JAKSEL| PERS.NEWS – Rekan Indonesia menyoroti pola komunikasi publik terkait Hantavirus yang dinilai lebih banyak menonjolkan rasa takut dibandingkan edukasi mengenai pencegahan.
Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, mengatakan masyarakat perlu mendapatkan informasi kesehatan yang utuh, berimbang, dan berbasis edukasi, bukan sekadar narasi ancaman yang berpotensi memicu kepanikan.
“Ketika muncul isu virus baru, masyarakat sering kali langsung dibanjiri judul-judul yang menakutkan. Padahal publik juga membutuhkan penjelasan sederhana mengenai cara mencegah, mengenali risiko, dan melakukan penanganan awal secara tepat,” ujar Agung dalam keterangan pers di Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Agung, isu kesehatan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga bersinggungan dengan dinamika ekonomi, industri, media, dan arus informasi global.
Ia menjelaskan, Hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, termasuk gangguan pada paru-paru maupun ginjal. Namun, karakteristik penularannya berbeda dengan COVID-19. Beberapa jenis Hantavirus terutama berkaitan dengan paparan hewan pengerat dan tidak mudah menular antarmanusia.
Rekan Indonesia juga menilai isu penyakit menular perlu disikapi secara objektif. Menurut Agung, munculnya ancaman penyakit dapat meningkatkan kebutuhan terhadap riset, alat diagnostik, obat-obatan, hingga pengembangan teknologi kesehatan.
Meski demikian, ia menegaskan kritik terhadap aspek ekonomi industri kesehatan tidak boleh berkembang menjadi penolakan terhadap ilmu pengetahuan maupun upaya kesehatan masyarakat.
“Kita harus tetap objektif. Industri kesehatan memang memiliki kepentingan ekonomi, tetapi tenaga kesehatan dan ilmuwan juga bekerja untuk mencegah jatuhnya korban. Yang perlu dikritisi adalah bagaimana informasi kesehatan disampaikan agar tidak berubah menjadi produksi ketakutan massal,” katanya.
Agung menilai media modern terkadang lebih menonjolkan aspek sensasional karena informasi yang memicu rasa takut lebih mudah menarik perhatian publik. Kondisi tersebut, menurut dia, berpotensi membuat edukasi praktis mengenai pencegahan kurang mendapat ruang.
Padahal, langkah pencegahan terhadap Hantavirus antara lain berkaitan dengan kebersihan lingkungan, pengendalian populasi tikus, serta kehati-hatian saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
“Pencegahan virus Hanta sebenarnya sangat konkret. Menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta menggunakan pelindung saat membersihkan area yang terkontaminasi menjadi langkah penting yang harus dipahami masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kotoran atau urine tikus tidak dibersihkan dengan cara menyapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel terkontaminasi beterbangan. Menurutnya, area tersebut sebaiknya ditangani dengan metode pembersihan yang aman dan sesuai panduan kesehatan.
Selain itu, Rekan Indonesia mendorong pemerintah dan media untuk memperkuat edukasi kesehatan berbasis komunitas, khususnya di wilayah dengan persoalan sanitasi dan kepadatan permukiman yang dapat meningkatkan risiko paparan hewan pengerat.
Agung mengatakan pengalaman pandemi COVID-19 membuat masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap kemunculan penyakit atau virus baru. Karena itu, komunikasi publik dinilai perlu dilakukan secara rasional dan proporsional.
“Trauma pandemi membuat dunia mudah panik terhadap isu kesehatan baru. Karena itu, komunikasi publik harus tetap rasional dan proporsional. Kewaspadaan penting, tetapi masyarakat juga perlu diberi ketenangan dan pengetahuan yang jelas,” katanya.
Di akhir keterangannya, Rekan Indonesia mengajak masyarakat tetap waspada tanpa terjebak kepanikan maupun teori konspirasi. Edukasi kesehatan yang jernih, sederhana, dan mudah dipahami dinilai penting untuk membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan secara tepat.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya kabar tentang ancaman penyakit, tetapi juga panduan yang jelas tentang bagaimana tetap aman, sehat, dan tidak panik menghadapi situasi,” tutup Agung Nugroho.(PR)













