikan dinilai belum menjadi prioritas.
Slogan “Jatagena” pun tak luput dari kritik. Warga menilai program tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Jalan tanpa genangan air hanya jadi slogan. Faktanya, banyak jalan justru berubah seperti kolam,” tambah Andi.
Melalui aksi ini, warga juga menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Dairi agar segera melakukan evaluasi dan perbaikan infrastruktur, khususnya jalan yang rusak. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukanlah yang terakhir jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah.
Kini, masyarakat menanti respons pemerintah daerah—apakah akan segera mengambil tindakan nyata atau membiarkan keluhan warga terus berlanjut.(Red)













