PERS.NEWS – Kesempatan mahasiswa untuk membangun karier kini semakin terbuka, termasuk hingga ke dunia kerja internasional. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan kompetensi, kemampuan bahasa, serta keberanian untuk beradaptasi.
Hal itu menjadi salah satu pesan dalam Engineering Career Expo (ECE) 2026 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Lampung(Unila), Jumat, 11 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula A2.1 lantai dua Dekanat FT Unila tersebut menghadirkan sosialisasi peluang pendidikan dan kerja di Jepang melalui program beasiswa karier PT Joyful Care Indonesia.
Dekan FT Unila Dr. Ahmad Herison, S.T., M.T., yang membuka kegiatan, mengatakan perubahan dunia kerja membuat mahasiswa perlu memiliki kesiapan yang lebih komprehensif.
Menurutnya, prestasi akademik tetap penting, tetapi belum cukup menjadi satu-satunya modal untuk memasuki dunia profesional.
“Dunia kerja saat ini sudah tidak mengenal batas negara. Tidak cukup hanya memiliki IPK tinggi. Kita harus bisa melengkapi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Yang utama adalah skill dan bahasa. Kita juga harus berani melawan rasa takut,” ujar Ahmad.
Ia mengatakan mahasiswa perlu memanfaatkan berbagai kegiatan pengembangan diri selama berada di perguruan tinggi. Pengalaman, keterampilan praktis, kemampuan berbahasa, dan keberanian mengambil kesempatan menjadi bagian dari proses membangun kesiapan karier.
“Kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan bekerja di luar negeri perlu dimanfaatkan mahasiswa sebagai bagian dari pengembangan kompetensi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Kerja Sama PT Joyful Care Indonesia Fitri Naulia memaparkan peluang kerja di Jepang sekaligus berbagai tahapan persiapan yang dapat diikuti mahasiswa maupun lulusan.
PT Joyful Care Indonesia memperkenalkan diri sebagai lembaga yang bergerak dalam pendidikan bahasa Jepang dan perekrutan tenaga kerja. Salah satu jalur yang diperkenalkan adalah kesempatan bekerja di Jepang melalui Visa Tokutei Ginou atau Specified Skilled Worker.
Salah satu program yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut yakni Joybridge, program pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan kerja yang diperuntukkan bagi calon tenaga kerja sektor konstruksi.
Melalui program tersebut, peserta dapat memperoleh beasiswa pelatihan dan pendidikan bahasa serta keterampilan tahap awal yang dilaksanakan secara daring.
Selain beasiswa, terdapat pula skema pinjaman biaya pendidikan dan pelatihan yang dapat dicicil setelah peserta bekerja di Jepang.
Skema tersebut menjadi salah satu alternatif pembiayaan bagi calon tenaga kerja yang ingin mengikuti proses persiapan, tetapi memiliki keterbatasan biaya.
Bagi BEM FT Unila, pelaksanaan ECE 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa persiapan memasuki dunia kerja dapat dilakukan sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. (*)











