MEDAN|PERS.NEWS– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menggelar forum akademik BICARA #10 (Dialog Intelektual, Solusi Aktual) pada Kamis, 4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kopi Pahit UINSU ini mengangkat tema “Inklusivitas dan Moderasi Beragama terhadap Mahasiswa Minoritas di Perguruan Tinggi Keagamaan: Pendidikan Setara untuk Semua (Kampus Nyaman dan Sehat)”.

Forum tersebut menjadi ruang dialog ilmiah yang menegaskan pentingnya penguatan nilai inklusivitas, moderasi beragama, serta terciptanya ekosistem kampus yang aman, nyaman, sehat, dan setara bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakangnya.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nisful Khoiri, M.Ag menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan harus menjadi pelopor dalam menghadirkan ruang akademik yang adil dan inklusif.
“Kampus harus menjadi ruang tumbuh yang menjamin kesetaraan, menghadirkan rasa aman akademik, serta memastikan tidak ada mahasiswa yang terpinggirkan oleh latar belakang apa pun. Inklusivitas adalah bagian dari tanggung jawab moral dan ilmiah perguruan tinggi,” ujarnya.
Sebagai narasumber BOPTN, Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A., menekankan bahwa moderasi beragama perlu diinternalisasikan dalam budaya akademik kampus.
“Moderasi beragama tidak boleh berhenti pada konsep, tetapi harus hadir dalam praktik keseharian kampus, dalam relasi sosial, dan dalam kebijakan akademik yang berpihak pada harmoni,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Muhammad Jailani, M.A. selaku pembahas menyoroti pentingnya desain pendidikan yang mampu menjamin kesetaraan akses dan pengalaman belajar bagi seluruh mahasiswa.
“Perguruan tinggi keagamaan harus memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa kecuali, mendapatkan ruang belajar yang setara, adil, dan bebas dari diskriminasi dalam bentuk apa pun,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D yang memberikan pandangan akademik terkait pentingnya penguatan ekosistem riset dan kolaborasi ilmiah dalam isu pendidikan serta moderasi beragama.
“Penguatan kajian akademik tentang inklusivitas harus terus didorong melalui riset kolaboratif lintas disiplin agar kampus tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga pusat produksi gagasan yang relevan dengan realitas sosial,” ungkapnya.
Diskusi berlangsung dinamis dan produktif di bawah arahan moderator Yummy Jumiati Marsa, M.Pd. Dengan kepiawaiannya memandu forum, setiap gagasan dan pandangan yang muncul dapat tersampaikan secara utuh dalam suasana akademik yang konstruktif.
Melalui pelaksanaan BICARA #10 ini, LP2M UINSU kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan riset, dialog akademik, dan pengabdian kepada masyarakat yang konsisten menghadirkan gagasan-gagasan transformatif demi terwujudnya kampus yang inklusif, moderat, dan berdaya saing global(Red)













