PERS.NEWS | Ada perpisahan yang terasa biasa, namun ada pula yang meninggalkan ruang hening penuh makna. Purna tugas Mulyadi Syukri, S.Sos, per 1 Mei 2026, adalah salah satu perpisahan yang tak mudah dilupakan.
Di usia 58 tahun, ia menutup perjalanan panjangnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Bandar Lampung, bukan dengan gemuruh, melainkan dengan ketulusan yang perlahan menggetarkan hati.
Puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan telah membentuknya menjadi sosok yang tidak hanya bekerja dengan pikiran, tetapi juga dengan perasaan. Pendidikan, bagi Mulyadi, bukan sekadar tugas administratif atau target capaian, melainkan amanah yang menyangkut masa depan banyak anak.
Selama kurang lebih dua tahun menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bandar Lampung, pria dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dalam penampilan, namun kokoh dalam prinsip.
Ia tidak mencari sorotan, tidak pula mengejar pujian. Namun dari balik kesederhanaannya, tersimpan ketegasan dan tanggung jawab yang tak tergoyahkan.
Langkahnya di bidang pendidikan bukan dimulai dari puncak. Sebelumnya, ia terlebih dahulu mengemban tugas sebagai Kepala Seksi Kelembagaan Pendidikan Dasar.
Dari sanalah ia belajar memahami denyut persoalan pendidikan dari dekat, tentang sekolah yang membutuhkan perhatian, tentang anak-anak yang menunggu kesempatan belajar, dan tentang harapan orang tua yang dititipkan pada sistem pendidikan.
Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak dasar.
“Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap masyarakat. Pemerintah harus hadir memberikan pelayanan terbaik,” kata dia, kalimat sederhana yang ia pegang teguh sepanjang pengabdiannya.
Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia menjalani setiap kata tersebut. Ia percaya bahwa pendidikan tidak bisa dibangun sendiri oleh pemerintah. Ada peran keluarga, ada dukungan masyarakat, dan ada kerja sama yang harus terus dirawat.
Di balik berbagai capaian dan kemajuan yang telah diraih, Mulyadi tetap memilih untuk berdiri di belakang. Ia tak pernah menganggap dirinya sebagai tokoh utama. Baginya, keberhasilan adalah milik bersama.
Kerendahan hati itulah yang justru membuat kepergiannya terasa lebih dalam.
Menjelang akhir masa jabatannya, tidak ada pidato panjang yang berlebihan. Ia hanya meninggalkan pesan yang sederhana yakni tentang pentingnya menjaga integritas, tentang bekerja sesuai aturan, dan tentang tetap setia pada tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah, tersimpan makna yang begitu kuat.
Kini, rutinitas yang selama ini mengisi hari-harinya akan perlahan berganti. Meja kerja, tumpukan berkas, dan ruang diskusi yang biasa ia tempati akan menjadi kenangan. Namun satu hal yang tidak akan pernah benar-benar pergi adalah semangatnya.
Mulyadi mengatakan bahwa dirinya tidak akan sepenuhnya meninggalkan dunia pendidikan. Ia masih ingin berbagi, masih ingin mendengar, dan masih ingin memberi, meski tidak lagi dalam jabatan.
Sebab baginya, pengabdian tidak mengenal batas usia maupun status.
Purna tugas ini bukanlah garis akhir, melainkan jeda dari perjalanan panjang seorang pengabdi senyap. Sosok yang mungkin tidak selalu terlihat di depan, namun perannya begitu terasa.
Dan ketika langkahnya kini beralih menjauh dari hiruk pikuk birokrasi, yang tertinggal bukan hanya kenangan, melainkan teladan.
Sebuah pengingat bahwa pengabdian yang tulus tidak akan pernah benar-benar selesai. (***)













