Unila Jadi Ruang Kolaborasi 11 Negara, 160 Peserta Bahas Masa Depan Pembangunan Berkelanjutan


PERS.NEWS – Persoalan perubahan iklim, ketahanan pangan, kerusakan ekosistem pesisir hingga ketimpangan ekonomi menjadi perhatian dalam forum akademik internasional yang digelar Universitas Lampung (Unila).

Lebih dari 160 peserta dari 11 negara berkumpul dalam The 6th International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies (IICIS) 2026, Summer School 2026, dan Rapat Kerja Nasional Development Studies Association (DSA) Indonesia di Gedung A FISIP Unila, Rabu, 23 September 2026.

Mengusung tema Advancing Blue-Green Development: Interdisciplinary Responses to Global Challenges”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif keilmuan dalam merespons tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

Kegiatan juga diikuti secara daring melalui Zoom.

Rektor Unila Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan kompleksitas persoalan global membuat pendekatan lintas disiplin menjadi semakin penting.

Menurutnya, perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi hingga transformasi digital memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga membutuhkan respons yang tidak terpisah-pisah.

“Tema ini bukan sekadar pilihan intelektual, melainkan respons terhadap kenyataan bahwa tantangan global, perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja,” kata Lusmeilia.

Ia mengatakan kolaborasi perlu dibangun dengan mempertemukan ilmu sosial, politik, ekonomi, hukum, komunikasi, lingkungan dan teknologi.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam menyusun kebijakan maupun strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Lusmeilia menjelaskan, tema blue-green development membawa pesan bahwa pembangunan tidak seharusnya memisahkan aspek ekonomi, lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir perlu berjalan beriringan dengan prinsip pembangunan hijau yang menekankan perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular dan keadilan sosial.

“Blue-green development mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan daratan dan lautan, pertumbuhan dan keberlanjutan, inovasi dan keadilan sosial,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan membutuhkan kebijakan, praktik bisnis dan tata kelola yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Dia menuntut kita merancang kebijakan, praktik bisnis, tata kelola, dan perilaku kolektif yang mampu menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama komunitas pesisir dan kelompok rentan,” lanjutnya.

Duta Besar Kroasia untuk Indonesia Nebojša Koharović turut memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan.

Ia mengungkapkan bahwa Lampung menjadi provinsi pertama yang dikunjunginya ketika mulai menjalankan tugas sebagai Duta Besar Kroasia untuk Indonesia tujuh tahun lalu.

Saat itu, kerja sama antara Kroasia dan Unila baru mulai dirintis.

“Tujuh tahun lalu kami berada di ruangan yang berbeda, di gedung dan fakultas yang lain, dengan sekitar sepuluh orang dari Kroasia serta beberapa orang dari Universitas Lampung dan universitas lain di Indonesia. Saat itu kami memulai sesuatu yang tidak ada seorang pun tahu ke mana arahnya,” ujar Koharović.

Menurutnya, perkembangan kerja sama tersebut hingga mampu menghadirkan summer school dan konferensi internasional menunjukkan bahwa hubungan akademik dapat berkembang melalui proses yang berkelanjutan.

Ia juga mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga keberlangsungan kerja sama antara Kroasia dan Unila.

Koharović menilai forum seperti konferensi dan summer school memiliki arti penting di tengah dinamika hubungan internasional yang semakin kompleks.

“Hubungan internasional saat ini sedang bergerak ke arah yang bahkan kita sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara memperbaikinya. Karena itu, pertemuan semacam ini, baik disebut konferensi maupun summer school merupakan langkah yang tepat,” katanya.

Menurutnya, forum tersebut bukan hanya bermanfaat bagi akademisi, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun jejaring serta memahami berbagai persoalan dari perspektif internasional.

Dalam kegiatan tersebut, Koharović hadir bersama rombongan 15 profesor asal Kroasia.

Ia berharap pertemuan tersebut semakin memperkuat hubungan akademik sekaligus membuka peluang kerja sama baru antara institusi pendidikan di Kroasia dan Indonesia.

Kegiatan IICIS 2026, Summer School 2026 dan Rakernas DSA Indonesia turut dihadiri Rektor Unila Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, Dekan FISIP Unila Prof. Dr. Anna Gustina Z., S.Sos., M.Si., jajaran pimpinan FISIP Unila, para plenary speaker, serta peserta dari berbagai negara. (*)