MEDAN|PERS.NERS-Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini tidak hanya diisi dengan upacara dan seremonial.
Di jantung Kota Medan, tepatnya di Lapangan Merdeka, lahir sebuah gerakan nyata yang menggugah: aksi galang dana yang diinisiasi oleh mahasiswa putra daerah demi masa depan pendidikan anak-anak terdampak banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, 02/03/26.
Sejak pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, suasana Lapangan Merdeka berubah menjadi ruang solidaritas. Di tengah keramaian warga yang beraktivitas, para mahasiswa berdiri membawa semangat kemanusiaan mengajak, mengetuk hati, dan menggerakkan kepedulian.
Respons masyarakat pun luar biasa. Tanpa ragu, warga turut berpartisipasi, membeli produk, hingga memberikan donasi langsung sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan ini.

Aksi ini bukan sekadar penggalangan dana biasa. Lebih dari itu, ini adalah bentuk perlawanan terhadap keterbatasan pasca bencana yang mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak di daerah terdampak. Dana yang terkumpul akan difokuskan untuk penyediaan perlengkapan sekolah mulai dari buku, alat tulis, hingga kebutuhan penunjang belajar lainnya bagi anak-anak di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan wilayah sekitarnya.
Yang membuat gerakan ini semakin istimewa adalah pendekatan kreatif yang digunakan. Para mahasiswa menjual berbagai produk hasil olahan daur ulang, seperti alas kopi (lepek kopi), gantungan kunci berbentuk satwa kura-kura, harimau, orangutan, serta pot bunga dari limbah plastik.
Produk-produk ini tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga mengandung pesan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan sekaligus mendukung ekonomi kreatif lokal, termasuk hasil karya bank sampah dari Tapanuli Tengah.
Gerakan inspiratif ini dimotori oleh tiga organisasi putra daerah, yakni KAMPUSTA (Keluarga Mahasiswa dan Pemuda Sibolga–Tapanuli Tengah), Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan Sibolga–Tapanuli Tengah (GEMP2STA), dan komunitas literasi Ruang Baca Bambu.
Ketua KAMPUSTA, Irga Selamat Febrianggi Manalu, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan panggilan nurani generasi muda.
“Momentum Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah wujud nyata kepedulian kami bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua GEMP2STA, Sofyan Maulana Kasturi Hutagalung, menyoroti kondisi lapangan pasca bencana yang masih memerlukan perhatian serius.
“Kami melihat langsung bahwa saudara-saudara kita masih membutuhkan bantuan, khususnya untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak. Melalui aksi ini, kami ingin memastikan mereka tetap punya harapan untuk belajar dan meraih masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, gerakan ini tidak berhenti pada penggalangan dana. Para mahasiswa telah merancang langkah lanjutan berupa program pengabdian saat masa libur kuliah.
Rencananya, mereka akan turun langsung ke lokasi terdampak untuk membuka lapak baca, mengadakan kegiatan menggambar, serta memberikan pendampingan di posko hunian sementara (huntara).
Upaya ini diharapkan mampu memulihkan semangat belajar sekaligus menghadirkan ruang aman bagi anak-anak di tengah situasi sulit.
Aksi ini menjadi bukti bahwa kekuatan pemuda tidak hanya terletak pada gagasan, tetapi juga pada aksi nyata yang berdampak luas. Dari Lapangan Merdeka Medan, semangat gotong royong itu menyebar menghubungkan hati, menguatkan harapan, dan menegaskan bahwa pendidikan tetap harus berjalan, apa pun kondisi yang dihadapi.
Di tengah tantangan pasca bencana, gerakan ini hadir sebagai pengingat: bahwa selalu ada harapan ketika kepedulian tumbuh dan diwujudkan bersama.
Satu aksi, ribuan harapan dari putra daerah untuk masa depan Indonesia.(PR)














