PERS.NEWS – Ruang ujian di Universitas Lampung (Unila) mulai dipenuhi peserta. Sebagian sibuk membaca kembali catatan, sebagian lagi menenangkan diri sebelum mengerjakan soal yang akan menentukan langkah mereka menuju bangku kuliah.
Di antara wajah-wajah penuh harap itu, ada Hanif.
Sekilas, tak ada yang berbeda. Ia duduk seperti peserta lainnya, menunggu giliran mengikuti Seleksi Mandiri Jalur Program Masuk Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP). Namun, hanya beberapa jam sebelumnya, pemuda asal Lampung Tengah itu baru saja terjatuh dalam kecelakaan lalu lintas.
Tangannya masih terasa perih. Motornya rusak. Tetapi ia tetap datang.
Bagi Hanif, ujian hari itu bukan sekadar seleksi masuk perguruan tinggi. Itu adalah kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Sebelumnya, ia telah mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Hasilnya belum sesuai harapan. Gagal bukan berarti selesai. Ketika Universitas Lampung membuka jalur PMPAP, semangatnya kembali tumbuh.
Program tersebut memberi kesempatan bagi putra-putri Lampung dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa biaya kuliah hingga lulus.
Harapan itu membuat Hanif rela meninggalkan rumah sehari lebih awal. Ia menginap di rumah seorang teman di Bandar Lampung agar tidak terlambat mengikuti seleksi.
Namun, pagi itu rencana berubah.
Saat mencari sarapan di kawasan Hajimena, motor yang dikendarainya bersenggolan dengan kendaraan lain. Tubuhnya terjatuh ke jalan. Kopling motor patah, bodi kendaraan rusak, dan luka menggores tangannya.
Dalam kondisi itu, ia justru memilih menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Ia meminta maaf kepada pengendara ojek online yang ikut terjatuh. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada saling menyalahkan.
“Beliau hanya mengingatkan supaya saya lebih berhati-hati,” kenang Hanif.
Setelah dibantu temannya membersihkan luka, ia segera bersiap menuju kampus. Rasa sakit masih ada, tetapi tekadnya jauh lebih besar.
Di ruang ujian, Hanif mencoba melupakan kejadian beberapa jam sebelumnya. Semua perhatian ia arahkan pada soal-soal yang ada di hadapannya.
Bekal latihan try out yang pernah diikutinya membuatnya sedikit lebih tenang.
“Sekarang tinggal berusaha semaksimal mungkin,” ujarnya.
Hanif memilih Program Studi Bisnis Digital sebagai pilihan pertama dan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan kedua. Ia percaya pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan keluarganya.
Kisah Hanif mengingatkan bahwa perjuangan meraih pendidikan tidak selalu diukur dari nilai ujian atau kecerdasan semata.
Ada perjuangan yang tidak pernah tertulis di lembar jawaban.
Ada luka yang tidak terlihat oleh pengawas.
Ada air mata yang tidak sempat jatuh karena seseorang memilih menyimpannya demi tetap fokus mengejar impian.
Di penghujung wawancara, Hanif meninggalkan satu kalimat yang mungkin sederhana, tetapi mampu mewakili perjalanan hidupnya hari itu.
“Tetap semangat saja. Apa pun yang terjadi, badai harus tetap dilewati.”
Kalimat itu menjadi penutup dari sebuah hari yang penuh cobaan. Sebab bagi Hanif, kemenangan sejati bukan hanya tentang dinyatakan lolos menjadi mahasiswa, tetapi tentang keberanian untuk tetap melangkah meski hidup sempat menjatuhkannya.













