FGD Perdana Tim Ekspedisi Patriot Dorong Akselerasi Pengembangan Jagung di Tomage

PAPUA BARAT|PERS.NEWS— Tim Ekspedisi Patriot yang diketuai Dr. Yani Maharani, S.P., M.Si., menggelar Focus Group Discussion (FGD) perdana untuk merumuskan strategi pengembangan jagung di kawasan transmigrasi Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

FGD tersebut mengangkat tema ”Akselerasi Jagung sebagai Bahan Pangan dan Pakan yang Bernilai Ekonomis Tinggi untuk Menunjang Kesejahteraan Masyarakat Bomberay–Tomage, Papua Barat”. Forum itu menjadi ruang untuk menghimpun informasi, pengalaman, persoalan, serta potensi pengembangan jagung dari berbagai pemangku kepentingan.

 

Keterangan foto: Tim Ekspedisi Patriot bersama para pemangku kepentingan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) perdana membahas strategi pengembangan komoditas jagung di kawasan transmigrasi Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses identifikasi lapangan yang sebelumnya dilakukan Tim Ekspedisi Patriot. Dari hasil pengamatan dan komunikasi dengan masyarakat, pengembangan pertanian di kawasan Tomage masih menghadapi sejumlah tantangan.

Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan kondisi lahan, ketersediaan air dan pupuk, pengelolaan kesuburan tanah, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian, hingga aspek pemasaran dan keberlanjutan usaha tani.

 

Melalui FGD, Tim Ekspedisi Patriot mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, penyuluh, petani, hingga pihak terkait lainnya. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyusun langkah pengembangan jagung yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

Pembahasan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Jagung juga dipandang sebagai bagian dari rantai nilai pertanian yang berpotensi dikembangkan sebagai komoditas pangan sekaligus bahan baku pakan.

 

Salah satu perhatian utama dalam diskusi adalah perlunya sistem budidaya yang sesuai dengan karakteristik wilayah Tomage. Hal itu mencakup pemilihan varietas, pengelolaan dan peningkatan kualitas tanah, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga penanganan pascapanen.

 

”FGD ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi merupakan titik awal untuk menyusun langkah konkret berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujar Dr. Yani Maharani.

 

Menurut Tim Ekspedisi Patriot, keberhasilan pengembangan jagung tidak semata-mata diukur dari peningkatan produksi. Keberlanjutan usaha tani juga membutuhkan dukungan ekosistem, mulai dari akses terhadap input produksi dan teknologi, pendampingan, kelembagaan petani, kepastian pasar, hingga keterhubungan antara sektor pertanian dan peternakan.

 

Dalam konteks tersebut, jagung dinilai memiliki peluang strategis karena dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus mendukung sektor peternakan melalui penyediaan bahan baku pakan. Pengembangan kedua sisi tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

 

FGD perdana ini sekaligus menjadi momentum bagi Tim Ekspedisi Patriot untuk memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan di daerah. Berbagai masukan yang diperoleh akan digunakan untuk memetakan persoalan, menentukan prioritas intervensi, serta merancang demplot dan strategi pengembangan jagung yang adaptif terhadap kondisi lokal.

 

Keberadaan demplot nantinya diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk menguji teknologi dan varietas yang sesuai, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi petani. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat, biaya produksi, serta pemanfaatan sumber daya lokal.

 

Ke depan, Kelompok Jagung Tim Ekspedisi Patriot berkomitmen melanjutkan identifikasi di berbagai kampung, menggali pengetahuan dan pengalaman petani, serta mengembangkan pendekatan yang berbasis pada kondisi nyata di lapangan.

 

Upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari transformasi pertanian di Tomage, dari aktivitas produksi menuju sistem agribisnis yang produktif, memiliki nilai tambah, dan berkelanjutan.

 

Sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi salah satu kunci agar potensi jagung di kawasan Bomberay–Tomage dapat berkembang secara optimal.(Red)