Dari Limbah Menjadi Material Fungsional, Mahasiswa Unila Kembangkan Adsorben Pewarna Tekstil


PERS.NEWS – Limbah tulang ikan dan sekam padi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dikembangkan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menjadi material fungsional untuk mendukung pengolahan limbah cair industri tekstil.

Inovasi tersebut dikembangkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Nanosorb.id Unila melalui sintesis biokomposit hidroksiapatit–silikon dioksida (HAp–SiO₂). Material tersebut dirancang sebagai adsorben untuk menjerap metilen biru, salah satu zat pewarna sintetis yang berpotensi mencemari badan air.

Riset ini berangkat dari persoalan pengelolaan limbah cair industri tekstil sekaligus potensi pemanfaatan limbah biomassa. Tim Nanosorb.id mengintegrasikan tulang ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) sebagai sumber hidroksiapatit (HAp) dan sekam padi sebagai sumber silikon dioksida (SiO₂).

Ketua Tim PKM-RE Nanosorb.id mengatakan pendekatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan dua persoalan lingkungan secara simultan, yakni meningkatkan nilai guna limbah padat dan mengembangkan material untuk remediasi air tercemar.

“Melalui pemanfaatan limbah tulang ikan sapu-sapu dan sekam padi, kami mengembangkan material biokomposit HAp–SiO₂ yang berfungsi efektif menjerap pewarna metilen biru. Langkah ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada limbah lokal yang terbuang, tetapi juga menghadirkan solusi ramah lingkungan untuk pengolahan air tercemar,” jelasnya, 10 September 2026.

Sintesis dan Karakterisasi

Dalam pengembangan material, tulang ikan sapu-sapu terlebih dahulu melalui proses pencucian, pengeringan, penghalusan, dan pengayakan. Bahan tersebut kemudian dikalsinasi pada temperatur 950 derajat Celsius untuk memperoleh bahan dasar hidroksiapatit.

Pada sisi lain, sekam padi diproses untuk memperoleh silika. Kedua material selanjutnya dipadukan menggunakan metode presipitasi basah.

Tim menerapkan variasi suhu kalsinasi 400, 600, dan 900 derajat Celsius. Variasi tersebut digunakan untuk mengkaji karakteristik material, khususnya struktur pori dan performa adsorpsi, sehingga dapat diketahui kondisi yang memberikan kinerja terbaik.

Untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai sifat material, penelitian dilengkapi sejumlah teknik karakterisasi. Scanning Electron Microscopy–Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) digunakan untuk menganalisis morfologi permukaan dan komposisi unsur.

Sementara itu, X-Ray Diffraction (XRD) digunakan untuk mengidentifikasi fase kristalinitas, sedangkan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi kimia pada material.

Karakteristik luas permukaan dan porositas biokomposit dianalisis menggunakan metode Brunauer–Emmett–Teller (BET). Parameter tersebut penting dalam mengevaluasi karakteristik material yang dikembangkan sebagai adsorben.

Kemampuan adsorpsi kemudian diuji menggunakan sistem batch. Konsentrasi metilen biru setelah proses adsorpsi dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis untuk mengevaluasi kinerja biokomposit dalam menjerap zat pewarna.

Laboratorium Menuju Prototipe

Riset Nanosorb.id tidak berhenti pada tahap sintesis dan karakterisasi material. Tim juga mengembangkan prototipe filter air fungsional sebagai luaran aplikatif penelitian.

Pengembangan prototipe tersebut menjadi tahapan penting untuk menghubungkan hasil penelitian material dengan kemungkinan penerapannya pada sistem pengolahan air limbah.

Melalui pendekatan tersebut, limbah tulang ikan dan sekam padi tidak lagi ditempatkan semata sebagai residu, tetapi sebagai sumber bahan baku material bernilai tambah.

Riset ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pendekatan sains material dapat dipadukan dengan prinsip keberlanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Pengembangan material berbasis limbah juga membuka peluang untuk menghasilkan teknologi pengolahan lingkungan yang lebih kontekstual dengan ketersediaan bahan baku di daerah.

Bagi Unila, inovasi Tim Nanosorb.id menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga merespons persoalan lingkungan secara konkret. (*)