MEDAN|PERS.NEWS-18 Juni 2026 — Suasana ilmiah dan penuh antusiasme mewarnai pelaksanaan Diskusi #12 yang mengangkat tema “Spatial Epidemiologi Hipertensi Berbasis Geographic Information System (GIS) sebagai Strategi Penguatan Kebijakan Evidence-Based di Kabupaten Belitung”. Kegiatan ini diselenggarakan di MedanHall Kopi Pahit KKPRI UINSU, Kamis (18/6/2026), dan menghadirkan akademisi, peneliti, serta praktisi kesehatan masyarakat untuk mendiskusikan pemanfaatan teknologi spasial dalam pengendalian penyakit tidak menular.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya penguatan riset dan inovasi berbasis data dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Acara dipandu oleh moderator Dr. Ahmad Syukri Sitorus, yang mengarahkan jalannya diskusi secara dinamis dan interaktif. Dalam pengantarnya, ia menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dan bukti ilmiah dalam perumusan kebijakan kesehatan daerah, khususnya dalam mengatasi tingginya prevalensi hipertensi yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
Pada kesempatan tersebut, Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D. turut memberikan pandangan mengenai pentingnya integrasi teknologi GIS dalam pemetaan faktor risiko kesehatan. Menurutnya, analisis spasial memungkinkan para pengambil kebijakan mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi secara lebih akurat sehingga program kesehatan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Sebagai pembahas, Dewi Asgutina, S.Kep., Ners., M.Kes. menyampaikan berbagai perspektif terkait implementasi hasil penelitian ke dalam praktik pelayanan kesehatan dan kebijakan publik. Ia menekankan bahwa pemetaan spasial hipertensi dapat menjadi instrumen penting dalam mendukung upaya promotif dan preventif di tingkat masyarakat.
Diskusi ini juga menyoroti hasil penelitian yang didukung melalui skema BOPTN dengan peneliti utama Dr. Wasiyem, SST., S.Pd., M.Si. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Geographic Information System (GIS) mampu memberikan gambaran distribusi kasus hipertensi secara lebih komprehensif, termasuk hubungan antara faktor lingkungan, sosial, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.
Para peserta menyambut baik hasil kajian yang dipaparkan karena dinilai dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran di Kabupaten Belitung. Melalui pendekatan *evidence-based*, pemerintah daerah diharapkan mampu merancang strategi pengendalian hipertensi yang tidak hanya responsif terhadap kondisi lapangan, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan konstruktif. Para peserta sepakat bahwa pemanfaatan GIS dalam epidemiologi kesehatan masyarakat merupakan inovasi yang perlu terus dikembangkan guna mendukung transformasi sistem kesehatan yang berbasis data, bukti ilmiah, dan kebutuhan masyarakat.(Red)











