BICARA #11 LP2M UINSU Dorong Penguatan Peran Tokoh Adat dalam Pengembangan Pariwisata Halal di Danau Toba

MEDAN | PERS.NEWS — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menggelar forum akademik BICARA #11 (Bincang Capaian Akademik dan Riset Ilmiah), Kamis (11/6/2026), di Hall Kopi Pahit KKPRI UINSU. Forum tersebut mengangkat tema “Penguatan Pemahaman Tokoh Adat dalam Pengembangan Pariwisata Halal Berbasis Moderasi Beragama di Kawasan Kaldera Danau Toba”.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk membahas sinergi antara nilai-nilai kearifan lokal, moderasi beragama, dan pengembangan pariwisata halal sebagai salah satu instrumen pembangunan berkelanjutan di kawasan Danau Toba. Forum tersebut sekaligus mempertegas komitmen UINSU dalam menghadirkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.

Dalam arahannya, Ketua LP2M UINSU, Prof. Dr. Nisful Khoiri, M.Ag., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata halal tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat lokal, khususnya tokoh adat, sebagai penjaga nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Pariwisata halal dan moderasi beragama bukanlah dua hal yang saling bertentangan dengan kearifan lokal. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ruang sosial yang harmonis, inklusif, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Prof. Nisful Khoiri.

Sebagai narasumber utama, Dr. Maraimbang Daulay, M.A., memaparkan hasil penelitian mengenai pentingnya peningkatan pemahaman tokoh adat dalam mendukung pengembangan pariwisata halal di kawasan Kaldera Danau Toba. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor pariwisata tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga oleh kesiapan sosial dan budaya masyarakat.

“Tokoh adat memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial. Keterlibatan mereka dalam memahami konsep moderasi beragama dan pariwisata halal akan memperkuat penerimaan masyarakat, sekaligus menjaga harmoni budaya yang menjadi daya tarik utama Danau Toba,” jelasnya.

Sementara itu, Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D., selaku pembahas, memberikan perspektif akademik mengenai pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengembangan destinasi wisata yang inklusif dan berkelanjutan.

“Pengembangan pariwisata masa depan memerlukan integrasi antara hasil riset, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat. Dalam konteks Danau Toba, penguatan kapasitas tokoh adat menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan pariwisata berjalan secara berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas budaya lokal,” ungkapnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan berbagai pandangan konstruktif terkait peluang dan tantangan pengembangan pariwisata halal berbasis moderasi beragama di kawasan Danau Toba. Para peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi turut memberikan tanggapan yang memperkaya jalannya forum.

Melalui penyelenggaraan BICARA #11, LP2M UINSU kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang produktif dan berdampak. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi ilmiah yang mendukung penguatan peran tokoh adat, pengembangan pariwisata halal, serta pengarusutamaan moderasi beragama sebagai fondasi pembangunan sosial yang harmonis dan berkelanjutan di kawasan Danau Toba.(Red)