PPDI Sumut dan Petisi Brawijaya Sumut Bergerak, Ajak Masyarakat Bantu Warga Sibolga–Tapteng yang Masih Berjuang Pulih

Lebih dari 10 bulan setelah bencana, persoalan pemulihan dan ekonomi masyarakat masih menjadi perhatian. Relawan membuka ruang bagi masyarakat, NGO, komunitas dan dermawan untuk ikut membantu.

MEDAN|PERS.NERS-Sejumlah relawan turun ke jalan menggalang donasi bagi masyarakat terdampak bencana di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Dengan membawa spanduk bertuliskan “Open Donasi Kemanusiaan”, para relawan mengajak masyarakat untuk menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki guna membantu saudara-saudara kita yang masih membutuhkan dukungan dalam proses pemulihan, tempat penggalangan dana aksi donasi di depan Podomoro Kota Medan, 08/09/26.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan yang mengangkat tema “Satu Donasi, Satu Harapan untuk Bangkit.”

Dalam dokumentasi kegiatan, sejumlah relawan terlihat membawa spanduk besar di tengah aktivitas masyarakat. Mereka juga menyampaikan informasi mengenai penggalangan dana kepada warga yang melintas.

Gerakan ini melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas yang tercantum dalam materi kampanye, di antaranya Penyelenggara yaitu Persatuan Pers Daerah Seluruh Indonesia (PPDI) Sumatera Utara dan Petisi Brawijaya Sumatera Utara, bersama sejumlah pihak pendukung lainnya.

Bagi para penggerak kegiatan, bantuan kepada masyarakat terdampak bencana tidak harus selalu dalam jumlah besar. Kepedulian dapat dimulai dari kemampuan masing-masing orang.

Pemulihan Belum Selesai

Bencana yang terjadi sebelumnya memang telah berlalu, tetapi dampaknya masih dirasakan oleh sebagian masyarakat.

Setelah masa tanggap darurat berakhir, warga harus kembali menata kehidupan mereka. Ada yang harus memperbaiki tempat tinggal, memenuhi kebutuhan keluarga, kembali mencari penghasilan, hingga menghadapi proses relokasi dan pemulihan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian para relawan untuk terus mengajak masyarakat agar tidak melupakan mereka yang masih membutuhkan bantuan.

Sebab, ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang, bukan berarti seluruh persoalan masyarakat yang terdampak juga telah selesai.

Soeandi Pratama: Ekonomi Masyarakat Juga Perlu Dipulihkan

Sementara itu, Soeandi Pratama Ketua Ruang Baca Bantu/Ruang Relawan Indonesia yang merupakan bagian dari panitia pelaksana gerakan kemanusiaan tersebut, mengatakan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk kepedulian bersama terhadap masyarakat yang masih menjalani proses pemulihan.

“Kami melihat saudara-saudara kita di sana masih sangat membutuhkan perhatian dan bantuan. Sudah lebih dari 10 bulan sejak bencana sebelumnya, namun masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk dampak bencana susulan dan proses relokasi untuk pemulihan,” ujar Soeandi.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya mengenai kondisi tempat tinggal, tetapi juga menyangkut kehidupan dan perekonomian keluarga yang belum sepenuhnya pulih.

“Pemulihan itu tidak hanya soal membangun kembali rumah atau tempat tinggal. Ekonomi masyarakat juga harus kembali berjalan. Banyak keluarga yang masih membutuhkan dukungan agar mereka bisa perlahan-lahan bangkit dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya,” katanya.

Soeandi berharap gerakan tersebut dapat mengajak lebih banyak pihak untuk ikut mengambil bagian, baik dari kalangan masyarakat, relawan, organisasi kemanusiaan, NGO, komunitas maupun para dermawan.

“Kami sangat membutuhkan kawan-kawan relawan, NGO, komunitas dan para dermawan lainnya untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita. Jangan melihat bantuan hanya dari besar atau kecilnya. Yang penting adalah kepedulian dan keikhlasan untuk membantu sesuai kemampuan,” ucapnya.

Tidak Hanya Donasi Uang

Selain bantuan dalam bentuk dana, masyarakat terdampak juga masih membutuhkan berbagai kebutuhan sehari-hari.

Soeandi mengatakan bantuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk pakaian layak pakai dan kebutuhan dasar masyarakat, dengan tetap menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

“Kami juga berharap bantuan tidak hanya dalam bentuk uang. Pakaian yang masih layak pakai, kebutuhan rumah tangga, perlengkapan untuk keluarga dan kebutuhan dasar lainnya juga sangat dibutuhkan. Tentunya bantuan tersebut akan lebih baik apabila disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” jelasnya.

Menurutnya, kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan yang besar.

“Mungkin bagi kita jumlahnya tidak seberapa, tetapi bagi saudara kita yang sedang dalam kondisi sulit, bantuan tersebut bisa sangat berarti. Karena itu kami mengajak siapa saja yang mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk ikut membantu,” ujarnya.

Dari Sedikit Menjadi Gerakan Bersama

Penggalangan donasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan beberapa orang saja. Para panitia berharap semakin banyak masyarakat mengetahui kondisi yang masih dihadapi warga terdampak dan kemudian ikut mengambil bagian.

Bantuan dapat diberikan melalui donasi, tenaga, barang maupun dengan membantu menyebarkan informasi mengenai kegiatan kemanusiaan tersebut.

Sebab, ketika satu orang membantu dan kemudian mengajak orang lain melakukan hal yang sama, kepedulian kecil dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih besar.

Soeandi mengatakan kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran pemerintah ataupun lembaga lain, melainkan menjadi bagian dari semangat gotong royong masyarakat.

“Harapan kami sederhana. Jangan sampai saudara-saudara kita merasa sendirian setelah bencana. Kami ingin mereka tahu bahwa masih banyak orang yang peduli dan mau berdiri bersama mereka dalam proses pemulihan ini,” tuturnya.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk kembali menghidupkan semangat berbagi di tengah masyarakat.

“Kalau kita bergerak bersama, Insyaallah bantuan yang kecil-kecil itu bisa menjadi besar. Satu orang mungkin hanya bisa membantu sedikit, tetapi kalau banyak orang melakukan hal yang sama, tentu manfaatnya akan jauh lebih besar bagi masyarakat,” pungkas Soeandi.

Pada akhirnya, gerakan “Satu Donasi, Satu Harapan untuk Bangkit” bukan hanya berbicara mengenai berapa banyak uang yang dapat dikumpulkan.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan setelah bencana membutuhkan waktu dan dukungan banyak pihak.

Bagi sebagian orang, menyisihkan sebagian rezeki mungkin merupakan hal kecil. Namun bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit, bantuan tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk kembali menjalani kehidupan.

Karena bencana mungkin telah berlalu, tetapi bagi sebagian penyintas, perjuangan untuk bangkit masih berlangsung. (PR)