EXCESS 2026 Unila Dorong Generasi Muda Percepat Transisi Energi Rendah Karbon


PERS.NEWS – Isu transisi energi tak lagi menjadi urusan pemerintah dan industri semata. Generasi muda mulai didorong mengambil peran melalui inovasi dan kolaborasi lintas negara.

Semangat itu mengemuka dalam Explosion of Chemical Engineering Study Activities (EXCESS) 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik (Himatemia FT) Universitas Lampung di Gedung Serbaguna (GSG) Unila, Minggu, 30 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Integrating Low-Carbon Innovation to Address Energy Transition Challenges Toward Net Zero”, kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dan generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara, seperti Jepang, India, Malaysia, dan Singapura.

EXCESS 2026 menjadi penyelenggaraan internasional untuk tahun kedua. Agenda tahunan Himatemia FT Unila itu dikemas melalui seminar dan kompetisi internasional yang menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai energi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Ketua Pelaksana EXCESS 2026, Iqbal Adit Tama, mengatakan persoalan transisi energi membutuhkan keterlibatan generasi muda, bukan hanya mengandalkan perkembangan teknologi.

“Kami percaya transisi energi tidak hanya tentang teknologi. Ini juga membutuhkan kreativitas, kolaborasi, dan aksi nyata dari generasi muda,” ujar Iqbal.

Seminar internasional menghadirkan Prof. Dr. Saidur Rahman dari Malaysia, Distinguished Research Professor sekaligus Kepala Research Centre for Nano-Materials and Energy Technology (RCNMET), Sunway University.

Prof. Saidur mengatakan transisi energi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, peningkatan kebutuhan energi, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta keterbatasan infrastruktur menjadi persoalan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Karena itu, menurut dia, transisi energi tidak bisa bergantung pada satu teknologi. Dibutuhkan inovasi rendah karbon yang terintegrasi dan mampu diterapkan dalam skala nyata.

“Transisi energi bukanlah adu cepat teknologi. Ini adalah adu cepat untuk berinovasi lebih cepat, berkembang lebih cepat, berintegrasi lebih baik, memproduksi secara lebih cerdas, berinvestasi lebih awal, membangun infrastruktur yang tangguh, serta mengembangkan keterampilan yang tepat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah hasil penelitian menjadi solusi yang dapat digunakan industri dan masyarakat. Target net zero, kata dia, harus dimulai dari langkah konkret berupa pengurangan emisi dan peningkatan efisiensi energi.

Tak hanya berbicara soal teknologi, EXCESS 2026 turut menyoroti pentingnya komunikasi sains. Hal itu dibahas dalam influencer talkshow bersama science communicator sekaligus food technologist Andrea Novita.

Sesi tersebut mengajak peserta memahami bagaimana isu ilmiah dan keberlanjutan dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat, khususnya generasi muda. (*)