LABUHANBATU|PERS.NEWS-Banyak orang meninggalkan harta, tetapi hanya sedikit yang meninggalkan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam konteks itulah sosok Alm. Dr. H. Amarulla Nasution, S.E., M.B.A. layak dikenang. Beliau membangun pendidikan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masyarakat luas.
Kemajuan suatu daerah tidak cukup dibangun melalui gedung-gedung megah dan infrastruktur semata. Kemajuan sejati dimulai dari pembangunan manusia yang berpendidikan. Oleh karena itu, jasa seorang pendiri perguruan tinggi tidak hanya diukur dari besarnya kampus yang berhasil didirikan, melainkan dari banyaknya anak-anak daerah yang memperoleh kesempatan mengubah hidup melalui pendidikan.
Bagi saya, di situlah letak makna perjuangan Dr. H. Amarulla Nasution. Beliau membuktikan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. Sebab, rumah yang baik—baik secara fisik maupun fondasinya—berawal dari pendidikan. Pendidikan adalah jalan menuju kehormatan dan kemapanan hidup.
## Siapa Sebenarnya Dr. H. Amarulla Nasution?
Dr. H. Amarulla Nasution lahir di Dusun Martopoan, Kelurahan Langga Payung, Kabupaten Labuhanbatu, pada 29 Juli 1943. Beliau merupakan putra pasangan almarhum H. Baginda Pinayungan Nasution dan almarhumah Hj. Sori Omas Hasibuan.
Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan asal Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, yang memiliki dedikasi besar dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat daerah.
Perjalanan pendidikannya tidaklah mudah. Keterbatasan ekonomi dan kondisi pendidikan pada masa itu membuat perjuangannya penuh tantangan. Pendidikan dasar hingga menengah beliau tempuh di kampung halamannya, sedangkan pendidikan tinggi diraih di luar daerah. Pada tahun 1971 beliau berhasil memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai pendiri Universitas Labuhanbatu, beliau meniti karier sebagai aparatur sipil negara. Jabatan yang pernah diembannya antara lain Direktur SMEA Negeri Tanjung Pura, Langkat, kemudian bertugas di lingkungan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, termasuk di Aceh. Kariernya sebagai PNS berakhir saat menjabat Kepala Kantor Wilayah Ditjen Binaguna Departemen Tenaga Kerja Provinsi Irian Jaya dengan pangkat Pembina Tingkat I (IV/b). Pada tahun 1981, beliau memilih mengundurkan diri atas permintaan sendiri.
Semangat belajar yang tidak pernah padam membawanya melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Beliau meraih gelar Master dan kemudian gelar Doktor di University of Georgia, Athens, dengan konsentrasi Manajemen Bisnis, masing-masing pada tahun 1989 dan 1993.
## Dari Pengalaman Pribadi Lahir Kepedulian terhadap Pendidikan Daerah
Pengalaman merasakan sulitnya memperoleh pendidikan tinggi membentuk karakter dan cita-cita besar dalam diri Amarulla Nasution. Beliau memahami bahwa mahalnya biaya pendidikan sering kali menjadi penghalang bagi anak-anak daerah untuk menggapai masa depan.
Karena itu, beliau memilih tidak hanya mengeluhkan keadaan, tetapi menghadirkan solusi. Jika harus menunggu negara memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan, prosesnya mungkin akan berlangsung lama. Maka, beliau mengambil langkah nyata dengan membangun lembaga pendidikan tinggi di kampung halamannya.
Menurut saya, pendirian perguruan tinggi tersebut bukan sekadar membangun sebuah institusi, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Beliau ingin memastikan bahwa anak-anak Labuhanbatu tidak lagi harus meninggalkan daerah hanya untuk memperoleh gelar sarjana.
## Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Labuhanbatu
Perjalanan menuju Universitas Labuhanbatu diawali dengan berdirinya sebuah yayasan pendidikan pada 21 Maret 2007 yang menaungi beberapa institusi pendidikan tinggi, yaitu STIE, STKIP, STIH, STIPER, dan AMIK Labuhanbatu.
Melalui proses panjang, seluruh institusi tersebut kemudian digabung menjadi Universitas Labuhanbatu yang resmi berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 658/KPT/I/2019 tanggal 29 Juli 2019.
Seiring perkembangannya, STIE bertransformasi menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, STIH menjadi Fakultas Hukum, STKIP menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sementara Fakultas Sains dan Teknologi hadir sebagai fakultas baru yang terus berkembang.
Semua pencapaian tersebut tentu bukan hasil yang diraih dalam semalam. Dibutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk mempertahankan, dan kesabaran untuk melihat hasilnya.
## Warisan Terbesar Bukan Sekadar Kampus
Menurut saya, terlalu sempit jika warisan Amarulla Nasution hanya dimaknai sebagai berdirinya Universitas Labuhanbatu.
Warisan terbesar beliau adalah budaya memanusiakan manusia melalui pendidikan. Beliau menghadirkan kesempatan bagi masyarakat memperoleh pendidikan tinggi dengan biaya yang relatif terjangkau tanpa kehilangan visi untuk terus meningkatkan kualitas.
Inilah perbedaan antara membangun untuk hari ini dan membangun untuk masa depan. Sebab pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi membentuk manusia yang bermartabat.
## Mengapa Pendiri Universitas Labuhanbatu Harus Dikenang?
Menghormati pendiri universitas tidak cukup melalui seremoni, penyebutan nama, ataupun ziarah. Semua itu memang penting sebagai bentuk penghormatan, tetapi penghormatan tertinggi adalah melanjutkan cita-cita yang telah beliau perjuangkan.
Jika dahulu Amarulla Nasution berjuang menghadirkan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Labuhanbatu, maka generasi hari ini harus berjuang meningkatkan mutu pendidikan tersebut.
Jika dahulu perjuangannya adalah membuka akses, maka perjuangan kita sekarang adalah memastikan kualitas.
Jika dahulu beliau membangun institusi, maka tugas kita hari ini adalah membangun reputasi, integritas, inovasi, riset, dan kompetensi. Universitas tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi harus menjadi tempat lahirnya pemikir kritis, pendidik, pengusaha, profesional, peneliti, dan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman.
Di situlah ukuran keberhasilan sebuah warisan pendidikan. Seorang pendiri bukan hanya meninggalkan bangunan, melainkan juga meninggalkan nilai-nilai, visi, dan standar moral yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
Karena itu, bagi saya, penghormatan paling tinggi kepada Dr. H. Amarulla Nasution bukanlah sekadar mengabadikan namanya dalam berbagai seremoni, melainkan menjaga kewarasan dunia pendidikan yang telah beliau rintis.
Sosok Dr. H. Amarulla Nasution boleh telah tiada, tetapi gagasan, semangat, dan pemikirannya tentang pendidikan harus tetap hidup.
Terima kasih kepada Alm. Dr. H. Amarulla Nasution, S.E., M.B.A. atas dedikasi dan pengabdiannya dalam membuka jalan bagi generasi bangsa, khususnya masyarakat Kabupaten Labuhanbatu, untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.(Red)
SigondrongDalamDiam
Seniman Labuhanbatu













