PERS.NEWS – Universitas Lampung (Unila) mengingatkan bahwa cita-cita melahirkan Generasi Indonesia Emas 2045 tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan kualitas pendidikan. Fondasi utamanya justru dibangun sejak anak berada dalam kandungan hingga memasuki usia dua tahun atau dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pesan itu menjadi benang merah dalam Seminar Hari Anak Nasional bertajuk Wujudkan Generasi Emas yang digelar di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat Unila, Selasa, 28 Juli 2026.
Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan investasi terhadap anak harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, hingga pembentukan karakter. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan edukasi dan kajian ilmiah yang mampu menjawab tantangan pembangunan manusia.
“Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Karena itu, tumbuh kembang mereka harus dipersiapkan secara utuh, baik fisik, mental, emosional maupun sosial,” kata Lusmeilia.
Ia menilai keberhasilan mencetak sumber daya manusia unggul tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter anak.
Dalam seminar tersebut, narasumber dr. Zaraz Obella N.A., M.K.K., M.K.M., CBCFF., menekankan pentingnya pemenuhan gizi pada masa 1.000 HPK. Menurutnya, periode tersebut merupakan fase paling krusial yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.
Ia menjelaskan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang menjadi langkah sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Sementara itu, dr. Gusti Agung Putu Yogy Veda Ananta, M.Kes., mengingatkan bahwa pertumbuhan anak tidak boleh hanya dilihat dari aspek fisik. Orang tua juga harus memperhatikan perkembangan kemampuan berpikir, pengendalian emosi, komunikasi, hingga interaksi sosial anak.
Seminar yang turut menghadirkan Imam Masud, S.E., itu menjadi ruang berbagi gagasan antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat mengenai pentingnya membangun ekosistem yang ramah anak. Unila berharap hasil diskusi tersebut dapat mendorong lahirnya langkah-langkah nyata dalam memperkuat perlindungan anak serta meningkatkan kualitas pengasuhan di lingkungan keluarga.
Kegiatan itu juga dihadiri Kepala BPKHM Unila Dr. Budi Sutomo, M.Si., Kepala BUK Unila Indrayati Putri Idrus, S.H., M.H., serta pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unila. (*)













