KONGRES JANGAN HANYA JADI ARENA ADU GERBONG, JADIKAN ADU GAGASAN

Oleh: Khoiruddin Harahap

Wakil Sekretaris Bidang IPTEK Cabang Lhokseumawe

 

ACEH|PERS.NEWS-Sebagai Wakil Sekretaris Bidang IPTEK Cabang Lhokseumawe, saya melihat Kongres bukan sekadar momentum pergantian kepemimpinan. Kongres merupakan ruang intelektual kader untuk memperdebatkan arah organisasi, menguji gagasan, serta menentukan masa depan HMI melalui proses musyawarah.(30/9/26)

Kongres seharusnya menjadi momentum penting untuk melihat kembali perjalanan organisasi, membaca tantangan zaman, dan merumuskan langkah HMI ke depan. Karena itu, kualitas sebuah Kongres tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang terpilih sebagai pemimpin, tetapi juga oleh sejauh mana proses Kongres mampu melahirkan gagasan dan arah perjuangan yang relevan dengan kebutuhan organisasi serta persoalan masyarakat.

Karena itu, menurut saya, Kongres harus dikembalikan sebagai ruang adu gagasan.

Perbedaan pilihan dan dukungan politik merupakan bagian dari dinamika organisasi. Setiap kader memiliki hak untuk menentukan sikap dan pilihan politik organisasinya. Namun, dinamika tersebut jangan sampai mengalahkan substansi mengenai gagasan, visi, program, serta masa depan HMI.

Kongres jangan berhenti pada pembicaraan mengenai siapa yang memiliki dukungan paling banyak, siapa yang berada dalam gerbong tertentu, atau siapa yang paling kuat secara politik. Lebih dari itu, kader harus diberikan ruang untuk mengetahui apa yang sebenarnya ditawarkan oleh setiap calon kepada organisasi.

Setiap calon harus diberikan kesempatan menjelaskan visi, gagasan, program, serta argumentasinya. Bukan hanya menyampaikan janji atau narasi umum, tetapi juga menjelaskan bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan dan apa langkah konkret yang akan dilakukan ketika mendapatkan amanah.

Di sisi lain, kader juga harus berani bertanya dan menguji setiap gagasan yang disampaikan.

Jangan hanya bertanya:

“Siapa yang kamu dukung?”

Mari mulai bertanya:

“Apa gagasanmu untuk HMI?”

“Apa solusi yang kamu tawarkan?”

“Bagaimana gagasan itu akan diwujudkan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena organisasi sebesar HMI membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki dukungan politik, tetapi juga memiliki gagasan yang mampu menjawab tantangan organisasi dan perkembangan zaman.

HMI hidup dalam situasi sosial yang terus berubah. Perkembangan teknologi, perubahan dunia pendidikan, transformasi digital, persoalan ekonomi, dinamika sosial-politik, hingga tantangan generasi muda merupakan bagian dari persoalan yang harus dibaca oleh kader.

Karena itu, Kongres seharusnya tidak hanya membicarakan siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga membicarakan **HMI seperti apa yang ingin dibangun setelah Kongres.**

Apa arah gerakan intelektual HMI?

Bagaimana HMI merespons perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan?

Bagaimana HMI memperkuat kualitas kaderisasi?

Bagaimana HMI tetap relevan dengan persoalan masyarakat?

Bagaimana HMI melahirkan kader yang mampu memberikan solusi, bukan hanya menjadi bagian dari perdebatan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini harus mendapatkan ruang dalam Kongres.

Bagi saya, inilah tradisi intelektual yang perlu diperkuat. Adu gagasan bukan berarti saling menjatuhkan. Adu gagasan berarti berani berbeda, berani berargumentasi, berani mengkritik, sekaligus berani menerima kritik.

Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus ruang dialog. Justru perbedaan merupakan bagian penting dari tradisi intelektual HMI. Selama perbedaan tersebut disampaikan dengan argumentasi dan dilakukan dalam koridor musyawarah, maka perbedaan dapat menjadi energi untuk memperkaya organisasi.

Kader HMI harus dibiasakan untuk tidak sekadar mengikuti arus dukungan. Kader harus memiliki keberanian untuk bertanya, membaca, menganalisis, dan menentukan sikap berdasarkan pertimbangan yang rasional.

Jangan sampai ukuran kualitas seorang calon hanya dilihat dari seberapa besar gerbong dukungan yang berada di belakangnya. Jumlah dukungan memang merupakan bagian dari dinamika politik organisasi, tetapi kualitas gagasan juga harus mendapatkan ruang yang sama.

Kongres tidak seharusnya hanya menjadi tempat menghitung jumlah gerbong dukungan.

Kongres harus menjadi tempat kader menguji kualitas gagasan dan arah perjuangan organisasi.

Sebab kepemimpinan tanpa gagasan akan kehilangan arah. Sebaliknya, gagasan yang baik membutuhkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkannya menjadi program dan tindakan nyata.

Karena itu, antara kepemimpinan dan gagasan tidak seharusnya dipisahkan. Kongres harus mempertemukan keduanya melalui proses dialog, debat, argumentasi, dan musyawarah.

Sebagai kader HMI, saya ingin melihat Kongres yang menghadirkan perdebatan yang sehat: argumentasi melawan argumentasi, gagasan melawan gagasan, dan visi melawan visi.

Bukan perdebatan yang dibangun untuk saling menjatuhkan, tetapi perdebatan yang bertujuan mencari gagasan terbaik bagi keberlanjutan organisasi.

Kita perlu menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi yang memungkinkan setiap calon diuji secara terbuka. Kader harus diberikan kesempatan untuk mengetahui cara berpikir, prioritas, serta solusi yang ditawarkan masing-masing calon.

Dengan demikian, proses pemilihan kepemimpinan tidak berhenti pada persoalan siapa yang mendapatkan dukungan, tetapi juga menjadi proses pendidikan politik dan intelektual bagi seluruh kader.

Pada akhirnya, Kongres bukan hanya tentang pergantian nama di struktur kepemimpinan. Kongres adalah tentang menentukan arah perjalanan organisasi.

Karena itu, mari menjadikan Kongres sebagai momentum untuk memperkuat tradisi intelektual, memperluas ruang dialog, dan membangun budaya organisasi yang menghargai argumentasi.

Mari berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.

Mari menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling menguji gagasan.

Sebab pada akhirnya, yang harus menjadi pemenang bukan sekadar seorang kandidat.

Yang harus menang adalah gagasan untuk masa depan HMI.(Red)