PERS.NEWS – Program Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP) Universitas Lampung  (Unila) kembali melahirkan lulusan berprestasi. Yusuf Arifin, mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer yang berasal dari keluarga petani, berhasil menyelesaikan kuliah hanya dalam waktu tiga tahun empat bulan dan diwisuda pada Periode VI Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu, 27 Juni 2026.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi ketika kesempatan terbuka.

Yusuf mengaku sejak awal memiliki target menyelesaikan kuliah lebih cepat agar dapat segera membantu perekonomian keluarga. Kesempatan memperoleh bantuan melalui jalur PMPAP membuatnya bisa fokus menjalani perkuliahan tanpa dibayangi persoalan biaya.

“Dari awal saya memang menargetkan lulus secepat mungkin. Saya ingin membalas perjuangan orang tua yang selama ini bekerja keras sebagai petani,” ujar Yusuf.

Dengan disiplin mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan seluruh mata kuliah sesuai rencana, Yusuf berhasil menamatkan studinya melalui Program Kelulusan Tepat Waktu (KTW) dalam waktu tiga tahun empat bulan.

Menurutnya, gelar sarjana yang diraih bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi menjadi langkah awal untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.

Ayah Yusuf, Sukarman, mengaku bangga melihat putranya berhasil menjadi sarjana. Selama ini, ia dan istrinya hanya mengandalkan hasil bertani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kami bersyukur karena Yusuf mendapat kesempatan kuliah melalui program dari Unila. Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat dan bisa mengubah masa depannya,” kata Sukarman.

PMPAP merupakan jalur khusus dalam Seleksi Mandiri Universitas Lampung yang ditujukan bagi calon mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Program tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen Unila dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat.

Keberhasilan Yusuf diharapkan menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya yang berasal dari keluarga sederhana, untuk terus berjuang meraih pendidikan tanpa menyerah pada keterbatasan ekonomi. (*)