Bukan Sampah Biasa, Mahasiswa KKN Kelompok XVII FE UNA Sulap Ampas Tebu Jadi Produk Bernilai Ekonomi

ASAHAN|PERS.NEWS—Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Hal itu diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok XVII Fakultas Ekonomi Universitas Asahan (FE UNA) Tahun 2026 melalui pemanfaatan ampas tebu menjadi arang dan briket.

Gagasan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan bertajuk “Ubah Limbah Jadi Bernilai, Mahasiswa KKN FE UNA Kenalkan Pembuatan Arang/Briket dari Ampas Tebu”, yang dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Desa Ofa Padang Mahondang, Kecamatan Pulau Rakyat, Kabupaten Asahan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dalam rangkaian KKN Kelompok XVII FE UNA. Mahasiswa tidak hanya memperkenalkan teknik pemanfaatan ampas tebu, tetapi juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap limbah yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai.

Ampas tebu yang merupakan sisa proses produksi diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan arang maupun briket. Jika dikelola dengan tepat, pemanfaatan tersebut dinilai dapat membantu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang pengembangan produk alternatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Ketua Kelompok KKN XVII, M. Haikal El Nur, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat melihat potensi limbah dari sudut pandang yang berbeda.

 “Kami ingin mengajak masyarakat melihat limbah, khususnya ampas tebu, dari sudut pandang yang berbeda. Sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa atau tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat dan berpotensi bernilai ekonomis.”

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan baru sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitar secara kreatif dan berkelanjutan.

Menurut Haikal, pelaksanaan KKN tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kewajiban akademik mahasiswa, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar bersama masyarakat sekaligus menghadirkan gagasan yang dapat memberikan manfaat.

 “Bagi kami, KKN bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi bagaimana ilmu yang kami miliki dapat memberikan manfaat dan meninggalkan gagasan yang bisa terus dikembangkan oleh masyarakat setelah kami menyelesaikan masa pengabdian,” ujarnya.Program tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Ofa Padang Mahondang. Kepala Desa Ofa Padang Mahondang, Julfirman Siagian, S.E., mengapresiasi inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN Kelompok XVII FE UNA.

Menurutnya, pemanfaatan ampas tebu menjadi arang atau briket merupakan gagasan sederhana yang dapat memberikan edukasi sekaligus membuka perspektif baru bagi masyarakat mengenai potensi ekonomi dari limbah.

 “Kami sangat mengapresiasi program yang dibawa mahasiswa KKN. Ini merupakan sebuah gagasan yang sederhana, tetapi memiliki manfaat yang besar. Ampas tebu yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah ternyata bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Julfirman.

Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperkenalkan mahasiswa tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Menurutnya, keberlanjutan program menjadi bagian penting agar inovasi tersebut benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

 “Kami berharap apa yang diberikan mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan hari ini saja. Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperkenalkan mudah-mudahan dapat diteruskan oleh masyarakat, sehingga ke depan bisa menjadi salah satu kegiatan produktif yang mendukung perekonomian masyarakat Desa Ofa Padang Mahondang,” katanya.

Pemanfaatan ampas tebu menjadi arang dan briket menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan apabila tidak dikelola dapat diarahkan menjadi bahan yang lebih bermanfaat.

Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi, gagasan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan upaya menciptakan nilai tambah melalui kreativitas, inovasi, pengolahan, dan pengelolaan yang tepat.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk memahami kondisi masyarakat serta mengimplementasikan pengetahuan akademik dalam kehidupan nyata. KKN menjadi ruang pertemuan antara teori yang dipelajari di kampus dengan persoalan dan potensi yang ditemukan di desa.

Melalui program tersebut, KKN Kelompok XVII Fakultas Ekonomi Universitas Asahan Tahun 2026 berupaya menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut mendorong lahirnya gagasan produktif.

Pada akhirnya, pemanfaatan ampas tebu menjadi arang dan briket tidak hanya berbicara tentang pengolahan limbah. Lebih jauh, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi dapat tumbuh dari sumber daya sederhana di sekitar masyarakat apabila dikelola melalui kreativitas, inovasi, dan pengetahuan yang tepat.(Red)