Unila Satukan Akademisi Nasional dan Internasional


PERS.NEWS – Ketahanan pangan dan kemandirian energi membutuhkan lebih dari sekadar potensi sumber daya. Keduanya menuntut inovasi yang dapat diterapkan, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi fokus Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) 2026 dan 1st International Conference on Agriculture for Food and Energy (I-CAFFE 2026) yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) di Hotel Grand Mercure Lampung, Selasa, 13 Oktober 2026.

Forum ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi pertanian dari berbagai daerah di Indonesia dan akademisi internasional untuk membahas penguatan riset dalam menghadapi perubahan iklim, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mengembangkan sumber energi terbarukan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Ayi Ahadiat, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

“Setiap inovasi perlu dinilai berdasarkan kelayakan penerapan, manfaat ekonomi, dan keberlanjutan lingkungannya,” ujarnya.

Menurut Ayi, kolaborasi antarperguruan tinggi diperlukan untuk mempercepat penerapan inovasi sekaligus memperluas manfaat penelitian. Pengembangan pangan, pengolahan residu pertanian menjadi bioenergi, serta inovasi biochar dan bioproduk merupakan sejumlah bidang yang berpeluang dikembangkan melalui kerja sama.

Ia berharap forum tersebut menghasilkan program nyata, mulai dari kolaborasi riset hingga pertukaran dosen dan mahasiswa serta pendampingan masyarakat yang terukur.

Dari sisi pembangunan daerah, Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Pemerintah Provinsi Lampung, Dr. Mulyadi Irsan, menekankan pentingnya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pembangunan dan penguatan daya saing komoditas pertanian.

Menurut Mulyadi, besarnya potensi pertanian Lampung perlu diimbangi kemampuan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Pertanyaannya, sejauh mana produktivitasnya sudah sukses sehingga ini bisa menjadi sebuah daya saing yang kuat,” katanya.

Ia menilai kenaikan harga pangan, perubahan iklim, dan tantangan krisis energi membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, riset perguruan tinggi diharapkan dapat mendukung pengembangan komoditas unggulan sekaligus mengoptimalkan sumber daya pertanian untuk energi terbarukan.

Mulyadi juga berharap hasil diskusi akademisi dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan berbasis riset, termasuk mendorong inovasi yang menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja.

Diketahui, lokakarya nasional dan konferensi internasional tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal FKPTPI, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, serta Dekan Fakultas Pertanian Unila, Dr. Kuswanta Futas Hidayat. Hadir pula para dekan dan wakil dekan perguruan tinggi pertanian dari berbagai wilayah Indonesia.

Sejumlah narasumber yang hadir secara langsung ialah Dr. Hiroaki Somura, Dr. Siti Norliyana Harun, dan Prof. Dr. Udin Hasanudin. Sementara Dr. Ashutosh Pathak dan Prof. Dr. Yoo Ji-ho mengikuti kegiatan secara daring. (*)